Mahkamah Agung AS Tetapkan Android Tak Melanggar Hak Cipta Java

Kompas.com - 07/04/2021, 13:09 WIB
Tampilan home screen dan browser pada sistem operasi Android 1.0. Computer WorldTampilan home screen dan browser pada sistem operasi Android 1.0.

Alih-alih menggunakan lisensi Java API, Google justru membuat pustaka sendiri dengan mengambil 11.500 baris kode yang dianggap sentral untuk Java dari Apache Harmony.

Apache Harmony sendiri adalah sebuah implementasi Java cleanroom open-source yang dikembangkan oleh Apache Software Foundation (ASF).

Nah, ketika Oracle mengakuisisi Sun Microsystems, perusahaan penyedia teknologi komputer akhirnya menggugat Google atas pelanggaran hak cipta dan paten Java API di Pengadilan Distrik wilayah Utara California.

Dalam gugatan pertama, Oracle menegaskan bahwa Google menyadari bahwa mereka telah mengembangkan Android tanpa lisensi Java dan menyalin API-nya. Oleh karena itu, Oracle menilai Google melanggar hak cipta Oracle.

Baca juga: Ada Java di Android, Google Terancam Denda Rp 124 Triliun

Oracle menuntut ganti rugi uang hingga 9 miliar dollar AS (sekitar Rp 129,8 triliun) serta meminta pengadilan agar memerintahkan Google berhenti menggunakan barisan kode yang diduga melanggar hak cipta.

Dalam perjalannya, juri di pengadilan juga menemukan bahwa Android tidak melanggar hak cipta milik Oracle karena penggunaan ulang ribuan barisan kode dari Java API itu dilindungi oleh ketentuan fair use

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada 2019, Google mengajukan petisi kepada Mahkamah Agung atas dua putusan pengadilan yang menguntungkan Oracle.

Dalam petisinya, Google mempertanyakan apakah hak cipta meluas ke antarmuka perangkat lunak seperti API, dan apakah penggunaan Java API oleh Google termasuk dalam penggunaan wajar seperti yang ditemukan di persidangan juri.

Akhirnya, seperti disebutkan tadi, enam hakim Mahkamah Agung AS setuju bahwa penggunaan kode Java di Android oleh Google termasuk penggunaan yang diperkenankan dan tidak melanggar hak cipta Oracle.

"Penggunaannya konsisten dengan 'kemajuan' kreatif yang merupakan tujuan konstitusional dasar dari hak cipta itu sendiri," kata Stephen Breyer, salah satu dari enam hakim tersebut, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari CNBC, Rabu (7/4/2021).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Sumber CNBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.