Apakah Blokir Huawei Bakal Dicabut Setelah Trump Lengser?

Kompas.com - 08/11/2020, 19:43 WIB
Calon Presiden Partai Demokrat Joe Biden yang di ambang kemenangan Pilpres 2020 berbicara dari kota kediamannya, Wilmington, Delaware, Rabu (04/11/2020) Associated PressCalon Presiden Partai Demokrat Joe Biden yang di ambang kemenangan Pilpres 2020 berbicara dari kota kediamannya, Wilmington, Delaware, Rabu (04/11/2020)

KOMPAS.com - Politisi Partai Demokrat AS, Joe Biden dan wakilnya Kamala Harris memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat 2020. Biden dan Harris mendapatkan 290 suara elektoral dan dipilih oleh lebih dari 74 juta rakyat AS.

Kemenangan Biden tentu sedikit banyak akan membawa perubahan ke gaya politik luar negeri AS.  Selama empat tahun kepemimpinannya, Trump dikenal sangat sengit dengan pemerintah China.

Kedua negara itu pun terjebak dalam perang dingin teknologi yang belum mereda hingga kini. Sejumlah kebijakan ditelurkan untuk menjegal China, baik di Negeri Paman Sam sendiri maupun negara sekutunya.

Salah satunya adalah pembatasan hingga pemblokiran sejumlah teknologi buatan China, seperti teknologi buatan Huawei, TikTok, dan WeChat. Lantas, apakah nasib produsen China akan berubah di bawah kepemimpinan Biden?

Berubah, tapi tidak banyak

Menurut anggota kongres, Frank, kebijakan AS terhadap China di bawah Biden akan berubah dibanding Trump. Namun perubahan itu tidak serta merta "membebaskan" China dari pusaran konflik dengan AS.

Menurut Frank, Biden akan sedikit melunak dan perlahan melepaskan pembatasan ekspor teknologi ke China dengan imbalan konsesus tertentu dari Beijing, terutama untuk perusahaan teknologi di AS.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Namun melenyapkan kebijakan anti-Huawei secara sepihak tidak mungkin dilakukan di AS, bahkan jika dia (Biden) ingin melakukannya," kata Frank, seperti dirangkum dari Asia Times.

Kebijakan sama, implementasi berbeda

Sentimen anti produk teknologi China kemungkinan sudah terbentuk di benak para pemimpin AS.

Dalam sebuah survei yang dipublikasikan Center for Strategic and International Studies (CSIS), 71 persen pemimpin di AS meyakini bahwa perusahaan China harus dilarang untuk berpartisipasi dalam pasar 5G di AS.

Lebih dari separuhnya, mengatakan bahwa Washington harus melarang semua ekspor China.

Penasihat senior bidang Bisnis China dan Ekonomi dari CSIS, Scott Kennedy, mengatakan bahwa Biden butuh membuat kebijakan yang memadukan antara kerja sama dan tekanan kepada Beijing.

Huawei Harmony OSdigitaltrends.com Huawei Harmony OS
Kennedy mengatakan, Biden bisa saja mengadopsi sedikit cara Trump. Seperti mengontrol ekspor dan pembatasan investasi. Kendati demikian, implementasinya bisa saja berbeda.

"Orang-orang perlu memahami bahwa kebijakan AS sangat terpengaruh oleh apa yang dilakukan pemerintah China. Jika China melanjutkan kebijakan yang mereka implementasikan sekarang,... dengan rencana 5-15 tahun ke depan (dalam bidang iptek), strategi itu akan menimbulkan respons negatif dari AS dan pihak lain," jelas Kennedy, dirangkum dari Nikkei Asia.

Baca juga: Hak Spesial Donald Trump di Twitter Bakal Dicabut jika Kalah Pemilu

Angin segar bisnis chip Huawei

Hampir senada dengan Kennedy dan Frank, Da Wei, Direktur CSIS Universitas Hubungan Internasional di Beijing juga mengatakan Biden kemungkinan tidak langsung melunak dengan China, terutama soal penggunaan teknologi inti.

Namun Biden bisa saja sedikit melonggarkan, misalnya saja dengan mempersempit kriteria pembatasan. Pada pemerintahan Trump, keamanan nasional dan kompetisi teknologi menjadi dua hal yang kerap digadang Trump untuk membatasi perusahaan asal China yang turut mempengaruhi negara sekutunya.

"Sebagai contoh, perusahaan seperti TikTok dan WeChat, pemblokiran bisa saja ditarik karena mereka tidak memiliki konflik yang tidak bisa didamaikan dengan AS," kata Wei.

Namun di sektor lain, seperti 5G, di mana Huawei berada di pusat persaingan AS-China, situasinya akan menjadi lebih rumit. Wei memperkirakan, kebijakan 5G Huawei yang diblokir AS akan sulit berubah, namun ada harapan untuk sektor penjualan chip ke Huawei.

Seperti diberitakan sebelumnya, Trump membuat kebijakan yang mengakibatkan Huawei tidak bisa menggunakan teknologi AS untuk produk semikonduktor. Padahal, Huawei masih sangat bergantung pada komponen buatan perusahaan AS, Qualcomm.

Baca juga: Huawei Masuk Blacklist Amerika Serikat

China harus tetap mandiri

Xin Qiang, Wakil Direktur Pusat Studi AS di Universitas Fudan mengatakan, perbedaan antara Biden dan Trump di bidang teknologi adalah pada area inti, seperti kedirgantaraan, komunikasi kuantum, dan kecerdasan buatan.

"Tidak bisa dipungkiri, China-AS akan terpisah sebagian satu sama lain pada sektor teknologi tinggi," kata Xin.

Xin menambahkan, China sebaiknya tidak lengah dengan isu perbaikan hubungan bilateral jika Biden memimpin. Sebaiknya, China tetap mandiri dengan menghasilkan produk-produk berteknogi lebih tinggi dibanding AS.

"China seharusnya tidak menyerahkan nasibnya ke tangan perubahan (pemerintahan) AS," kata Xin, dihimpun dari Global Times.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.