104 Juta Video Dihapus dari TikTok

Kompas.com - 24/09/2020, 08:06 WIB
Ilustrasi tiktok
TechSpotIlustrasi tiktok

KOMPAS.com - Di tengah kisruh akuisisi untuk bisnisnya di Amerika Serikat, TikTok mengumumkan laporan transparansi terbarunya. Media sosial yang dimiliki ByteDance  ini mengklaim telah menghapus lebih dari 104,5 juta video negatif selama semester-I 2020

Konten negatif yang dimaksud misalnya yang melanggar norma asusila, menampilkan kekerasan atau bunuh diri, dan melanggar hukum.

Menurut TikTok, video-video tersebut melanggar pedoman komunitas atau ketentuan pengguanaan lain. Dari total video yang diunggah, TikTok mengklaim pihaknya hanya menghapus sekitar satu persennya saja.

Baca juga: Dapat Restu Trump, Oracle Akan Jadi Pemilik Saham TikTok

Meski demikian, jumlah video negatif yang dihapus sebenarnya berlipat dua dibanding periode yang sama tahun lalu. Ketika itu, TikTok mengumumkan menghapus sebanyak 49 juta video.

Dirangkum KompasTekno dari Tech Crunch, Rabu (23/9/2020), TikTok mengklaim bahwa 96,4 persen dari konten negatif ini sudah dihapus sebelum dilaporkan oleh pengguna. Dalam melakukan penyaringan konten, TikTok banyak bergantung pada sistem otomatis.

"Sebagai dampak dari pandemi Covid-19, kami mengandalkan lebih banyak teknologi untuk mendeteksi dan secara otomatis menghapus konten-konten berbahaya di beberapa negara seperti India, Brasil, dan Pakistan," tulis TikTok.

Dalam rincian TikTok, untuk kategori video-video yang dianggap melanggar pedoman komunitas platform, sebanyak 30,9 persennya adalah video yang menampilkan ketelanjangan orang dewasa dan aktivitas seksual.

Baca juga: Trump Tak Izinkan Pembelian TikTok jika Oracle Tak Punya Kontrol Penuh

Kemudian 22,3 persen adalah video yang dianggap membahayakan anak usia dini dan 19,6 persen lainnya adalah video aktivitas ilegal. Sisanya adalah konten berisi perilaku menyakiti diri sendiri, kekerasan, ujaran kebencian, dan aktivitas individu berbahaya lainnya.

Negara dengan jumlah video terhapus paling banyak adalah India, yakni sebesar 37,6 juta.
Padahal TikTok dibokir di negara ini karena alasan politis negara tersebut. Negara kedua penyumbang video yang dihapus terbanyak adalah Amerika Serikat dengan total 9,8 juta.

Seiring popularitasnya yang menanjak, TikTok juga senasib dengan aplikasi video lain, seperti Instagram, Facebook, atau YouTube yang kerap menjadi wadah konten-konten negatif. TikTok sendiri kini memiliki lebih dari 700 juta pengguna secara global.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X