Kompas.com - 01/03/2021, 14:12 WIB
Ilustrasi internet, media sosial. SHUTTERSTOCKIlustrasi internet, media sosial.
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Hasil penelitian tersebut melaporkan bahwa skor DCI Indonesia tertinggi adalah berita bohong dan penipuan (47 persen), ujaran kebencian (27 persen), diskriminasi (13 persen).

Nilai persentase tersebut menggambarkan situasi interaksi dunia maya di Indonesia sekarang ini. Posisi Indonesia ini hanya lebih baik daripada Meksiko, Rusia, dan Afrika Selatan.

Tujuan Microsoft mengadakan penelitian pada sejumlah negara ini untuk memperlihatkan perilaku warganet terhadap sesama warganet. Apakah saling menghargai atau merusak hubungan sesama warganet.

Dengan demikian, diharapkan hasil penelitian ini menjadi kesempatan yang baik untuk kembali kepada etika komunikasi yang sehat, nyaman, bukan hoaks. Mewaspadai cyber crime yang selalu mencari mangsa. Sebab, apabila kondisi ini dibiarkan akan semakin parah dan menjadi warisan tidak sehat untuk generasi mendatang.

Pada dasarnya selama ini kita sudah memiliki norma sosial dan jati diri yang sangat baik, yaitu ramah, sopan, saling menghargai, menerima perbedaan, gotong royong. Di dalam dunia maya pun sebaiknya seperti ini juga, bukan bertolak belakang.

Polisi virtual

Berkembangnya dunia maya akan terus berlangsung karena sudah menjadi bagian dari era globalisasi.

Kompas cetak tanggal 27 Februari 2021 menulis tentang hadirnya polisi virtual berdasarkan Surat Edaran Kapolri Nomor 2 Tahun 2021 tentang Kesadaran Budaya Beretika untuk Mewujudkan Ruang Digital Indonesia yang Bersih, Sehat, dan Produktif.

Terbentuknya polisi virtual karena ingin membentuk ruang digital yang sehat. Ruang yang menjunjung tinggi budaya dan etika dalam berinternet dan bermedia sosial.

Dengan demikian, mulai sekarang polisi virtual memantau dunia maya termasuk aktivitas media sosial. Selanjutnya akan memberi peringatan terhadap unggahan atau konten yang berpotensi melanggar UU No. 19/2016 tentang ITE.

Apabila diduga melanggar ITE maka akan meminta pendapat para ahli, misalnya ahli pidana, ahli bahasa, dan ahli ITE. Selain itu, memberi peringatan sebanyak dua kali.

Dengan cara ini diharapkan pengguna media sosial akan mengoreksi atau menghapus unggahan bermasalah tersebut.

Hadirnya polisi virtual ini memberi sinyal bahwa kita harus hati-hati dalam bermedia sosial di dunia maya sejak sekarang. Kita tidak bisa lagi mengunggah dan melempar konten sesuka hati kita.

Ada rambu-rambu yang harus dipahami agar kelak tidak bermasalah. Untuk mencapai ruang digital yang bersih, sehat, dan produktif memang harus dimulai dari diri sendiri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.