Kompas.com - 20/07/2021, 14:03 WIB

KOMPAS.com - Pasca-kerusuhan di Gedung Parlemen AS Capitol di Washington DC pada 6 Januari lalu, Donald Trump telah dilarang berkoar-koar oleh sejumlah media sosial populer.

Alhasil, Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Snapchat memblokir akun media sosial Presiden ke-45 Amerika Serikat itu.

Tak hanya itu, Google dan Apple juga menghapus aplikasi media sosial Parler dari toko aplikasi, karena dinilai terlalu banyak memuat unggahan yang mendorong kekerasan dan perbuatan kriminal.

Parler sendiri digunakan oleh para konservatif dan ekstremis sayap kanan pendukung Trump.

Baca juga: Diblokir di Media Sosial, Donald Trump Bikin Blog Pribadi

Nah, beragam aksi pemblokiran akun Trump dan penghapusan aplikasi dari toko aplikasi ini akhirnya dimanfaatkan oleh seorang pria bernama Erik Finman (22) untuk membuat ponsel "bebas, tanpa sensor" yang menyasar pendukung Donald Trump.

Ponsel itu diberi nama "Freedom Phone". Melalui sebuah video pendek berdurasi 2 menit 37 detik, Finman memperkenalkan Freedom Phone yang diklaim telah dibekali dengan berbagai fitur privasi anti-pelacakan dan memiliki toko aplikasi tanpa sensor.

"Perusahaan penguasa teknologi raksasa (Big Tech) telah melanggar privasi Anda, menyensor percakapan Anda, dan saya pikir itu sangat salah. Itulah mengapa saya membuat Freedom Phone," kata Finman.

Menurut situs resmi Freedom Phone, ponsel ini sudah bisa dibeli seharga 499,99 dollar AS (sekitar Rp 7,2 juta) dan akan mulai dikirimkan pada Agustus mendatang.

Tak dijelaskan secara detail spesifikasi ponsel ini, tetapi Finman mengatakan, ponsel ini dibekali dengan layar 6 inci, prosesor cepat, dan beberapa kamera.

Mirip ponsel China

Secara desain, Freedom Phone ini mirip dengan ponsel buatan vendor China, bernama Umidigi A9 Pro yang dibanderol seharga 119 dollar AS atau sekitar Rp 1,7 juta. Finman membenarkan bahwa dirinya bekerja sama dengan vendor Umidigi untuk memproduksi Freedom Phone ini.

Tampang ponsel Freedom Phone (kiri) dan Umidigi A9 Pro (kanan).PCMag Tampang ponsel Freedom Phone (kiri) dan Umidigi A9 Pro (kanan).

Bedanya, kali ini Finman mengaku telah mengembangkan sistem operasi mandiri "FreedomOS" dan toko aplikasi tanpa sensor "Patri App Store" untuk memberikan "kebebesan" pada pengguna.

Baca juga: Vendor Ponsel China Kuasai Lebih dari Separuh Pangsa Pasar Indonesia

Bila benar tanpa sensor, pendukung Trump bisa kembali mengunduh apikasi Parler yang sudah dihapus dari toko aplikasi iOS App Store dan Google Play Sore.

"Jika aplikasi yang Anda sukai telah dilarang dari toko aplikasi populer (App dan Google Play Store), Anda masih dapat mengunduhnya di toko aplikasi kami. Karena kami tidak melarang aplikasi," kata Finman.

Ia melanjutkan, sistem operasi FreedomOS juga telah didesain sedemikian rupa agar tidak dapat melacak aplikasi hingga lokasi pengguna.

"Kami juga memiliki 'Trust', penjaga privasi kami ini dirancang untuk memperingatkan Anda setiap kali aplikasi atau situs web melacak Anda, dan memberi Anda opsi untuk menghentikannya," kata Finman.

Freedom Phone ini telah mendapatkan dukungan dari sejumlah pendukung pro-Trump, misalnya komentator politik Candance Owens, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari PC Magazine, Selasa (20/7/2021).

Ironis

Keputusan Finman menggandeng vendor China untuk membuat ponsel "bebas, tanpa sensor" ini terkesan ironis.

