Aplikasi Nafas Ukur Kualitas Udara Jabodetabek "Real-Time"

Kompas.com - 23/09/2020, 17:48 WIB
Kendaraan bermotor melintasi Jl. Prof. Dr. Satrio, Karet Kuningan, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGKendaraan bermotor melintasi Jl. Prof. Dr. Satrio, Karet Kuningan, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat.

KOMPAS.com - Aplikasi pengukur kualitas udara Nafas resmi diluncurkan. Aplikasi buatan Nafasaria Pte.Ltd ini bisa mengukur kualitas udara di wilayah Jakarta dan sekitarnya secara real-time.

Dalam keterangan di aplikasinya, Nafas bekerja sama dengan Airly untuk menanamkan 45 sensor kualitas udara yang tersebar di Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bogor.

Sensor tersebut bisa menahan panas, kelembaban, dan hujan di iklim tropis seperti Indonesia.
Sensor Airly PM2.5 yang dirancang dan diproduksi di Eropa, terbuat dari bahan stainless steel yang khusus dipasang untuk luar ruangan.

Baca juga: Aturan Baru Google untuk Tendang Aplikasi Penguntit dari Play Store

Sensor tersebut bertugas untuk mengukur berbagai polutan di udara, mengukur suhu, tekanan barometrik, kelembaban, dan tiga jenis particulate matter (PM), yakni PM1, PM2.5, dan PM10.

Beberapa fitur di aplikasi Nafas Indonesia yang menampilkan kualitas udara secara real-time, daftar kualitas udara di wilayah Jabodetabek, dan blog berisi artikel tentang kesehatan udara.Nafas Indonesia Beberapa fitur di aplikasi Nafas Indonesia yang menampilkan kualitas udara secara real-time, daftar kualitas udara di wilayah Jabodetabek, dan blog berisi artikel tentang kesehatan udara.

Nantinya, masing-masing titik lokasi sensor akan merekomendasikan aktivitas dan gaya hidup yang sebaiknya dilakukan berdasarkan kualitas udara saat itu. Selain itu, aplikasi juga akan menampilkan daftar kualitas udara dari beberapa kota untuk dibandingkan.

Aplikasi Nafas juga akan memberikan notifikasi apabila kualitas udara memburuk. Lokasi dengan kualitas sangat buruk akan ditandai dengan warna merah dengan keterangan "tidak sehat" dan imbauan untuk menyalakan air purifier atau pembersih udara di dalam rumah.

Sementara lokasi dengan kualitas cukup buruk akan ditandai warna oranye pekat dengan keterangan "tidak sehat" dengan imbauan untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan.

Lokasi dengan kualitas udara sedang ditandai kuning dengan keteragan "moderate". Wilayah dengan kualitas udara bagus akan ditandai dengan warna hijau.

Sayangnya, tanda itu tidak ada saat KompasTekno coba mengecek di daerah Jakarta Selatan, yang artinya tidak ada kualitas udara yang baik di daerah tersebut.

Masing-masing wilayah akan ditandai sesuai dengan kualitas udara saat itu. Nafas Indonesia Masing-masing wilayah akan ditandai sesuai dengan kualitas udara saat itu.

Masing-masing keterangan tersebut juga dilengkapi dengan air quality index atau indeks kaulitas udara (AQI) dan PM2.5.

Baca juga: Tak Perlu Ganti Aplikasi Gojek Saat ke Singapura, Thailand, dan Vietnam

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X