Kejahatan Siber di Indonesia Naik 4 Kali Lipat Selama Pandemi

Kompas.com - 12/10/2020, 07:02 WIB
Ilustrasi serangan siber. SHUTTERSTOCKIlustrasi serangan siber.

JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan pola hidup masyarakat Indonesia di masa pandemi Covid-19 yang cenderung lebih banyak mengandalkan internet ternyata turut berimbas pada kenaikan jumlah upaya serangan siber.

Berdasarkan data dari Badan Siber dan Sandi Negara ( BSSN), sepanjang bulan Januari hingga Agustus 2020, terdapat hampir 190 juta upaya serangan siber di Indonesia, naik lebih dari empat kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat di kisaran 39 juta.

Angka terbanyak dicatat pada Agustus 2020, di mana BSSN mencatat jumlah serangan siber di kisaran 63 juta, jauh lebih tinggi dibandingkan Agustus 2019 yang hanya di kisaran 5 juta.

Baca juga: Serangan Siber Meningkat Jelang Pilpres AS

Kasubdit Identifikasi Kerentanan dan Penilaian Risiko Infrastruktur Informasi Kritikal Nasional III BSSN, Sigit Kurniawan, mengatakan kenaikan tajam jumlah serangan siber di Indonesia dipengaruhi langsung oleh perubahan pola hidup masyarakat selama pandemi.

Karena pemakaian internet dan transaksi online semakin banyak, kata Sigit, pelaku kejahatan siber pun makin gencar melancarkan aksinya.

"Saat pandemi, orang-orang makin sering transaksi digital. Kenaikan transaksi digital memicu para penjahat makin banyak," ujar Sigit ketika dihubungi KompasTekno, Minggu (11/10/2020).

Data Jumlah Serangan Siber Januari - Agustus 2019/2020 Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional Data Jumlah Serangan Siber Januari - Agustus 2019/2020

Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) turut menunjukkan bahwa angka penggunaan internet di Indonesia selama pandemi memang meningkat hingga kisaran 40 persen.

Peningkatan itu tak lain disebabkan oleh kebijakan social distancing yang membuat warga bekerja, belajar, dan melakukan berbagai aktivitas lain dari rumah lewat sambungan internet.

Pusat penggunaan internet juga bergeser, dari tadinya berada di lingkungan perkantoran, kini menjadi lebih banyak di wilayah pemukiman. Pemakaian internet di daerah tertinggal turut naik sebesar 23 persen.

Baca juga: Aliansi Perangkat Lunak BSA Buka Konsultasi Keamanan Siber Gratis

Meskipun jumlah laporan serangan siber di Indonesia terkesan tinggi, Sigit menegaskan bahwa angka yang dicatat BSSN merupakan "upaya kejahatan", bukan serangan siber yang berhasil terjadi.

Sigit menjelaskan, salah satu parameter yang dinilai BSSN sebagai serangan siber adalah kegiatan peretas yang melakukan scanning pada port situs yang terbuka dengan mengirimkan paket SYN scan.

"Ada kegiatan yang tidak normal dan ini yang ditangkap oleh BSSN sebagai suatu serangan," pungkas Sigit.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X