Kompas.com - 06/09/2021, 13:09 WIB
Penulis Bill Clinten
|
Editor Oik Yusuf

KOMPAS.com - Pandemi membuat sebagian besar kegiatan yang biasanya dilakukan secara fisik beralih ke format daring (online). Banyak orang menggunakan platform telekonferensi seperti Zoom untuk mengadakan tatap muka virtual dengan rekan kerja, teman, atau keluarga.

Karena menggunakan tangkapan kamera untuk video call. Biasanya pengguna sering ikut melihat wajah sendiri di samping wajah orang lain dalam pertemuan online. Sebuah studi mengungkap bahwa hal ini ternyata bisa memicu gangguan kesehatan mental.

Baca juga: Riset: Mematikan Video Saat Zoom dan Google Meet Bisa Kurangi Kelelahan

Gangguan itu dijuluki sebagai "Zoom Dysmorphia" dan membuat penderitanya menjadi kurang percaya diri. Meski disebut demikian, gangguan kesehatan metal tersebut bisa terjadi pada pengguna platform telekonferensi manapun, bukan hanya Zoom saja.

Apa itu Zoom Dysmorphia yang bikin tak percaya diri?

Berdasarkan sebuah studi yang dirilis International Journal of Women's Dermatology, Zoom Dysmorphia adalah suatu kondisi di mana seseorang mudah cemas dan khawatir penampilan fisik aslinya di dunia nyata akan berbeda dengan tampilan di dunia virtual.

Rasa tidak percaya diri ini berasal dari seringnya penggunaan platform video call, serta pemanfaatan filter di platform tersebut untuk memoles tampilan wajah sendiri supaya enak dipandang oleh lawan bicara.

“Peningkatan waktu yang dihabiskan untuk melakukan konferensi video, menggunakan media sosial, dan menggunakan filter pada platform video call selama pandemi telah menyebabkan memburuknya persepsi akan diri sendiri dan kesehatan mental,” tulis para peneliti.

Baca juga: WFO Bikin Harga Saham Zoom Terpuruk

Gejala Zoom Dysmorphia  akan terlihat ketika pengguna mengetahui kegiatan yang selama ini dilakukan secara virtual akan beralih kembali ke kegiatan fisik seperti sebelum pandemi menerjang.

Studi tadi mengungkap 71 persen orang mengaku cemas ketika mereka diminta kembali bekerja ke kantor atau beraktivitas secara tatap muka seperti biasa, karena masalah kepercayaan diri yang turun akibat Zoom Dysmorphia.

Keluhan soal berat badan hingga jerawat

Riset berjudul "Life After Lockdown: Zooming Out on Perceptions in the Post-Videoconferencing Era" tersebut turut mengungkap kesulitan yang dialami dalam mengatasi gangguan Zoom Dysmorphia.

Sebagaimana dihimpun KompasTekno dari ScienceDirect, Senin (3/9/2021), sebanyak 64 persen dari 7.295 responden mengaku mereka memilih untuk mencari dukungan kesehatan mental demi membantu "menyembuhkan" kondisi tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.