Junta Militer Myanmar Perintahkan Operator Seluler Matikan Internet

Kompas.com - 02/04/2021, 07:31 WIB
Dalam file foto yang diambil pada 12 Februari 2020 ini, militer Myanmar ikut serta dalam upacara untuk menandai Hari Persatuan Nasional ke-73 di Yangon. AFP/SAI AUNG MAINDalam file foto yang diambil pada 12 Februari 2020 ini, militer Myanmar ikut serta dalam upacara untuk menandai Hari Persatuan Nasional ke-73 di Yangon.

KOMPAS.com - Situasi di Myanmar dilaporkan kian memanas sejak kudeta militer pada 1 Februari lalu.

Sekitar sepekan setelah kudeta, junta militer langsung memerintahkan operator seluler di Myanmar untuk memblokir sejumlah media sosial, seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, Messanger, dan Twitter.

Pemerintah militer Myanmar beralasan lima media sosial itu telah menjadi sarang informasi pemicu perpecahan dan kekerasan di negaranya.

Tak cukup memblokir media sosial, kini junta militer Myanmar memerintahkan operator seluler untuk menutup layanan internet.

Kabar ini diketahui dari salah satu sumber yang berkecimpung di industri telekomunikasi Myanmar.

Ia menyatakan dalam sebuah surat elektronik bahwa junta militer telah memerintahkan penyedia layanan internet di Myanmar untuk menutup layanan internet di negara tersebut sampai waktu yang belum ditentukan.

Sumber tersebut juga mengabarkan bahwa pemblokiran akses ke internet ini akan terus berlanjut dan para penyedia layanan internet mau tidak mau harus menuruti perintah tersebut karena memiliki dasar hukum dalam Undang-Undang Telekomunikasi Myanmar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sayangnya, kali ini pemerintah militer Myanmar tak menyertakan alasan pemblokiran layanan internet di negara tersebut, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Reuters, Jumat (2/4/2021).

Baca juga: Ini Dia Video YouTube Ampun Bang Jago yang Jadi Saksi Detik-detik Kudeta di Myanmar

Situasi di Myanmar pasca-kudeta militer dilaporkan semakin memburuk. Sepanjang Maret, pasukan keamanan Myanmar dilaporkan menggerebek dan melepaskan tembakan ke sejumlah rumah sakit dan klinik swasta di Yangon.

Tak hanya itu, junta militer Myanmar juga menggelar serangan udara ke desa, dan memaksa penduduknya mengungsi di hutan.

Hingga Rabu (31/3/2021), Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) melaporkan ada sekitar 2.729 orang telah ditangkap dan 536 orang telah terbunuh dalam demonstrasi gerakan anti-kudeta Myanmar.

Namun disebutkan bahwa jumlah sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi, sebagaimana dihimpun dari AFP.

Baca juga: YouTube Hapus 5 Kanal Militer Myanmar



Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X