Ketika Startup Indonesia Jadi Idaman Perusahaan Teknologi Amerika

Kompas.com - 07/12/2020, 09:24 WIB
Ilustrasi perang dagang AS-China. SHUTTERSTOCKIlustrasi perang dagang AS-China.

Perusahaan juga membidik sektor layanan komputasi awan di Indonesia yang disebut sebagai salah satu kunci penggerak strategis" bagi investasi mereka. Layanan komputasi awan menjadi sumber pendapatan besar untuk perusahaan teknologi.

"Ada kebutuhan untuk mengunci pelanggan besar dan membangun penggunaan serta ekosistem yang kredibel. Itu mengapa investasi ini sangat cerdas," imbuh Stegmann.

Saat ini, Gojek dan Tokopedia tercatat menggunakan layanan Google Cloud. Lalu Bukalapak, pindah dari Google ke Microsoft setelah kesepakatan investasi baru.

Bukan hanya perusahaan Amerika. Konglomerat asal China, Alibaba Group Holding juga memiliki dua data center di Indonesia dan berencana membangun yang ketiga tahun depan.

Tahun 2019, Boston Consulting Group mengeluarkan laporan yang menyebut Indonesia sebagai salah satu pasar komputasi awan dengan pertumbuhan tercepat di wilayah Asia Pasifik. Proyeksi pertumbuhan gabungannya mencapai 25 persen dalam lima tahun mendatang, dari 0,2 miliar dollar AS tahun 2018, menjadi 0,8 miliar dollar AS tahun 2023.

Baca juga: Setengah dari Startup di Indonesia Diprediksi Tumbang Gara-gara Corona

"Berkah" dari perang dagang

Perang dagang antara AS-China sedikit banyak memberi keuntungan bagi Indonesia. Sebab, perusahaan AS mulai jengah dengan segala ancaman risiko yang akan terjadi dengan hubungan dingin AS-China hingga saat ini.

Mereka pun melirik wilayah Asia yang seperti India dan Indonesia. Dua negara ini memiilki aset berupa populasi penduduk yang besar.

India, dengan 1,3 miliar penduduknya menempati urutan kedua, sementara Indonesia di posisi keempat dengan total populasi 267 juta jiwa, menurut data dari Census Bureau.

Data dari Preqin menunjukkan jumlah kesepakatan investasi di Indonesia dari investor yang berbasis di AS naik hampir dua kali lipat di tahun 2019 dibanding tahun 2016. Nilai kesepakatan juga meningkat dua kali lipat lebih di periode yang sama.

Menurut Joe, meskipun nantinya presiden ke-46 terpilih AS, Joe Biden melakukan rekonsiliasi dengan China, tapi pandangan para investor terhadap investasi di pasar Asia sudah berubah.
Para investor akan lebih berpikir tentang diversifikasi dan risiko.

"Itulah mengapa, beberapa investor besar berpikir, inilah waktu yang tepat (untuk investasi di Indonesia) karena ukurannya sudah memberikan sumber daya yang ingin mereka gunakan, perhatian yang ingin mereka berikan ke pasar ini. Hal itu pertanda bagus untuk Indonesia," ujar Joe.

Baca juga: Pada 2025, Ekonomi Digital RI Bisa Capai Rp 1.995 Triliun

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X