Melihat Besarnya Kesenjangan Internet antara Indonesia Barat dan Timur

Kompas.com - 10/11/2020, 20:02 WIB
Yonas Kedeikoto (15) (kiri) dan Jekson Pigome (12) mengikuti proses belajar mengajar secara daring di Kota Jayapura, Papua, Senin (10/8/2020). Dua pelajar kelas IX dan VIII SMP Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Kristus Raja Jayapura tersebut mengaku mulai hari ini wajib mengenakan seragam sekolah saat mengikuti pelajaran daring. ANTARA FOTO/INDRAYADI THYonas Kedeikoto (15) (kiri) dan Jekson Pigome (12) mengikuti proses belajar mengajar secara daring di Kota Jayapura, Papua, Senin (10/8/2020). Dua pelajar kelas IX dan VIII SMP Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Kristus Raja Jayapura tersebut mengaku mulai hari ini wajib mengenakan seragam sekolah saat mengikuti pelajaran daring.

KOMPAS.com - Menurut survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia pada kuartal II 2020 mencapai 196,7 juta. Jumlah itu naik menjadi 73,7 persen dari total populasi Indonesia yang mencapai 266,9 juta.

Meskipun mendekati angka 200 juta pengguna internet, namun ketimpangan akses internet masih besar. Masih dari survei APJII, pengguna internet di Indonesia sebagian besar masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan wilayah barat Indonesia.

Pula Jawa menyumbang 56,4 persen dari total populasi pengguna internet di Indonesia. Disusul Pulau Sumatera yang menyumbang 22,1 persen dari total populasi.

Baca juga: Internet Buatan Elon Musk Diuji Coba, Kecepatan Download Tembus 160 Mbps

Sementara di wilayah tengah, yakni Sulawesi menyumbang 7 persen, kemudian Bali-Nusa Tenggara 5,2 persen. Kontribusi paling kecil berasal dari wilayah Timur Indonesia yakni Maluku-Papua yang hanya menyumang 3 persen dari total populasi pengguna internet di Indonesia.

Menurut Jamalul Izza, ketua umum APJII, penyebab ketimpangan ini adalah ketersediaan infrastruktur di daerah-daerah yang sulit dijangkau. Meskipun sudah tersedia Palapa Ring Timur, Jamal menjelaskan pemanfaatanya belum bisa optimal.

"Untuk Palapa Ring memang sudah menghubungkan pulau-pulau, cuma yang menjadi tugas bersama bagaimana membawa lastmile ke daerah daerah yg emang belum terjangkau dengan infrastruktur," jelasnya melalui pesan singkat kepada KompasTekno, Selasa (10/11/2020).

Menurut PT Palapa Timur Telematika, hingga September 2020, utilisasi Palapa Ring Paket Timur saat ini masih rendah. Palapa Ring Timur memiliki 9 proyek yang sedang berjalan, yakni proyek 9 hingga proyek 17.

Seorang Pelajar Belajar di Gunung Temulawak, Desa Petir, Kecamatan Rongkop, GunungkidulDokumentasi Kepala Dukuh Petir B Seorang Pelajar Belajar di Gunung Temulawak, Desa Petir, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul
Utilisasi dari 9 proyek itu saat ini telah mencapai 14 persen untuk penggunaan serta optik dan 45 persen untuk pengunaan microwave. PT Palapa Timur Telematika menjelaskan, rendahnya utilisasi ini dipengaruhi beberapa faktor.

Pertama adalah kurangnya peran penyedia layanan telekomunikasi. Sebab, Palapa Ring Timur hanya menyediakan tulang punggung (backbone) serat optik. Untuk menghadirkan akses internet cepat, dibutuhkan peran operator telekomunikasi.

Baca juga: Riset: Indeks Kebebasan Internet di Indonesia Terus Menurun

Namun, kebanyakan operator yang ada di Indonesia memiliki banyak pertimbangan sebelum masuk ke suatu area komersil baru, misalnya jumlah populasi penduduk, potensi pengguna data, potensi ekonomi daerah, skala ekonomi masyarakat, dan nilai strategis suatu wilayah.

Jamal menjelaskan bahwa dorongan untuk mengoptimalkan utilisasi Palapa Ring Timur bukan hanya peran operator seluler, namun juga semua penyelenggra internet.

"Dorongan ini sebenarnya bagaimana bisa membangun lastmile dari Palapa Ring ke kota kota terlebih dahulu agar pemanfaatan Palapa Ring bisa jauh lebih optimal," imbuhnya.

Kedua, adanya kesenjangan populasi penduduk yang cukup tinggi antar wilayah yang dilewati serat optik Palapa Ring Timur di wilayah 3T (terluar, terdepan, tertinggal). Hal ini menyebabkan utilisasi rendah karena tidak banyak yang menggunakan internet.

Berbeda dengan Papua yang ramai penduduk dan masuk dalam proyek 16 (Jayapura, Elelim, Wamena, Kenyam, Sumohai, Dekai, Oksibil, dan Waropoko), disebutkan bahwa utilisasinya sudah mencapai 100 persen.

Para pekerja pembangunan Proyek Palapa Ring Paket Timur sedang memperbaiki jaringan kabel serat optic yang putus akibat kerap terlindas alat berat di ruas jalan Nasional Memey-Ransiki.KOMPAS.com/BUDY SETIAWAN Para pekerja pembangunan Proyek Palapa Ring Paket Timur sedang memperbaiki jaringan kabel serat optic yang putus akibat kerap terlindas alat berat di ruas jalan Nasional Memey-Ransiki.

Baca juga: Media Asing Soroti Kesulitan Siswa dan Guru di Indonesia Belajar Online

Selain itu, faktor lain seperti geografis, keadaan alam, faktor cuaca, bencana alam, hingga vandalisme juga menjadi penyebab lain rendahnya utilisasi di wilayah timur.

"Saat ini pengoperasian dan pengelolaan jaringan telekomunikasi serat optik Palapa Ring Timur masih terus dilakukan oleh PT Palapa Timur Telematika melalui segala tantangan dan keterbatasan, namun tetap optimis adanya peningkatan utilisasi yang signifikan," jelas Radiws Darwan, VP Field Operation PT. Palapa Timur Telematika.

Jamal mengatakan, APJII saat ini sedang mendorong pemerataan internet di Indonesia lewat program Desa Internet Mandiri, yang juga bekerja sama dengan pemerintah.

Program ini bertujuan untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit terjangkau internet karena keterbatasan infrastruktur.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X