[POPULER TEKNO] Internet Tercepat, Pre-order Starlink, hingga Warnet Jadi Tambang Bitcoin

Kompas.com - 20/02/2021, 14:16 WIB
Ilustrasi internet, media sosial ShutterstockIlustrasi internet, media sosial

KOMPAS.com - "Be Strong". Mungkin itu ungkapan yang paling sering kita ucapkan-atau minimal kita batin di dalam hati-selama masa pandemi ini. Kalimat itu tidak kita tujukan untuk orang lain, melainkan untuk laptop dan koneksi internet.

Bagaimana tidak? Selama pandemi ini, sebagian besar aktivitas dilakukan secara online dan koneksi internet menjadi alat tempur utama.

Ngomong-ngomong soal internet, seminggu ini ada banyak banget lho isu terkait internet yang jadi topik hangat di KompasTekno.

Mulai dari kota yang punya internet tercepat di Indonesia, pasal-pasal bermasalah di UU ITE, polisi virtual di media sosial, sampai perseteruan antara Australia dan raksasa Silicon Valley.

Topik yang rame soal internet aja? Enggak dong, ada kabar lain dari dunia gadget, yaitu soal hape entry-level Samsung yang punya baterai jumbo dengan harga terjangkau, kebangkitan BlackBerry 3.0, sampai warnet yang disulap menjadi tempat tambang.

Kita bahas satu-satu, ya.

Soal internet tercepat, kota mana juaranya?

Kalian tahu nggak sih, kalau ternyata Jakarta itu bukan kota dengan internet tercepat di Indonesia?

Kata siapa? 

Ini bukan kata KompasTekno, ya. Tapi kata laporan Speedtest Global Index yang dipublikasi Ookla. Buat yang belum tau, Ookla itu perusahaan pembuat aplikasi Speedtest yang sering kita pakai buat mengukur kecepatan internet.

Terus kota mana juaranya? 

Berdasarkan laporan tersebut, ternyata Kota Tangerang yang menjadi juaranya. Wow, Tangerang Pride.

Berdasarkan riset Ookla, rata-rata kecepatan download di Kota Tangerang mencapai 18,97 Mbps, sementara kecepatan upload-nya bisa sampai angka 12,28 Mbps, dan latensi 26 milidetik. Lumayan kan? Hehe.

Baca juga: Bukan Jakarta, Internet Tercepat di Indonesia Ada di Kota Ini

Terus Jakarta di posisi berapa?

Jakarta harus puas berada di posisi ketiga dengan kecepatan download rata-rata 17,91 Mbps, kecepatan unggahan 10,81 Mbps, dan latensi 32 milidetik. Yaaaa, beda dikit sih sama Tangerang. Tapi tetep aja kalah. Haha.

Secara umum, kecepatan internet mobile di Indonesia berada di urutan ke-121 di dunia, turun sebanyak empat peringkat dari periode sebelumnya. Pfffffttttt...

Masih dari laporan Speedtest, Telkomsel jadi operator seluler yang punya koneksi internet tercepat, lalu disusul oleh Indosat Ooredoo dan XL.

Pengen tau lebih lengkap soal laporan ini? Bisa dibaca lewat tautan ini. Kalau ditulis semua di sini, kebanyakan soalnya. :)

Oya, masih ngomongin soal internet nih, tapi bedanya ini dari perusahaan luar negeri.

Starlink, perusahaan internet Elon Musk buka PO

Eits, Starlink ini bukan "Starb*cks Keliling" alias tukang kopi item pinggir jalan ya. Starlink yang ini adalah provider internet punya Elon Musk.

Starlink lagi rame, kenapa tuh?

Jadi, perusahaan Elon Musk ini sekarang udah buka Pre Order untuk layanan internet satelit miliknya. 

CEO Tesla Elon Musk.AFP/Getty Images VIA CNBC CEO Tesla Elon Musk.

Starlink ini bisnis lain dari perusahaan roket SpaceX yang juga milik Musk.

Waktu itu, roket SpaceX sudah meluncurkan 1.000 satelit ke low-Earth orbit (LEO) atau orbit Bumi rendah untuk bisnis ini. Satelit inilah yang bakal dipakai buat membawa koneksi internet Starlink.

Terus berapa kecepatan dan harganya?

Selama uji coba, kecepatan internet Starlink bisa digunakan pengguna mulai dari 50-150 Mbps dan latensi mulai dari 20-40 milidetik.

Ngebut banget kan?

Kalau tertarik langganan Starlink, kalian perlu menyiapkan kocek sekitar Rp 8,2 juta untuk uang deposit dan Starlink Kit. Sedangkan biaya bulanannya sekitar Rp 1,2 juta.

