kolom

Satelit Satria Angkat Martabat 26,5 Juta Penduduk 3T

Kompas.com - 13/07/2021, 13:02 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.

Mustahil menghubungkan titik-titik tadi dengan kabel, serat optik (FO) atau sinyal seluler karena terdiri dari 93.000 sekolah/madrasah, kantor desa-kecamatan sebanyak 47.900. Juga puskesmas dan rumah sakit sebanyak 3.700 buah, Polsek dan Pos TNI ada 3.900 dan kantor-kantor pemerintah lain sebanyak 600, semuanya di daerah terpencil.

Sebagian dari 83.218 desa di Indonesia, menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), ada 20.341 desa berada di wilayah 3T dan 9.113 desa di antaranya belum terjangkau layanan seluler generasi keempat (4G).

Kapasitas internet di desa-desa yang sudah terliput 4G pun, lewat VSAT (very small aperture terminal) baru sekadar 2 Mbps, beda dengan perkotaan yang kini sedikitnya 50 Mbps.

Berdasarkan saran BCG, pemerintah (BAKTI Kominfo) dengan skema KPBU (kerja sama pemerintah dengan badan usaha) kemudian membangun satelit multifungsi berteknologi HTS (high throughput satellite – satelit berkapasitas tinggi).

Satelit yang dinamai Satria 1 (Satelit Republik Indonesia) ini berkapasitas 150 Gbps (gigabyte per second/detik), kapasitas tertinggi satelit serupa di Asia Tenggara, yang kini sedang dibangun di pabrik dan akan diluncurkan tahun 2023 dari Florida, Amerika Serikat.

Menurut Direktur Utama Bakti, Anang Latif, harga Satria 1 sekitar Rp 7,1 triliun termasuk biaya peluncuran. Setiap tahun selama 15 tahun beroperasi sesuai usia rata-rata satelit, pemerintah membayar ke KPBU tadi Rp 1,4 triliun yang diambil dari dana USO (universal service obligation – kewajiban pemerintah memberi layanan publik), di luar pajak.

Dana USO didapat dari sumbangan operator yang dipungut 1,25 persen dari pendapatan kotor mereka, sekitar Rp 2,6 triliun hingga Rp 3 triliun per tahun berupa PNBP (penerimaan negara bukan pajak).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tumbuhkan ekonomi

Satelit HTS beda dengan satelit konvensional, yang cakupannya berupa footprint yang bisa seluas kawasan dari Asia Selatan, sebagian Asia Tenggara, Nusantara dan Australia Utara.

Cakupan satelit HTS berupa spot beam, atau titik cakupan seperti halnya cakupan BTS (base transceiver station yang radiusnya lima kilometeran).

Satelit Telkom yang akan dibangun dan diluncurkan tahun 2024, sebagian konvensional (C-Band dan XC-Band) berkapasitas 7 Gbps dan sebagian lagi HTS dengan Ku-Band berkapasitas 20 Gbps.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.