Indosat Ingin Pakai Balon Google Loon Sebar Internet di Pedalaman

Kompas.com - 12/01/2021, 20:16 WIB
Lintasan terbang balon Google Project Loon di atas laut jawa, sebagaimana ditampilkan Flightradar 24 pada Minggu (22/3/2015) siang sekitar pukul 12.30 WIB Oik Yusuf/ Kompas.comLintasan terbang balon Google Project Loon di atas laut jawa, sebagaimana ditampilkan Flightradar 24 pada Minggu (22/3/2015) siang sekitar pukul 12.30 WIB

Pernah hadir di Indonesia namun sebatas uji coba saja

Google Loon sempat diuji coba dua kali di Indonesia. Uji coba pertama kali terdeteksi aplikasi Flightradar24 pada pertengahan 2014 di selatan Pulau Sumatera, sekitar area Bandar Lampung dan bergerak ke arah timur.

Penerbangan uji coba Google Loon kedua terdeteksi pada Maret 2015 di laut Jawa. Balon helium dengan kode "HBAL436" itu terlihat melintasi laut jawa dengan ketinggian sekitar 20.400 meter dan bergerak dengan kecepatan 37 knot.

Pada tahun 2015, di bawah kepemimpinan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) periode 2014-2019, Rudiantara, Google disebut meminta izin untuk menggunakan frekuensi 900 Mhz dan 700 Mhz untuk uji coba, namun tidak dikabulkan.

Pasalnya, alokasi frekuensi 900 Mhz sudah digunakan untuk tiga operator seluler, sementara 700 Mhz masih digunakan untuk televisi analog.

Oleh karena itu, Google Loon harus masuk melalui existing player dengan cara merangkul operator seluler yang ada di Indonesia, bukan menggunakan alokasi spektrum sendiri.

Alhasil saat itu, uji coba Google Loon kemudian disepakati dengan menggandeng tiga operator seluler di Indonesia yakni Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat. Uji coba tersebut digunakan menggunakan jaringan 4G LTE pada frekuensi 900 Mhz.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, sejak saat itu wacana adopsi Google Loon ini kemudian hilang begitu saja.

Terbentur regulasi

Penyelenggaran proyek Loon di Indonesia berjalan alot lantaran terbentur beberapa regulasi. Pertama Peraturan Pemerintah (PP) nomor 52 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi.

Baca juga: OpenBTS Boleh seperti Balon Google, Ini Syarat dari Menkominfo

Dalam penjelasan PP 53 tahun 2000, disebutkan bahwa spektrum frekuensi radio dan orbit satelit merupakan sumber daya alam terbatas, dan penggunaan spektrum frekuensi radio harus sesuai dengan peruntukannya.

Lalu, operasi Google Loon juga terbentur PP nomor 53 tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit. Pada pasal 25 dalam aturan tersebut ditegaskan bahwa Pemegang izin stasiun radio yang telah habis masa perpanjangannya dapat memperbaharui izin stasiun radio melalui proses permohonan izin baru.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.