Media Asing Soroti Kesulitan Siswa dan Guru di Indonesia Belajar Online

Kompas.com - 15/09/2020, 10:41 WIB
Pak Guru Avan, seorang guru di pelosok Sumenep, mengajar siswanya dari rumah ke rumah karena siswanya tak memiliki perangkat untuk belajar online. Dok. Avan FathurrahmanPak Guru Avan, seorang guru di pelosok Sumenep, mengajar siswanya dari rumah ke rumah karena siswanya tak memiliki perangkat untuk belajar online.

KOMPAS.com - Sejak Maret 2020, Pemerintah Indonesia meminta semua sekolah memberlakukan sistem belajar dari rumah secara daring (online).

Kebijakan itu merupakan salah satu upaya untuk menekan laju penyebaran Covid-19 yang hingga hari ini di Indonesia tetap menyentuh angka ribuan kasus baru tiap harinya.

Namun, belajar daring menyimpan banyak ganjalan, terutama soal keterjangkauan sinyal seluler. Hal ini pun menjadi sorotan beberapa media asing. Salah satunya adalah New York Times yang menyoroti tiga siswi di Desa Kenalan, Yogyakarta.

Mereka harus mengendarai motor untuk mencari lokasi yang terjangkau oleh sinyal seluler. Tempat itu bukan kafe, balai, atau gedung lainnya, melainkan pinggiran jalan yang dilalui pesepeda motor yang hilir mudik.

Baca juga: Cara Beli Kuota Internet Belajar Online Telkomsel, XL, Axis, dan Tri

"Ketika sekolah meminta kami untuk belajar di rumah, kami kebingungan karena tidak ada sinyal di rumah," aku Siti Salma Putri Salsabila (13).

Upaya lebih ekstrem juga dilakuksan siswa lain si Sumatera Utara. Beberapa siswa rela memanjat pohon yang jauh dari desa mereka di pegunungan demi mendapat sinyal. Tidak cuma siswa, guru-guru pun mengupayakan berbagai cara untuk menyampaikan ilmu.

Beberapa guru di wilayah terpencil rela berjalan kiloan meter untuk mendatangi murid mereka agar bisa memberikan materi secara tatap muka.

Masalah tidak cuma berkutat soal sinyal, tetapi juga ketersediaan perangkat. Tidak sedikit keluarga yang hanya memiliki satu smartphone (ponsel pintar), kemudian digunakan putra-putrinya secara bergantian.

Demi Belajar Daring, Siswa Berburu Jaringan Internet ke Puncak Gunung dan PepohonKOMPAS.COM/JUNAEDI Demi Belajar Daring, Siswa Berburu Jaringan Internet ke Puncak Gunung dan Pepohon
Mereka pun harus menunggu orangtua mereka pulang dari kerja, berladang atau berjualan, dan baru bisa melihat tugas-tugas sekolah yang harus mereka kerjakan.

Selain New York Times, media online Arab News juga menyoroti soal masalah belajar daring di Indonesia. Dewi Listiani (14), seorang siswi kelas IX SMP, harus memajang ponselnya di dinding dapur rumahnya karena hanya titik itu yang terjangkau sinyal yang kuat.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X