Startup Digital di Daerah Tak Kalah Potensial

Kompas.com - 29/12/2020, 11:01 WIB
Ilustrasi Startup SHUTTERSTOCKIlustrasi Startup

SOLO, KOMPAS.com - Siapa tidak kenal startup unicorn Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, Ovo, atau Gojek? Bahkan nama terakhir kini sudah berstatus sebagai decacorn, alias startup dengan total valuasi di atas 10 miliar dollar AS.

Namun, Indonesia masih memiliki ribuan startup yang tersebar di seluruh tanah air. Tidak sedikit dari mereka juga memiliki ide atau inovasi yang tak kalah menarik dari startup unicorn dan decacorn.

Salah satunya dibuat oleh SOKU, startup lokal asal Solo,  Jawa Tengah, yang bergerak di bidang food commerce. SOKU saat ini sedang mengembangkan autonomous self-driving car atau mobil tanpa awak.

Rencananya, mobil tersebut akan digunakan sebagai "warung berjalan" yang bisa melayani pembeli tanpa perlu ada pegawai manusia.

"Kita akan melakukan uji coba prototype Januari nanti," jelas Soekma A Sulistyo, founder SOKU.

Pengembangan autonomous self driving tersebut hanya contoh kecil dari inovasi yang ditelurkan perusahaan rintisan lokal. Kemungkinan masih banyak inovasi startup lokal lain yang belum terindetifikasi.

Berbeda dengan startup besar, startup lokal yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia jauh dari kata "sempurna". Sempurna dalam hal ini adalah ekosistem yang terbangun, belum optimal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di Solo misalnya, belum ada inkubator dan akselerator yang mumpuni. Inkubasi adalah program yang fokus pada pematangan ide dan produk suatu startup.

Dalam inkubasi, startup akan mengenalkan diri di depan investor, memperkenalkan produk, serta model bisnisnya. Mereka lalu mendapatkan mentoring untuk mempercepat pertumbuhan bisnisnya.

Sementara program akselerasi menyasar startup yang lebih matang dan membantu mereka memvalidasi ke pasar. Soekma menambahkan, para founder startup yang ingin masuk inkubator dan akselerator harus menuju kota besar, seperti Jakarta atau Surabaya, yang tentu memakan ongkos tidak sedikit.

"Kemudian venture capital, enggak ada di Solo, adanya di kota besar seperti Jakarta dan Bandung," jelas Soekma ketika berbincang dengan KompasTekno di Solo, Jawa Tengah.

Baca juga: Mengenal Solocon Valley, Sekolah Startup di Solo Jawa Tengah

Soekma yang juga menjadi salah satu inisiator komunitas startup Solocon Valley, mengatakan bahwa di Solo, hanya ada sekitar lima startup yang bisa disebut stabil, dalam artian sudah memiliki pasar dan memperoleh pendapatan.

Jikapun ada venture capital, lanjut Soekma, konsep pendanaannya masih konvensional, tidak cocok dengan model bisnis startup.

Gaji rendah bikin SDM pindah

Masalah tidak cukup sampai di ekosistem yang belum optimal. Di Solo, kebutuhan programer yang cakap juga belum tercukupi.

Hal ini lantaran sumber daya manusianya tersedot ke kota-kota besar yang menawarkan gaji lebih tinggi dibanding Solo, seperti Yogyakarta atau Jakarta. Selain hard skill, softskill juga menjadi masalah berikutnya.

Soekma menilai di Solo, banyak ide startup yang menarik namun kepemimpinan dari para pendirinya masih belum kuat.

"Semua orang bisa jadi founder, tapi tidak semua bisa jadi founder," kata Soekma.

Artinya, tidak semua founder benar-benar mencurahkan segala kemampuannya, termasuk materi untuk mengembangkan bisnis startup. Soekma yang juga sering menjadi mentor startup di Solo, kerap meyakinkan para founder startup agar mereka memiliki pijakan yang kuat.

"Kalau enggak kuat, mending enggak usah," begitu katanya.

Para pendiri yang kuat dan sukses akan berdampak pada perbaikan lingkungan startup. Mereka juga akan menjadi inspirasi dan mengangkat nama daerah.

"Lingkungan yang baik akan berdampak ke SDM lain, seperti programmer. Kalau sudah terbangun dengan baik mereka enggak akan lari ke daerah lain. Karena orientasinya gaji," jelas Soekma.

Baca juga: Ketika Startup Indonesia Jadi Idaman Perusahaan Teknologi Amerika

Masalah yang dihadapi startup Solo sudah pernah disampaikan kepada Menteri Komunikasi dan Informatika periode 2014-2019, Rudiantara saat mengikuti program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital yang dibuat tahun 2016. Program tersebut kini berganti nama menjadi The Next 1001 Startup Digital mulai tahun 2019.

"Aspirasi itu sudah disampaikan, tapi belum tahu kabarnya sampai mana. Kalau cuma sampai pendanaan kan enggak menciptakan ekosistem yang baik," kata Johannes Widya Santoso yang juga menjadi inisiator Solocon Valley.

Joe mengatakan, meskipun ada banyak ganjalan untuk mengembangkan bisnis startup di daerah, hal itu tak lantas jadi alasan untuk berhenti berinovasi.

Baca juga: Startup Unicorn Indonesia Jadi Incaran Investor Asia

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.