Pengembang Game Indonesia Masih Andalkan Dana Pribadi untuk Produksi

Kompas.com - 23/04/2021, 12:32 WIB
Pria yang sedang bermain game PC (Dok. Shutterstock) Pria yang sedang bermain game PC
Penulis Bill Clinten
|

KOMPAS.com - Untuk memproduksi sebuah game, para pengembang (developer) biasanya mendapatkan kucuran dana dari investor atau pemodal.

Namun, mayoritas developer game di Indonesia ternyata masih mengandalkan dana pribadi supaya proses produksi suatu produk bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Hal tersebut diketahui dari riset yang dibuat Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), serta Asosiasi Game Indonesia (AGI) yang bertajuk "Peta Ekosistem Industri Game Indonesia 2020".

Riset ini melibatkan 80 responden yang terdiri dari pengembang dan penerbit game dengan skala bisnis kecil hingga besar yang disurvei pada 31 Juli - 11 September 2020 lalu.

Dari puluhan responden tersebut, sekitar 67,5 persen mengaku masih mengandalkan dana pribadi untuk kegiatan produksi dan operasional perusahaan mereka sendiri.

Baca juga: Perusahaan Induk TikTok Akuisisi Pengembang Game Mobile Legends

Bagan yang menggambarkan pendanaan developer game Indonesia yang mayoritas berasal dari dana pribadi.Kominfo Bagan yang menggambarkan pendanaan developer game Indonesia yang mayoritas berasal dari dana pribadi.
Sementara itu, responden lainnya mendapatkan dana dari Angel Investment (10,8 persen), Venture Capital Investment (4,8 persen), Incubator/Accelerator (3,6 persen), Crowdfunding (1,2 persen), dan sumber pendanaan lainnya (12 persen).

Adapun mayoritas investor yaitu sekitar 60 persen berasal dari dalam negeri, sedangkan dari luar negeri berkisar 30 persen, dan investor gabungan dari keduanya sebesar 10 persen.

Masalah pendanaan ini juga menjadi momok bagi para pengembang game lokal. Dalam riset ini, sebanyak 66,7 persen responden mengaku pernah mengalami gagal produksi, sementara 33,3 persen tidak pernah mengalaminya.

Dari 66,7 persen tersebut, kekurangan dana menjadi alasan utama dari developer game yang pernah gagal produksi dengen persentase responden 35,3 persen, disusul dengan kegagalan teknis (27 persen), kekurangan SDM (29,4 persen), dan alasan lainnya (8,2 persen).

Baca juga: Epic Games Caplok Studio Pengembang Game Fall Guys

"Dalam aspek ini, pengembang skala kecil dan menengah menyatakan bahwa pendanaan menjadi masalah bisnis yang utama. Sebaliknya bagi pengembang skala besar permasalahan yang sering muncul adalah investasi dan matchmaking," tulis laporan tersebut. 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X