Mahal uga yak. Wkkwkwkwkk. Terus netizen +62 bisa ikutan pesan? Bisa, tapi nanti tahun 2022.

KompasTekno juga mencoba memesan dengan memasukkan alamat wilayah Jakarta di website resminya, tapi Starlink malah bilang bahwa layanannya "ditargetkan akan menjangkau wilayah Anda pada tahun 2022". Jadi harap bersabar ya.

Baca juga: Internet Satelit Starlink Milik Elon Musk Sudah Bisa Dipesan

Elon Musk lagi tenar banget ya?

Yaaa, gimana enggak? Doi orang jenius dan udah bikin sederet perusahaan teknologi raksasa. Sebut saja Tesla, SpaceX, Boring Company, OpenAI, hingga Neuralink yang baru-baru ini bikin geger gara-gara menanamkan microchip implan di otak monyet.

Berkat kepiawaiannya di dunia teknologi, Musk juga jadi salah satu orang terkaya di dunia versi Forbes per 20 Februari. Kekayaan Musk ditaksir mencapai 184,9 miliar dolar AS (sekitar Rp 2.582 triliun).

Kesuksesan Musk membangun kerajaan teknologi ini gak datang cuma dalam semalam. Ia banyak melewati peristiwa di kehidupannya sebelum sampai di posisi ini, misalnya beremigrasi dari tempat kelahirannya, Afrika, hingga menjadi korban bullying.

Ingin tahu selengkapnya tentang sosok Musk? Kalian bisa baca profil Elon Musk selengkapnya.

Oke, cukup ngomongin Musk. Sekarang kita ngomongin, perseteruan antara Australia dengan dua raksasa Silicon Valley.

Australia vs Google dan Facebook

Kalian bisa bayangin enggak sih, kalau suatu hari harus hidup tanpa Google Search dan Facebook? Rasanya sulit ya.

Tapi ancaman hidup tanpa "Mbah Google" benar-benar sedang dirasakan oleh warga Australia, lho.

Kok bisa?

Ternyata, pemerintah Australia rencananya bakal mengesahkan undang-udang (UU) baru bernama News Media Bargaining Code Law.

Baca juga: Warga Australia Tak Bisa Lagi Baca Berita dari Facebook

Ilustrasi Google, Google Search, mesin pencarianShutterstock Ilustrasi Google, Google Search, mesin pencarian
Ini UU tentang apa sih?

Undang-undang itu nantinya bakal mewajibkan perusahaan teknologi seperti Google dan Facebook untuk membayar komisi kepada perusahan media lokal Australia, untuk setiap artikel berita yang muncul di cuplikan (snippet) dan tautan Google Search.

Soalnya, pemerintah Australia ini menilai, industri media lokal Australia kehilangan pendapatan iklan gara-gara Google dan Facebook.

Nah, Google dan Facebook ini menolak aturan tersebut. Mereka gak mau aturan itu disahkan. Alasannya karena, menurut mereka, UU itu bisa menjadi preseden global.

Khusus Google, dia bilang UU itu bakal mendatangkan risiko keuangan dan operasional perusahaannya.

Jadi, mesin pencarian raksasa ini ngajuin dua opsi ke pemerintah Australia, yaitu opsi agar pemerintah Australia merevisi UU tersebut atau terpaksa Google yang angkat kaki dari Australia.

Kalau Facebook, dia lebih memilih untuk memblokir konten berita secara keseluruhan di platformnya untuk warga Australia.

Terus dampaknya ke kita apa?

Selain warga Australia yang nggak bisa lagi baca berita di Facebook, pengguna Facebook di luar Australia juga nggak akan bisa melihat postingan berita asal Australia atau membagikan berita yang berasal dari negara tersebut di Facebook. Begituuu..

Masih soal UU nih, tapi kali ini beritanya datang dari dalam negeri.

Wacana revisi pasal karet UU ITE

Kenapa sih kok UU ITE jadi ramai lagi?

Jadi awal mulanya itu gara-gara Presiden Joko Widodo menyinggung soal wacana revisi UU ITE ini saat rapat terbatas, Senin (15/2/2021).

Bapak Presiden bilang, ia bisa meminta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) merevisi UU ITE, apabila implementasinya dirasa tidak adil.

Selain itu, Pak Jokowi juga bilang, ia bisa meminta DPR untuk melakukan revisi dan menghapus pasal-pasal karet dalam UU ITE tersebut.

