Postingan Tidak Muncul di News Feed Teman, Facebook Menjelaskan

Kompas.com - 27/09/2021, 12:23 WIB
ilustrasi Facebook businessinsider.comilustrasi Facebook

KOMPAS.com - Facebook kerap mengubah kebijakannya dalam mengelola News Feed (berita beranda) di layanan media sosialnya. Tidak jarang perubahan kebijakan itu memunculkan kontroversi.

Pengguna seringkali mendapati postingan atau unggahannya tidak muncul di News Feed teman atau hanya mendapat respons, baik jumlah like atau comment, yang sedikit. Penyebabnya kemungkinan besar karena pembatasan dari Facebook.

Untuk perubahan tata kelola News Feed terbaru, Facebook akhirnya mempublikasikan penjelasan lebih rinci mengenai jenis konten seperti apa yang dibatasi kemunculannya di News Feed.

Konten tersebut hanya dibatasi, bukan dihapus sepenuhnya dari News Feed yang artinya akan berdampak pada keterjangkauan konten.

Dalam Pedoman Distribusi Konten, Facebook merinci puluhan jenis konten yang dibatasi, lengkap dengan alasannya.

Misalnya jenis konten clickbait yang didefinisikan Facebook sebagai konten yang memancing orang untuk mengeklik tautan, di mana konten menciptakan ekspektasi yang menyesatkan.

Facebook akan membatasi jenis konten ini karena berdasarkan feedback yang diterima, pengguna lebih suka melihat judul yang mewakili konten artikel secara akurat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Konten berisi misinformasi pemeriksaan fakta dan artikel yang tidak menyantumkan nama penulis secara transparan juga akan dibatasi peredarannya di News Feed Facebook.

Facebook juga akan membatasi konten yang mendekati kriteria melanggar dan kemungkinan melanggar standar komunitas.

Selain itu, konten yang diunggah oleh pengguna yang berulang kali melanggar kebijakan juga akan dibatasi. Jenis konten lain yang akan dibatasi di News Feed bisa dilihat di tautan berikut.

Baca juga: Facebook Portal Go dan Portal Plus untuk Video Call Meluncur, Harga Mulai Rp 2 Jutaan

Sayangnya, dalam pedoman tersebut tidak dijelaskan bagaimana cara kerja pembatasan konten. Facebook juga tidak mengungkap seberapa banyak pembatasan konten bisa mengurangi jangkauan konten.

"Kami ingin memberikan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang menurut kami bermasalah, tetapi tidak layak untuk dihapus," jelas Jason Hirsch, kepala kebijakan integritas Facebook, dirangkum KompasTekno dari The Verge, Senin (27/9/2021).

Hirsch menambahkan, Facebook berharap bisa menambahkan lebih banyak informasi untuk pedoman ini ke depannya, termasuk bagaimana pembatasan jenis konten spesifik bisa berdampak pada lainnya.

Dipublikasikannya transparansi pedoman ini memungkinkan Facebook terhindar dari kontroversi kebijakan News Feed ke depan.

Seperti saat salah satu artikel viral yang diterbitkan The New York Post tentang putra Presiden AS, Joe Biden yang "disembunyikan" karena dilaporkan sebagai informasi tidak akurat.

Artikel itu kemudian ditinjau oleh tim pemeriksa fakta pihak ketiga. Langkah Facebook tersebut memunculkan dugaan bahwa perusahaan jejaring sosial raksasa itu bias politik karena menyembunyikan konten dari New York Post.

Menurut Hirsch, informasi terbuka ini juga menjadi bagian dari upaya besar Facebook untuk mengungkap secara gamblang bagaimana cara kerja News Feed. Sebab, banyak perusahaan media dan politisi dunia menyebut Facebook memberikan efek negatif.

Legislator pun ingin membuat regulasi khusus untuk perusahaan media sosial agar mereka mengawasi platformnya, seperti yang dilakukan anggota parlemen AS.

Baca juga: Media Sosial dari Facebook hingga LinkedIn Berwarna Biru, Ini Alasannya

Facebook tepis tudingan jadi alat politik

Baru-baru ini, Facebook juga merilis laporan konten apa saja yang banyak diakses pengguna. Laporan itu secara halus menepis tudingan bahwa Facebook menjadi alat politik seperti yang selama ini ditudingkan banyak pihak.

Laporan triwulan itu mencakup domain, tautan, laman, dan unggahan yang melintas di News Feed Facebook. Secara keseluruhan, konten bernuansa politik tidak begitu banyak dikonsumsi ketimbang konten lain, seperti konten keluarga atau video hewan peliharaan.

Laporan ini sekaligus menjadi jawaban Facebook atas argumen dari reporter New York Times, Kevin Roose yang membuat akun Twitter khusus untuk menampilkan unggahan yang paling banyak mendapatkan engagement di Facebook setiap harinya.

Roose menghimpun data ini menggunakan CrowdTangle, alat monitor jejaring sosial yang dibuat oleh Facebook, Dari data matrik CrowdTangle, daftar teratas Facebook kerap diisi oleh politisi sayap kanan dan situs pendukungnya.

Namun, Facebook mengatakan bahwa unggahan Facebook dengan interaksi paling banyak, seperti mendapat banyak like, komentar, dan sering dibagikan, tidak merepresentasikan konten teratas di platformnya secara akurat.

Baca juga: Facebook Tepis Tudingan Jadi Alat Politik, Video Kucing Jadi Bukti

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.