kolom

Nasib Maskapai Indonesia di Ujung Tanduk

Kompas.com - 20/04/2021, 11:03 WIB
Pekerja melakukan bongkar muat kargo dari pesawat Garuda Indonesia saat tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Blangbintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Jumat (9/4/2021). Pemerintah menerbitkan aturan pengendalian transportasi mudik, baik moda darat, udara, laut dan perkeretaapian pada 6 - 17 Mei 2021, dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Ampelsa/aww. ANTARA FOTO/AMPELSAPekerja melakukan bongkar muat kargo dari pesawat Garuda Indonesia saat tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Blangbintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Jumat (9/4/2021). Pemerintah menerbitkan aturan pengendalian transportasi mudik, baik moda darat, udara, laut dan perkeretaapian pada 6 - 17 Mei 2021, dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Ampelsa/aww.

Sedangkan pergerakan kargo udara turun 7,4 persen dari 481,18 ribu ton menjadi 445,13 ribu ton. Pergerakan pesawat turun 45,3 persen, dari 704.669 pergerakan menjadi 385.345 pergerakan.

Artinya dalam setiap penerbangan pesawat rata-rata hanya mengangkut 82,6 orang. Jika kapasitas tiap pesawat rata-rata 180 kursi, maka tingkat keterisian (load factor) hanya 45,8 persen.

Sedangkan data dari PT Angkasa Pura 2, dari 19 bandara yang dioperasikan, jumlah pergerakan penumpang hanya 35,54 juta pergerakan. Sedangkan pergerakan pesawat 412.186 pergerakan. Rata-rata keterisian pesawat dengan demikian hanya sekitar 49 persen.

Dengan load factor di bawah 50 persen, tentu dapat dikatakan maskapai-maskapai kita sedang tidak sehat.

Apalagi jika melihat harga jual tiket yang tarifnya rata-rata juga berada di batas tengah hingga batas bawah dari tarif yang ditentukan oleh Kementerian Perhubungan. Pendapatan maskapai pun sangat minim. Bisa dikatakan, maskapai kita sudah jatuh tertimpa tangga.

Jika merujuk pada riset INACA dan Unpad di atas, masih perlu 4 tahun lagi atau minimal satu tahun ke depan kondisi penerbangan domestik yang menjadi tulang punggung bisnis maskapai nasional, akan normal. Jadi maskapai masih harus dalam kenestapaan hingga menuju kondisi aman tersebut.

Sanggupkah maskapai nasional bertahan? Jika merujuk pada data saat ini, dari 14 maskapai besar (penumpang dan kargo) terdapat dua maskapai yang kondisinya kritis dan berhenti beroperasi sementara. Yang lainnya juga tak kalah kritis dan bahkan mengurangi kapasitas bisnis hingga lebih 50 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Akibatnya, lebih dari setengah pesawat tidak terbang, yang artinya adalah lebih dari separuh pegawai maskapai juga menganggur termasuk pilot, pramugari, teknisi dll. Begitupun bisnis-bisnis lain terkait seperti bandara, MRO, ground handling dan sebagainya juga mengurangi kapasitas bisnisnya.

Kebijakan pemerintah yang melarang masyarakat mudik pada lebaran tahun 2020 dan 2021 ini, menambah pukulan telak bagi bisnis maskapai. Karena pada musim mudik lebaran itulah maskapai panen, baik dari sisi jumlah penumpang maupun harga tiket.

Namun semua harus dilupakan, karena jika mudik diperbolehkan dikhawatirkan penyebaran Covid-19 lebih parah lagi. Tanpa panen, maskapai tentu harus berjuang lebih keras agar bisnisnya tidak terus menurun dan bangkrut.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.