Seperti yang diketahui, sejak kemunculannya, UU ITE memang kerap menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Alasannya, beberapa butir dalam undang-undang tersebut dianggap membatasi kebebasan masyarakat dalam menyuarakan pendapatnnya di ruang maya.

Pasal mana tuh?

Salah satu pasal bermasalah yang dimaksud itu pasal 27 ayat 3 tentang defamasi.

Pasal ini disebut dapat digunakan untuk mengekang kegiatan berekspresi warga, aktivis, dan jurnalis. Selain itu juga mengekang warga untuk mengkritik pihak polisi dan pemerintah.

Ada pasal bermasalah lainnya?

Ada banget. Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network (Safenet), Damar Juniarto mengungkapkan ada delapan pasal bermasalah lainnya dalam UU ITE.

Mau tau apa saja pasal-pasal tersebut? Baca selengkapnya di artikel 9 "Pasal Karet" dalam UU ITE yang Perlu Direvisi.

Udah segitu aja soal UU ITE? Enggak dong. Gara-gara wacana revisi UU ITE ini, Kepolisian RI juga malah ingin segera mengaktifkan polisi virtual atau polisi di dunia maya.

Baca juga: Polemik Pasal Karet UU ITE, dari Permintaan Jokowi hingga Desakan Revisi

Wait... Buat apa polisi di dunia maya?

Kata Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo, polisi virtual ini dibuat buat memberikan edukasi kepada masyarakat di media sosial, jika ada unggahan yang bisa dijerat dengan UU ITE.

Selain mengedukasi, polisi virtual ini juga bakal bisa menegur dan ngasih tahu netizen apa yang sebaiknya dilakukan.

Polisi virtual ini isinya siapa aja?

Kalau kata Pak Kapolri sih, pihaknya ingin kerja sama dengan Kominfo, pegiat media sosial, dan influencer.

Ilustrasi Aplikasi Clubhousepcmag.com Ilustrasi Aplikasi Clubhouse
Soal apa lagi?

Clubhouse! Kalian pasti udah sering melihat nama Clubhouse ini berseliweran di timeline media sosial kalian.

Gak heran, karena Clubhouse belakangan ini menjadi topik terhangat di KompasTekno, bahkan di jagat maya.

Aplikasi apalagi ini?

Clubhouse itu merupakan sebuah media sosial berbasis audio. Aplikasi buatan paul davidson dan Rohona Seth baru aja dirilis pada Maret 2020 lalu.

Clubhouse ini mirip dengan Podcast. Bedanya, di Clubhouse, pengguna bisa diskusi atau ngobrol dengan pengguna lainnya secara langsung (real-time).

Deretan orang-orang terkenal, dari dalam maupun luar negeri, juga sudah banyak, lho, yang bikin acara diskusi atau ngobrol-ngobrol santai di aplikasi Clubhouse ini.

Baca juga: Apa Itu Clubhouse, Medsos Baru yang Dipopulerkan Elon Musk

Mau ikutan gabung? 

Eits, tidak semudah itu Fergusooo! Ada lima fakta penting yang harus kalian ketahui sebelum mencoba bergabung di Clubhouse.

Apa aja? Pertama, aplikasi ini sekarang baru bisa diunduh dan digunakan oleh orang-orang pakai ponsel dengan sistem operasi iOS versi 13 atau lebih baru. Oiya, belum tentu orang yang udah unduh Clubhouse otomatis bisa langsung join juga loh.

Kok gitu? Iya soalnya, sistem gabung di Clubhouse itu unik. Pengguna baru harus dapet link undangan dari pengguna Clubhouse yang udah punya akun.

Terus pengguna Android gimana nasibnya? Seperti biasa, pengguna Android harus banyak-banyak mengelus dada dan bersabar. Mau tau tiga fakta lain soal Clubhouse? Baca selengkapnya di artikel 5 Fakta terkait Clubhouse.

Belom selesai, guys, bahas Clubhousenya.

Ada apalagi?

Walau lagi naik daun di Indonesia, aplikasi Clubhouse ini terancam diblokir oleh Kominfo, lho.

Soalnya, usut punya usut, Clubhouse ini ternyata belum terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Indonesia.

Emang aplikasi perlu daftar-daftar juga gitu? Perlu dong. Menurut Juru Bicara Kementerian Kominfo Dedy Permadi, ketentuan ini sesuai dengan Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2020 yang diundangkan pada November 2020 lalu.

Setiap PSE yang ada di Indonesia harus mendaftarkan diri dalam kurun waktu enam bulan sejak Peraturan Menteri itu berlaku. Artinya, Clubhouse memiliki waktu setidaknya hingga 24 Mei 2021 untuk mendaftarkan diri.