Pasalnya, Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump kala itu kerap memberlakukan sanksi dagang pada sejumlah perusahaan asal China, entah berupa pelarangan investasi atau dimasukkan sebagai perusahaan dalam daftar hitam Entity List.

Baca juga: Xiaomi Dihapus dari Daftar Hitam AS

Hal ini karena sejumlah perusahaan China dikhawatirkan melakukan penyadapan dan memata-matai AS, sehingga membahayakan keamanan nasional AS.

Finman mengaku tidak mempunyai pilihan, selain menggandeng vendor China Umidigi untuk merealisasikan Freedom Phone ini. Salah satu alasannya ialah karena masalah biaya.

"Kami merancang ini antara lab desain saya dan mitra kami di Hong Kong untuk membuat ponsel yang custom. Sayangnya, mustahil untuk memproduksi ponsel di AS secara keseluruhan. Motorola mencoba dan menggelontorkan miliaran dollar AS, sampai sekarang itu tidak mungkin," kata Finman.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ookla: Kecepatan 5G iPhone 14 Pro Max Paling Kencang dari yang Lain

Ookla: Kecepatan 5G iPhone 14 Pro Max Paling Kencang dari yang Lain

Internet
Twitter Bakal Punya Centang Kuning dan Hijau

Twitter Bakal Punya Centang Kuning dan Hijau

Software
487 Juta Data WhatsApp Diduga Bocor, Ada Data Pengguna Indonesia

487 Juta Data WhatsApp Diduga Bocor, Ada Data Pengguna Indonesia

Internet
[POPULER TEKNO] Data 487 Juta Pengguna WhatsApp Bocor | AS Larang Impor Produk Huawei dan ZTE | 6 Tanda WA Diblokir Seseorang

[POPULER TEKNO] Data 487 Juta Pengguna WhatsApp Bocor | AS Larang Impor Produk Huawei dan ZTE | 6 Tanda WA Diblokir Seseorang

Internet
Pengertian Ubuntu, Sejarah, dan Fungsinya

Pengertian Ubuntu, Sejarah, dan Fungsinya

Software
Link Download Twibbon Hari Menanam Pohon Indonesia 2022 dan Cara Pakainya

Link Download Twibbon Hari Menanam Pohon Indonesia 2022 dan Cara Pakainya

Internet
Data 130.000 Pengguna WhatsApp di Indonesia Diduga Bocor dan Dijual Online

Data 130.000 Pengguna WhatsApp di Indonesia Diduga Bocor dan Dijual Online

Software
Samsung Galaxy S23 Pakai Chip Snapdragon 8 Gen 2 'Istimewa'?

Samsung Galaxy S23 Pakai Chip Snapdragon 8 Gen 2 "Istimewa"?

Gadget
Data 487 Juta Pengguna WhatsApp Global Diduga Bocor dan Dijual Online, Indonesia Termasuk

Data 487 Juta Pengguna WhatsApp Global Diduga Bocor dan Dijual Online, Indonesia Termasuk

Software
8 Fitur Tersembunyi Netflix, dari Matikan Autoplay hingga Hemat Data

8 Fitur Tersembunyi Netflix, dari Matikan Autoplay hingga Hemat Data

Software
Cara Nonton Piala Dunia 2022 di HP dan Laptop dengan Mudah

Cara Nonton Piala Dunia 2022 di HP dan Laptop dengan Mudah

Gadget
Cara Cari Channel Piala Dunia 2022 di TV Siaran Digital dengan Mudah

Cara Cari Channel Piala Dunia 2022 di TV Siaran Digital dengan Mudah

Hardware
Masalah Anak Kecanduan Game di China Berkurang berkat Aturan Ini

Masalah Anak Kecanduan Game di China Berkurang berkat Aturan Ini

e-Business
Pencarian Terkait  'Gempa Cianjur' di Google Naik di Seluruh Dunia

Pencarian Terkait "Gempa Cianjur" di Google Naik di Seluruh Dunia

Internet
4 Startup di Indonesia yang PHK Karyawan dalam Sebulan Terakhir

4 Startup di Indonesia yang PHK Karyawan dalam Sebulan Terakhir

e-Business
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.