kolom

Satria, Satelit Kapasitas Tinggi Diharapkan Mampu Atasi Kesenjangan Layanan Internet

Kompas.com - 21/11/2020, 16:47 WIB
Penandatanganan kerja sama proyek satelit Satria di Jakarta, Jumat (3/5/2019). KOMPAS.com/ WAHYUNANDA KUSUMA PERTIWIPenandatanganan kerja sama proyek satelit Satria di Jakarta, Jumat (3/5/2019).

Oleh Moch S Hendrowijono*

WABAH Covid-19 telah mengubah segalanya: perilaku, pendidikan sampai ke bisnis dan ibadah yang kemudian disebut sebagai normal yang baru (new normal). Siapa yang menyangka bahwa orang kemudian diwajibkan bekerja dari rumah, anak sekolah dan mahasiswa melakukan pembelajaran jarak jauh, yang kemudian harus diterima sebagai sesuatu yang normal.

Bagi penduduk Pulau Jawa, Sumatera, sebagian Kalimantan atau pulau-pulau padat lainnya, bekerja atau belajar dari rumah tidak terlalu repot. Jaringan seluler hampir semua operator tersedia, bantuan data dari pemerintah maupun operator boleh dikata melimpah.

Namun tidak bagi masyarakat, murid sekolah yang bersekolah dan tinggal di daerah 3T, terluar, terdepan dan tertinggal. Terjadi kesenjangan penyediaan layanan internet antara Indonesia barat dan Indonesia timur, seperti hasil survei APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) belum lama ini.

Dengan pengguna internet di Indonesia yang sudah mencapai 200 juta orang, sejumlah 56,4 persen ada di Pulau Jawa, Sumatera 22,1 persen sementara Bali-Nusra 5,2 persen dan Maluku-Papua hanya 3 persen.

Menurut Ketua APJII, Jamalul Izza, penyebab ketimpangan adalah ketersediaan prasarana internet di daerah-daerah yang sulit terjangkau.

Baca juga: Apa Itu Satria, Calon Satelit Internet Indonesia?

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Widodo Muktiyo, menyampaikan, dari 83.218 desa/kelurahan di Indonesia, yang sudah terjangkau layanan seluler generasi keempat (4G) baru 12.548 desa/kelurahan.

Dari jumlah tadi sebanyak 9.113 ada di kawasan 3T, sisanya di luar 3T dan ditargetkan pada akhir 2022, semua wilayah tadi sudah mendapat layanan 4G.

Pandemi seperti layaknya gempa bumi, tidak bisa diperkirakan kapan datangnya sejak jauh hari, sementara pembangunan prasarana harus dirancang jauh sebelumnya, seperti kata Menkominfo Johnny G Plate, tidak bisa abrakadabra.

Pembangunan jaringan serat optik Palapa Ring oleh Bakti (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi) Kominfo memang sudah selesai.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X