Baca juga: Aplikasi Clubhouse Terancam Diblokir Kominfo

Terus kalo belum daftar sampai tanggal deadline, bakal diapain Clubhouse-nya? Kata Dedy, Clubhouse bisa dapat sanksi administrasi berupa pemutusan akses. 

Jadi, ayo Clubhouse segera daftarkan dirimu ke Kominfo!

Oke, next! Siapa yang habis dapet angpao dan lagi nyari smartphone baru dengan harga terjangkau?

Samsung Galaxy M02GSM Arena Samsung Galaxy M02
Ponsel entry-level Samsung hadir lagi

Samsung Galaxy M02 boleh jadi pertimbangan kalian nih, guys.

Smartphone entry level terbaru dari Samsung ini menawarkan beberapa aspek unggulan, salah satunya baterai jumbo berkapasitas 5000 mAh.

Enggak hanya itu, Galaxy M02 juga dibekali dengan kamera utama 13 MP (f/1.9) dan kamera makro 2 MP (f/2.4) yang ada dibagian punggung, dan satu kamera selfie beresolusi 5MP (f/2.0).

Ponsel ini dibanderol dengan harga Rp 1.349.000. Spesifikasi lengkapnya bisa dibaca di sini ya.

Eh, masih belom scroll ke bawah? Masih nungguin info promo ya? wkwk.

Samsung juga ngadain promo khusus dalam sesi flash-sale yang bakal digelar oleh Samsung pada 22-25 Februari mendatang.

Pada sesi flash-sale, Galaxy M02 akan dijual dengan harga sebesar Rp 1.299.000, sudah termasuk bonus earphone original Samsung senilai Rp 149.000.

Masih ada lagi soal gadget?

Masih, tenang.... Kali ini datang dari brand lain, yaitu BlackBerry. Merek ponsel yang sempat booming pada 2008-2010 ini dikabarkan akan hadir lagi di pasaran.

Bukannya udah nggak diproduksi lagi?

Iya, waktu 2016, BlackBerry secara resmi berhenti produksi ponselnya sendiri. Tapi BlackBerry masih melisensikan mereknya ke perusahaan China, TLC.

TLC sempat membuat produk di bawah merek BlackBerry selama empat tahun. Tapi dia akhirnya dia nyerah juga. Agustus 2020 lalu, TLC juga mengumumkan berhenti produksi ponsel BlackBerry.

Nah, terus ini siapa sekarang yang buat BlackBerry?

Ternyata kali ini ada perusahaan startup asal AS namanya OnwardMobility yang tertarik bikin BlackBerry lagi. OnwardMobility pengen menghadirkan smartphone BlackBerry yang dibekali sistem operasi Android, keyboard fisik QWERTY, dan konektivitas 5G. Kabar bagus nih buat pencinta keyboard fisik.

Startup ini bekerja sama dengan FIH Mobile, pabrikan ponsel Android di bawah Foxconn.

Bakal dirilis kapan?

Katanya sih 2021 ya, tapi OnwardMobility juga masih belum ngasih kabar kapan persisnya smartphone BlackBerry tersebut akan dirilis. Ditunggu aja ya, kalau mau.

Warnet disulap jadi tambang aset kripto

Ada satu berita lagi ,nih, yang sayang kalau dilewatkan. Jadi ada salah satu warung internet (warnet) di Vietnam yang disulap jadi tempat menambang aset kripto.

Beneran disulap? Enggak, maksudnya warnet ini berubah fungsi jadi buat aktivitas menambang aset kripto.

Kenapa banting setir begitu? Usut punya usut, ternyata warnet ini sepi pengunjung gara-gara Covid-19 ini. Akhirnya sang pengelola muter otak untuk dapat pemasukan. Jadilah warnet untuk menambang aset kripto.

Terus nambangnya pake apa? Kalau hardware-nya, sih, tetap pakai PC yang sudah ada. Selain itu, sang pengelola juga pakai kartu-kartu grafis Nvidia yang langka itu, lho, tepatnya model GeForce RTX 3080.

Emang untung ya nambang aset kripto? Walaupun bayar listriknya jadi lebih mahal, sang pengelola warnet mengaku untung. Ini juga gara-gara harga Bitcoin dan Ethereum yang lagi pada tinggi.

Menurut pantauan KompasTekno, per 20 Februari harga satu Bitcoin bernilai Rp 768.960.451.60. Sedangkan, satu Ethereum bernilai Rp 27.767.938. Hmmm... menggiurkan. 

 Baca juga: 5 Besar Penguasa Pasar Smartphone Global Kuartal IV-2020



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X