Ketika Startup Indonesia Jadi Idaman Perusahaan Teknologi Amerika

Kompas.com - 07/12/2020, 09:24 WIB
Ilustrasi Startup SHUTTERSTOCKIlustrasi Startup

KOMPAS.com - Indonesia menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, menurut laporan terbaru dari Google, Temasek, dan Bain & Company berjudul e-Conomy SEA 2020.

Tahun 2020 ini ekonomi digital Indonesia diprediksi akan mencapai 44 miliar dollar AS atau sekitar 624 triliun dari total produk domestik bruto (GDP).

Kue yang sangat besar ini membuat para investor di Amerika Serikat tergiur untuk menanamkan modal ke perusahaan teknologi di Indonesia.

Baca juga: Ekonomi Digital Indonesia Diprediksi Capai Rp 624 Triliun pada 2020

Bulan November 2020 kemarin saja ada dua kabar pendanaan untuk dua e-commerce unicorn Indonesia, yakni Bukalapak dan Tokopedia dari dua raksasa Silicon Valley yang berbeda.

Bukalapak mendapat sokongan baru dari Microsoft untuk mengadopsi Microsoft Azure sebagai layanan cloud perusahaan. Tidak disebutkan nilainya, tapi menurut sumber yang dilaporkan Bloomberg, nilai investasinya mencapai 100 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,4 triliun.

Selain Cloud Azure, Microsoft juga akan memberikan pelatihan untuk pegawai Bukalapak dan merchant.

Tokopedia juga mengumumkan Google dan Temasek sebagai pemegang saham baru mereka pada pertengahan November lalu. Seperti Bukalapak, tidak diungkap berapa kucuran dana yang diberikan.

Menurut laporan Nikkei Asia Review, Google kini memegang 1,6 persen saham di Tokopedia, sementara Anderson Investments yang berafiliasi dengan Temasek, memiliki 3,3 persen saham Tokopedia.

Baca juga: Tokopedia Umumkan Dapat Investasi dari Google dan Temasek

Bukan cuma e-commerce. Startup decacorn Gojek juga mendapat suntikan dana dari Facebook dan PayPal bulan Juni lalu. Besaran investasinya juga tidak diungkap. Namun dari laporan Techcrunch, lewat investasi itu, Gojek mendapat total pendanaan hingga 3 miliar dollar AS (Rp 42 triliun).

Kemungkinan besar kucuran dana itu akan digunakan untuk pengembangan layanan pembayaran digital. Lantas, apa yang mebuat startup Indonesia begitu menarik bagi perusahaan teknologi AS?

"Berinvestasi di startup yang sudah mapan seperti unicorn di Indonesia adalah kesempatan besar, dengan satu transaksi yang signifikan untuk memperkuat posisi di ekosistem ketimbang secara bertahap membangun bisnis secara organik," jelas Hanno Stegmann, direktur dan partner di BCG Digital Ventures.

Stegmann menanbahkan investasi dari raksasa teknologi itu juga memperkuat posisi mereka di ekosistem dan memperluas kehadiran bisnis di Asia Tenggara, khsususnya Indonesia.

Kolaborasi perusahaan teknologi AS dengan startup Indonesia akan mendongkrak pundi-pundi investor di wilayah tersebut.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X