Pemilik Website Harap Bersiap, Chrome Mulai Blokir Iklan yang Bikin Lemot

Kompas.com - 24/12/2020, 14:31 WIB
Ilustrasi logo Chrome CNETIlustrasi logo Chrome

KOMPAS.com - Situs web yang mengandalkan pemasukan iklan harus segera bersiap. Terutama untuk website-website yang menggunakan iklan "berat".

Alasannya, baru-baru ini, pengguna browser Google Chrome melaporkan bahwa peramban itu mulai memblokir iklan-iklan tertentu. Salah satu pengguna yang melaporkan hal tersebut ialah Aron Pilhofer melalui akun Twitternya @pilhofer pada Desember 2020.

Dalam kicauannya, Pilhofer mengunggah sebuah tangkapan layar dari situs berita The New York Times tanggal 2 Desember 2020. Dari gambar itu terlihat ada kotak besar di bagian atas situs yang biasanya memuat tampilan iklan.

Baca juga: Update Google Chrome Diklaim Bikin Hemat Baterai dan Irit RAM

Namun, di peramban Pilhifer, kotak tersebut tidak menampilkan iklan, melainkan kosong begitu saja dengan sebaris tulisan berbunyi, "Iklan ini menggunakan terlalu banyak sumber daya dari perangkat Anda, jadi Chrome menghapusnya."

Beberapa akun Twitter juga melaporkan hal serupa. Misalnya, akun @tobyns melaporkan bahwa peramban Chrome telah menghapus iklan dari situs berita The Independent yang ia kunjungi. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pertama kali saya melihat Chrome menghapus iklan. kejadian langka!," kicaunya. pada bulan November 2020. Senada dengan dua akun di atas, akun @ArtemR juga mengaku pertama kalinya melihat Chrome memblokir iklan yang menggunakan terlalu banyak sumber daya.

Niatan Google untuk memblokir iklan "berat" yang membuat lemot perangkat pengguna Chrome, memang memang sudah tersiar sejak Mei 2020. Fitur tersebut diberi nama Heavy Ad Intervention, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Forbes (23/12/2020).

Kriteria iklan berat menurut Chrome

Heavy ad dapat dipahami sebagai iklan web yang terlalu banyak menguras sumber daya sistem sehingga membuat perangkat komputer atau ponsel jadi tidak responsif dan melambat.

Baca juga: Google Siapkan Fitur Screenshot Panjang di Peramban Chrome

Iklan dengan kriteria heavy ad dapat mengganggu pengalaman pengguna ketika berselancar di internet karena dapat membuat laman web dimuat lebih pelan dari biasanya. Iklan berat juga dapat menguras baterai perangkat dan data seluler tanpa diketahui oleh pengguna.

"Oleh karena itu, Chrome akan membatasi sumber daya yang dapat digunakan iklan sebelum pengguna berinteraksi dengan iklan tersebut," ungkap Product Manager Chrome, Marshall Vale, dalam blog Chromium

Fitur ini dirancang menggunakan sistem berbasis ambang batas tertentu untuk mengategorikan iklan yang termasuk ke dalam heavy ad. Tiga ambang batas kriteria heavy ad yang dimaksud Google, seperti tertuang di situsnya, adalah sebagai berikut.

- Iklan yang menggunakan thread utama selama lebih dari 60 detik secara keseluruhan
- Iklan yang menggunakan thread utama selama lebih dari 15 detik dalam periode 30 detik manapun
- Iklan yang menggunakan bandwidth jaringan lebih dari 4 megabyte

Nantinya, melewati mencapai ambang batas yang ditetapkan oleh Chrome, iklan tidak akan dimuat dan hanya akan menampilkan pesan seperti dijumpai oleh beberapa pengguna Twitter di atas. 

Baca juga: Apple dan Google Buktikan Banyak Orang Indonesia Mulai Beraktivitas di Luar Rumah

Menurut Google, iklan berat seperti ini jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 0,3 persen dari keseluruhan iklan di web. Meski hanya segelintir, dampaknya besar untuk pengguna sehingga Google memutuskan untuk memblokirnya lewat Chrome. 

"Karena iklan heavy ad ini bertanggung jawab atas lebih dari seperempat dari semua prosesor dan bandwidth jaringan yang digunakan oleh semua iklan online," kata Vale.

Cara Menguji Fitur Heavy Ad Intervention

Heavy Ad Intervention tersedia di Chrome versi 84 atau yang lebih baru. Walaupun ini merupakan fitur otomatis, Google menyediakan panduan bagi developer web untuk menguji sendiri fitur ini di Chrome. 

Pertama, pengguna perlu mengaktifkan fitur ini terlebih dahulu dengan menyalakan chrome://flags/#enable-heavy-ad-intervention di kolom URL. Kemudian, non-aktifkan chrome://flags/#heavy-ad-privacy-mitigations.

Baca juga: 5 Momen Tumbangnya Layanan Google Sepanjang 2020

Setelah itu akan muncul tab "Experiments". Di posisi paling atas akan terlihat nama fitur Heavy Ad Intervention beserta definisi dan tombol pilihan pengaturan. Pengguna hanya perlu mengubah tombol opsi dari default > enable.

Developer dapat melihat contoh penerapan fitur Heavy Ad Intervention di konten sampel di situs heavy-ads.glitch.me. Selain itu, developer juga dapat menggunakan situs pengujian ini untuk memuat URL lainnya sebagai cara cepat untuk menguji konten yang dipilih.



Sumber Forbes
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X