Wacana Balon Internet Google Loon di Indonesia dan Hambatannya

Kompas.com - 01/10/2020, 12:41 WIB
Autolauncher Google Project Loon GoogleAutolauncher Google Project Loon

Beberapa bulan setelahnya, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) periode 2014-2019, Rudiantara, memastikan bahwa Google Loon akan hadir di Indonesia.

Namun, kehadiran tersebut baru sebatas uji coba saja.

Balon Google tidak bisa begitu saja terbang di Indonesia. Google Loon harus mengikuti ketentuan yang berlaku, termasuk dengan menggandeng operator seluler di Tanah Air.

Rudiantara kala itu mengatakan sempat bertemu dengan pihak Google terkait penggunaan balon ini. Google disebut meminta izin untuk menggunakan frekuensi 900 Mhz dan 700 Mhz untuk uji coba, namun tidak dikabulkan.

Baca juga: OpenBTS Terlarang, Balon Internet Google Melenggang

Pasalnya, alokasi frekuensi 900 Mhz sudah digunakan untuk tiga operator seluler, sementara 700 Mhz masih digunakan untuk televisi analog.

Oleh karena itu, Google Loon harus masuk melalui existing player dengan cara merangkul operator seluler yang ada di Indonesia, bukan menggunakan alokasi spektrum sendiri.

Alhasil, uji coba Google Loon kemudian disepakati dengan menggandeng tiga operator seluler di Indonesia yakni Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat.

Uji coba tersebut digunakan menggunakan jaringan 4G LTE pada frekuensi 900 Mhz.

Jangka waktu pengujian tersebut dikatakan mencapai setahun. Setelah rampung, komersialisasinya membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun.

Jika benar-benar diadopsi, komersialisasi Google Loon di Indonesia seharusnya bisa dilakukan pada 2018 atau 2019.

Beda sikap pada Google Loon dan OpenBTS

Inisiasi untuk memperluas jaringan internet ke wilayah 3T di Tanah Air sebenarnya tidak hanya muncul dari Google Loon. OpenBTS yang diajukan atas inisiatif justru kurang mendapat dukungan pemerintah.

OpenBTS merupakan ukuran mini (downsizing) dari BTS reguler. Perangkat keras yang digunakan berupa universal software radio peripheral (USRP) untuk memancarkan sinyal jaringan standar seluler (GSM).

Terbentur regulasi

Peraturan Pemerintah (PP) nomor 52 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi dan PP nomor 53 tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit membuat Google Loon harus batal mengudara di Indonesia.

Baca juga: Balon Google Jangkau 100 Juta Penduduk Indonesia di Pelosok

Kedua PP tersebut berlandaskan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang mengamanatkan bahwa frekuensi adalah milik negara.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X