Bahaya yang Mengikuti Unggahan "Selamat Ulang Tahun" di Media Sosial

Kompas.com - 08/02/2021, 20:40 WIB
Ilustrasi media sosial (ipopba) KOMPAS.COM/Ilustrasi media sosial (ipopba)

KOMPAS.com - Memberi ucapan selamat ulang tahun kepada teman, sahabat, keluarga, atau kolega bisa dilakukan lewat apa saja. Termasuk lewat media sosial seperti Facebook, Instagram, atau Twitter.

Namun, hati-hati, jangan sembarangan memamerkan ucapan atau perayaan ulang tahun seseorang di media sosial. Pasalnya memberikan ucapan selamat ulang tahun melalui media sosial bisa menjadi boomerang dan hadiah tidak menyenangkan bagi orang tersebut.

Sebab, hal itu sama saja dengan mengumbar informasi tanggal lahir seseorang ke publik, yang mana informasi tersebut termasuk dalam informasi pribadi.

Menurut Harry Denley, Security and Anti-Phishing dari perusahaan software MyCrypto, kebanyakan orang terlalu banyak membicarakan sesuatu di media sosial. Ia mengatakan, orang-orang bisa menemukan apapun secara virtual, termasuk data-data pribadi seseorang.

Tanggal atau hari ulang tahun juga termasuk dalam data pribadi seseorang. Informasi tersebut mungkin dianggap umum dan tidak krusial. Namun, di tangan orang yang salah, informasi terkait tanggal lahir bisa menjadi modal untuk melakukan kejahatan siber.

Baca juga: Apple Ungkap Cara Aplikasi Diam-diam Mengumpulkan Data Pengguna

Peretas (hacker), akan "menjahit" informasi itu dengan informasi lain yang diperoleh dari unggahan warganet ke media sosial.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tanpa disadari, unggahan warganet sering memuat informasi pribadi yang seharusnya tidak diketahui publik.

Kebanyakan, informasi tersebut dianggap sepele. Misalnya unggahan yang menandai lokasi rumah, foto dan nama anak-anak atau keluarga, tagging (menandai) seseorang, dan masih banyak lagi.

Senada dengan Denley, Tim Sadler, CEO perusahaan keamanan siber Tessian, mengatakan bahwa ada peningkatan jumlah informasi dan data pengguna yang tersedia secara publik di dunia maya.

Riset yang dilakukan Tessian menemukan ada 84 persen orang dari total responden dalam riset tersebut yang mengunggah kiriman ke media sosial setiap minggunya. Tidak disebutkan berapa responden yang terlibat dalam riset ini.

Sebanyak 42 persen di antaranya diketahui membagikan banyak sekali informasi tentang hobi, ketertarikan, hubungan, dan lokasinya secara publik setiap hari.

Separuh dari pengunggah di media sosial membagikan nama dan foto anak-anaknya, dan 72 persennya memberikan ucapan selamat ulang tahun.

Baca juga: Data Ratusan Juta Pengguna Instagram, Facebook, dan LinkedIn Bocor

Bahkan tidak hanya membagikan informasi dari update status, sebanyak 55 persen responden memasang informasi profilnya secara terbuka di Facebook dan hanya 33 persen dari responden yang menggembok akun Instagram (private). 

Tak sedikit pula orang yang mengunggah kehidupan pekerjaannya. Di Amerika Serikat, 93 persen pekerja mengunggah status tentang pekerjaan mereka di media sosial.

Sebanyak 36 persen di antaranya bercerita tentang pekerjaannya sendiri dan 26 persen memamerkan klien atau kehidupan rekan kerjanya.

Hal tersebut, menurut Sadler, dapat mempermudah pekerjaan para peretas untuk mengumpulkan data pengguna dan menyalahgunakan informasi tersebut.

Terlalu banyak membagikan informasi ke media sosial bisa dikategorikan sebagai perilaku oversharing. Selain membuat tidak nyaman bagi pengguna lain, oversharing di media sosial bisa membahayakan diri atau orang lain secara tidak langsung.

Trik lain peretas

Menurut Denley, informasi pribadi pengguna media sosial sejatinya bisa tetap didapatkan peretas sekalipun si pemilik informasi tidak membagikannya secara publik.

Caranya adalah dengan menelusuri dan megidentifikasi target lewat orang sekitarnya dan kemudian meniru identitas mereka untuk menipu target.

Metode kejahatan siber yang dipakai biasanya berupa rekayasa sosial atau manipulasi psikologi. Praktik rekayasa sosial yang umum terjadi adalah, hacker menyamar sebagai orang terdekat target.

Kemudian, dia akan menipu dengan mengiba meminta bantuan berupa kiriman uang. Bisa juga hacker melakukan phishing dengan mengirimkan e-mail ke target berisi tautan atau lampiran yang apabila dibuka, data sensitif pengguna terancam diambil atau disandera.

Minimnya kewaspadaan digital menjadi faktor penting bagaimana serangan rekayasa sosial bisa terjadi.

Baca juga: Temukan Celah Keamanan, Hacker Dapat Uang Rp 4,2 Miliar dari Apple

Menurut laporan Tessian, hanya 54 persen responden pekerja yang memperhatikan betul siapa pengirim e-mail dan kurang dari setengahnya, mau mengecek legitimasi tautan atau lampiran sebelum merespons atau melakukan tindakan pada e-mail yang diterima.

Fakta itu cukup mengkhawatirkan, sebab Tessian menemukan 88 persen responden menerima e-mail mencurigakan sepanjang 2020.

"Ingatlah bahwa hacker tidak punya apapun selain waktu di tangannya. Kita harus membantu orang-orang agar paham bagaimana informasi mereka bisa digunakan untuk menyerang mereka sendiri lewat serangan phishing jika kita semua ingin menghentikan aksi hacker untuk meretas manusia" imbuh Sadler.

Coba ingat kembali, apa saja yang sering Anda bagikan ke media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, atau WhatsApp Status?



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.