Melihat Maraknya Penipuan Berkedok Akun Resmi di Medsos

Kompas.com - 15/03/2021, 14:05 WIB
Ilustrasi akun Twitter CNNIlustrasi akun Twitter

KOMPAS.com - Media sosial menjadi salah satu platform paling mudah digunakan oleh pelanggan untuk menyampaikan komplain, masalah, hingga kritik dan saran kepada sutau institusi atau perusahaan.

Hal ini dimungkinkan karena institusi dan perusahaan memiliki akun layanan pelanggan (customer care) di media sosial, salah satunya Twitter. Sayangnya, kemudahan ini justru turut dimanfaatkan oleh sejumlah oknum untuk melakukan penipuan.

Hal ini mengingat maraknya akun penipuan di Twitter. Setidaknya begitulah yang ditemukan oleh Ismail Fahmi, Pendiri dari Drone Emprit and Media Kernels Indonesia.

Baca juga: Awas, Ada Penipuan Berkedok Akun Layanan Konsumen di Medsos

Baru-baru ini, melalui sebuah kicauan di Twitter, Ismail melaporkan hasil analisis Drone Emprit terkait banyaknya akun-akun penipu di Twitter yang mencatut nama-nama perusahaan bank di Tanah Air.

Hasil tersebut didapatkannya setelah menganalisis tweet dan mention yang mengandung kata kunci "Live Chat" dan "Halo BCA". Menurut Ismail, akun-akun penipu ini menargetkan nasabah dari bank BNI, BRI, Mandiri, BCA, dan Jenius.

"Betapa masif dan telanjang di depan mata upaya penipuan terjadi," tulis Ismail.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penipu punya program otomatis untuk mengincar korban

Ismail menjelaskan, para penipu itu menggunakan bot untuk mengirim pesan kepada para nasabah yang sedang panik karena mengalami kendala urusan perbankan.

"Mereka (penipu) itu punya bot (program otomatis) yang memonitor semua percakapan yang mengandung kata, misalnya HaloBCA, BNI, dan sebagainya," kata Ismail saat dihubungi Kompas.com.

Di twit terpisah, Ismail melaporkan bahwa selama dua bulan terakhir, setidaknya ada 331 akun penipu yang mengatasnamakan diri sebagai Halo BCA. Akun-akun penipu ini menggunakan logo Bank BCA, beserta nama yang sama dengan akun asli Halo BCA.

Baca juga: Alasan Orang Indonesia Sering Jadi Korban Penipuan lewat Modus OTP

Layanan pelanggan resmi Bank BCA di Twitter menggunakan nama Halo BCA dan logo resmi Bank BCA. Selain itu memiliki handle @HaloBCA lengkap dengan tanda ventang biru (verified account).

Sedangkan, 331 akun-akun palsu tersebut juga menggunakan logo dan nama yang sama dengan akun Halo BCA resmi.

Bedanya, username akun-akun tersebut disertai dengan embel-embel nomor acak, seperti @HaloBCA45886745, @HaloBCA94345256, @qHal0BCA, dan sebagainya.

Selain marak, Ismail mengungkapkan akun-akun penipu berkedok Halo BCA ini juga aktif megirimi pesan di Twitter.

Analisis Drone Emprit mencatat engagement akun palsu ini ada yang mencapai 105 engagement per akun. Sedangkan, akun resmi @HaloBCA memiliki 466 engagement.

Tak hanya akun Halo BCA, Ismail sebelumnya juga membeberkan araknya akun penipu yang mencatut nama akun layanan pelanggan Bank BNI dengan handle @BNICustomerCare.

Analisis Drone Emprit menemukan setidaknya ada 113 akun penipu mengatasnamakan layanan pelanggan BNI dalam satu minggu.

Baca juga: Apa Itu Penipuan Phising dan Bagaimana Cara Menghindarinya?

Sama seperti kasus Halo BCA, semua akun penipu yang berkedok sebagai layanan pelanggan Bank BNI juga menggunakan nama "BNICustomerCare" dan username dengan angka random di belakangnya.

Menurut Ismail, akun-akun penipu ini paling sering atau sekitar 66 persen membalas twit pengguna yang komplain ke akun resmi Bank BNI .

"Artinya, memang ada program bot dari para penipu ini yang otomatis mengawasi, mereply, dan mengarahkan pengguna ke nomor chat WA penipu," tulis Ismail.

Satu pengguna bisa diserbu delapan penipu

Saking maraknya akun penipu di Twitter, Ismail mengungkapkan satu pengguna yang menguggah twit atau mention berisi komplain dapat diserbu oleh enam hingga delapan akun penipu sekaligus.

Tak ayal beberapa pelanggan juga akhirnya menjadi korban dari akun-akun abal-abal ini. Melalui kicauan di Twitter, beberapa korban mengaku tertipu akun-akun bodong ini dengan jumlah yang beragam, mulai Rp 2 juta, Rp 4,5 juta, hingga Rp 16 juta.

Cara menghindari penipuan

Oleh karena itu, Ismail sendiri menyarankan agar para pelanggan bank untuk tidak menyampaikan komplain atau masalah perbankannya melalui twit atau mention melalui akun resmi perusahaan atau institusi.

"Saran saya, nomor satu jangan mengadu atau melaporkan punya masalah di media sosial apapun. Karena itu akan langsung disambar oleh penipu ," ungkap Ismail saat dihubungi KompasTekno, Senin (15/3/2021).

Kalau tetap ingin mengadukan masalah via media sosial, salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menyampaikannya melalui direct message kapada akun resmi layanan pelanggan dari instansi atau perusahaan yang dimaksud.

Menurut Ismail, fitur direct message bisa dijadikan alternatif untuk menyampaikan kompalin atau masalah karena pesan DM ini tidak bisa diketahui oleh orang lain.

Baca juga: Tips Menghindari Penipuan Berkedok Akun Layanan Konsumen di Medsos

"Jangan sampai ketahuan orang kalo kita punya masalah. Itu kuncinya di situ. Orang punya masalah perbankan itu, kesempatan untuk para penipu. Mereka sudah menggunakan bot untuk otomatis mendeteksi," kata Ismail.

Namun jika sudah terlanjur menyampaikan komplain secara terbuka lewat mention dan twit, pelanggan perlu memastikan akun yang di-mention dan membalas twit komplain tersebut merupakan akun resmi.

Caranya, cek apakah akun sudah memiliki centang biru. Lalu lihat apakah akun memiliki embel-embel angka acak di username-nya. Jika terdapat deretan angka acak, kemungkinan besar ini adalah akun penipu.

"Ada centang biru, itu nomor satu. Itu kuncinya. Mau apapun tampaknya kalo nggak ada centang biru jangan percaya," lanjut Ismail.

Selanjutnya, pengguna juga perlu berhati-hati ketika ada akun yang mengarahkan pengguna untuk menjelaskan lebih lanjut soal masalah atau kendala yang dihadapinya melalui chat Whatsapp atau direct message di media sosial.

"Sudah lupakan saja itu. Mending langsung telpon ke nomor customer service saja," kata Ismail.

 



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.