Jack Ma Muncul Bersama Presiden Rusia Usai Alibaba Didenda

Kompas.com - 16/04/2021, 17:58 WIB
Foto tertanggal 15 Mei 2019 menampilkan salah satu pendiri Alibaba, Jack Ma, menghadiri acara Tech for Good di Paris, Perancis. AP PHOTO/THIBAULT CAMUSFoto tertanggal 15 Mei 2019 menampilkan salah satu pendiri Alibaba, Jack Ma, menghadiri acara Tech for Good di Paris, Perancis.

KOMPAS.com - Setelah terakhir kali muncul di hadapan publik pada Januari 2021 lalu, pendiri Alibaba Group, Jack Ma kembali menampakkan diri.

Kali ini, pria berusia 56 tahun itu terlihat tengah menghadiri sebuah video konferensi online yang turut dihadiri oleh Presiden RusiaVladimir Putin.

Setelah dirunut, pertemuan itu dibuat oleh Russian Geographical Society. Jack Ma terlihat rapi dengan setelan jas yang dikenakannya. Selama sesi acara berlangsung, Ma terlihat fokus mendengarkan pidato Putin.

Saking fokusnya, ia bahkan tidak mengucapkan satu kata pun. Sesekali, Ma terlihat bergerak untuk menyesap secangkir teh yang dihidangkan di mejanya.

Baca juga: Rekaman Penerbangan Ungkap Aktivitas Jack Ma Selama Menghilang

Belakangan ini, gerak-gerik Jack Ma memang semakin misterius. Bahkan tidak ada yang tahu persis di mana letak keberadaan Jack Ma saat ini. Seakan-akan, mantan guru bahasa Inggris ini mencoba untuk menutup diri dari sorotan publik.

Jack Ma terlihat menghadiri acara pertemuan online yang dipimpin oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin.Media Asia SYHP/Weibo Jack Ma terlihat menghadiri acara pertemuan online yang dipimpin oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Tidak diketahui sebab pasti apa yang menyebabkan Jack Ma berperilaku seperti ini. Namun terdapat dugaan hal ini turut dipengaruhi oleh keputusan yang diambil pemerintah China beberapa waktu lalu.

Pertama setelah Alibaba didenda

Kemunculan Jack Ma ini menjadi yang pertama setelah Alibaba dijatuhi denda. Pada minggu lalu, badan pengawas anti-monopoli China mendenda Alibaba Group 2,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 40,7 triliun) atas tuduhan melanggar monopoli.

Adapun praktik monopoli yang dimaksud seperti tindakan pemaksaan yang dilakukan kepada pedagang di situs e-commerce Alibaba.

Para mitra pedagang tersebut dipaksa untuk menyetujui pakta kerjasama eksklusif dan perjanjian yang mengatur pedagang untuk tidak menggunakan platform serupa lainnya.

Sebagai respon atas gugatan tersebut, pihak Alibaba akhirnya menyetujui hukuman yang dijatuhkan oleh badan pengawas anti-monopoli China.

Baca juga: Drama Jack Ma, Kritik Pemerintah, Diisukan Tewas, hingga Muncul di Video 50 Detik

Dihimpun KompasTekno dari CNBC, Jumat (16/4/2021), Alibaba bahkan turut berjanji untuk bersikap kooperatif, mematuhi keputusan SAMR, dan memperbaiki sistem internal perusahaan.

"Kami (Alibaba) tidak akan bisa berada di titik pencapaian ini tanpa adanya regulasi dan layanan pemerintah yang baik, serta pengawasan kritis, toleransi, dan dukungan dari semua konstituen yang sangat penting bagi perkembangan bisnis kami," kata Alibaba.

Sebelumnya, Ma juga sempat dilaporkan hilang selama tiga bulan paska mengkritik pemerintah China tentang regulasi finansial dan perbankan di Negeri Panda dalam sebuah pidato di Shanghai, 24 Oktober lalu.

Saat itu, Jack Ma menilai regulasi yang diberlakukan pemerintah China justru mengekang inovasi dan perlu dirombak ulang.



Sumber CNBC
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X