Wacana Balon Internet Google Loon di Indonesia dan Hambatannya

Kompas.com - 01/10/2020, 12:41 WIB
Autolauncher Google Project Loon GoogleAutolauncher Google Project Loon

KOMPAS.com - Google memiliki inisiasi untuk menyebarkan internet ke lokasi-lokasi terpencil di seluruh penjuru dunia. Sejak 2013 lalu, gagasan tersebut sedikit demi sedikit mulai direalisasikan. Dari gagasan itu kemudian lahirlah Project Loon.

Project Loon adalah proyek Google untuk membawa jaringan internet dengan wahana balon udara. Balon tersebut nantinya akan bertindak seperti sebuah satelit atau "BTS udara".

Balon yang kemudian dikenal sebagai Google Loon ini bisa bertahan di lapisan stratosfer selama 100 hari menggunakan tenaga surya.

Balon Google tersebut tidak mengganggu lalu lintas udara karena dapat terbang jauh di atas ketinggian jelajah pesawat komersial.

Baca juga: Sikap Indonesia, antara Google Loon dan OpenBTS

Balon ini diterbangkan ke lapisan stratosfer dengan jarak dua kali ketinggian pesawat terbang. Namun, ketinggian tersebut masih jauh di bawah jalur orbit satelit.

Dari sana, balon-balon Google akan tersambung internet service provider (ISP) di darat melalui spektrum frekuensi radio tertentu. Penggunaan frekuensi inilah yang kemudian menjadi batu sandungan untuk Google Loon.

Sinyal yang disalurkan melalui frekuensi radio, akan diteruskan ke balon-balon lain yang sama-sama terbang di langit dan berada dalam jangkauan.

Sambungan internet ini kemudian dipancarkan oleh tiap-tiap balon ke permukaan bumi secara nirkabel dan bisa ditangkap dengan menggunakan perangkat penerima khusus.

Dalam blog resminya pada 2013 lalu, Google mengklaim bahwa balon tersebut bisa memberi koneksi internet dengan area diameter 40 km. Kecepatan transfer data yang dihasilkan disebut setara dengan 3G. Kala itu 4G memang belum semasif sekarang, apalagi 5G.

Proyek ini diharapkan bisa memberi akses internet untuk masyarakat di daerah terpencil yang sulit dijangkau infrastruktur darat.

Memang, masalah geografis kerap menyulitkan pembangunan infrastruktur internet. Seperti hutan yang sulit ditembus, pegunungan, atau pulau-pulau yang dipisah oleh lautan.

Baca juga: Cakupan 4G di Indonesia Kurang dari Setengah Keseluruhan Wilayah

Kondisi ini juga jamak ditemukan di Indonesia. Bahkan di Indonesia ada wilayah yang kerap disebut sebagai daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

Oleh karena itulah Google menjadikan wilayah udara Indonesia sebagai salah satu target.

Uji coba terbang di Indonesia

Pertengahan 2014, aplikasi Flightradar24 mendeteksi balon Google masuk ke wilayah udara Indonesia. Balon tersebut terbang di selatan Pulau Sumatera, sekitar area Bandar Lampung dan bergerak ke arah timur.

Pada Maret 2015 Google Loon kembali terdeteksi terbang di Indonesia.
Balon helium dengan kode "HBAL436" itu terlihat melintasi laut jawa dengan ketinggian sekitar 20.400 meter dan bergerak dengan kecepatan 37 knot.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X