kolom

Indonesia Kembangkan Open RAN, Teknologi Seluler Hemat Biaya

Kompas.com - 17/12/2020, 07:14 WIB
ilustrasi menara BTS freepikilustrasi menara BTS

DI TENGAH bencana pandemi virus corona yang menyengsarakan banyak lapisan masyarakat terutama kelas bawah karena kehilangan pekerjaan, ada saja anggota masyarakat atau lembaga yang bisa bertahan.

Bahkan maju karena inovasi. Bagi mereka, pandemi jadi tantangan, bukan untuk diratapi.

Sektor telekomunikasi termasuk yang bertahan, malah maju, di saat yang mencemaskan seperti sekarang ini. Paling tidak, kewajiban untuk BDR (bekerja dari rumah) atau PJJ (pembelajaran jarak jauh) menjadi berkah karena jualan data mereka laku keras.

Namun telekomunikasi adalah industri padat teknologi yang dikendalikan vendor-vendor yang selalu “memaksakan kehendak” kepada operator dengan memanfaatkan penemuan-penemuan baru.

Baca juga: Lelang Frekuensi 5G Sisakan Tiga Operator Seluler, Smartfren Teratas

Ketika seluler generasi keempat (4G) yang langkahnya berkembang beberapa lapis menjadi 4,5G LTE (long term evolution), teknologi 3G yang bertahan cukup lama menjadi buah simalakama, dipakai mahal, mau dibuang masih banyak pelanggannya.

Jangankan 3G, teknologi 2G saja di kita masih banyak penggunanya – rata-rata 20 persen pelanggan operator – padahal vendor penyedia teknologinya sudah tidak menerima pesanan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sekarang ini teknologi 2G atau 3G, sudah obsolete, usang, tidak terpakai lagi, sehingga harganya lebih mahal dibanding harga 4G LTE kalau BTS 3G-nya operator butuh perluasan.

Ketika industri telko di Indonesia maju dengan tingkat kompetisi yang sangat ketat – walau menguntungkan pelanggan karena harga layanan jadi murah dengan mutu pas-pasan – operator selalu berupaya mencari cara dan mengadopsi teknologi yang efisien dan murah.

Regulatory cost menjadi salah satu beban yang cukup mahal, dengan harga frekuensi dan BHP (biaya hak penggunaan) frekuensi tahunan yang tinggi.

Namun kebijakan pemerintah yang mendorong efisiensi dengan mengusulkan cara infrastructure/network sharing, operator besar malah enggan dan memandang sinis operator lain yang ingin diberi kesempatan berbagi.

Padahal cara pemakaian bersama prasarana seperti menara dan radio BTS dapat menekan biaya modal dan operasional.

Pada teknologi RAN (radio access network) yang dikuasai vendor teknologi (Huawei, Nokia, Ericsson), perangkat keras dan perangkat lunak merupakan satu kesatuan. Akibatnya, harga teknologinya menjadi mahal, sementara konsep baru Open RAN mengembangkan teknologi radio dengan memisahkan keduanya.

RAN adalah bagian dari sistem telekomunikasi yang menghubungkan perangkat individual ke bagian lain jaringan melalui koneksi radio.

RAN berada di antara peralatan pengguna seperti ponsel, komputer atau mesin apa pun yang dikendalikan dari jauh dan mengadakan koneksi dengan jaringan intinya.

RAN merupakan komponen utama telekomunikasi nirkabel yang saat ini. RAN sudah berevolusi melalui generasi jaringan seluler menjelang 5G.

Banyak opsi

Sementara Open RAN merupakan teknologi perangkat radio akses yang mengadopsi konsep open interface. Operator pun bisa menggunakan kombinasi perangkat radio seperti radio unit dan base band tanpa terikat pada salah satu merek yang spesifik.

Open RAN menawarkan teknologi terbuka yang terstandarisasi, serta struktur biaya yang lebih bersaing yang memberi kesempatan baik bagi para operator mengembangkan jaringan secara lebih luas.

Baca juga: Ini Kandidat Kuat Lokasi Jaringan 5G Pertama di Indonesia

”Diharapkan perangkat keras bisa menjadi komoditas sehingga mampu menurunkan biaya, juga memperluas ekosistem yang didominasi tiga vendor,” ujar I Gede Darmayusa, Direktur Teknologi XL Axiata.

Dengan standard yang ditetapkan komunitas, banyak pemain baru yang bisa mengembangkan kasus-kasus penggunaan (uses case) dan mempercepat adopsi teknologi 5G secara bersama. Vendor baru yang sudah tampil misalnya Mavenir dan Parallel Wireless.

Open RAN menantang operator mempercepat perluasan ke seluruh Indonesia, bahkan sampai ke pelosok-pelosok, rural, dengan mutu yang tetap terjaga. Open RAN yang dibangun dengan standar open and dis-aggregate diharapkan bisa membuka lebih banyak produsen perangkat/prasarana maupun solution integrator dalam industri manufakturnya.

Dengan cara demikian, operator memiliki lebih banyak opsi dalam memilih vendor yang dapat memberikan business case terbaik yang bisa mengesfisienkan biaya modal (capex – capital expenditure) dan biaya operasi (opex – operational expenditure).

Open RAN, kata Gede, mempercepat adopsi teknologi dan perluasan jaringan yang memberi potensi besar untuk peningkatan trafik jaringan, sehingga biaya jaringan akan turun.

Kata Gede, XL Axiata mulai menguji coba Open RAN di kawasan Indonesia Timur, di Ambon, sejak akhir November dan akan berlangsung sebulan hingga akhir Desember, hingga siap untuk melakukan panggilan pertama ke Jakarta.

Berikutnya mereka akan melangkah ke tahap pilot project dengan menempatkan Open RAN di sekitar 100 titik di luar Jawa, kebanyakan di area pelosok.

Semua operator seluler bergabung ke dalam Komunitas Lab Open RAN yang beranggotakan Telecom Infra Project (TIP), GSM Association, Pemerintah RI, dan Tel-U (Universitas Telkom).

Komunitas bertujuan menumbuhkan talenta digital dan ekosistem telekomunikasi yang kuat dan beragam, serta mendorong dan mendukung upaya transformasi digital yang diinisiasi pemerintah. (Moch S Hendrowijono, pengamat telekomunikasi dan transportasi)



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X