Moch S. Hendrowijono
Pengamat Telekomunikasi

Mantan wartawan Kompas yang mengikuti perkembangan dunia transportasi dan telekomunikasi.

kolom

RI Punya Rp 7 Triliun di Merger Indosat–Tri

Kompas.com - 27/09/2021, 13:03 WIB
Ilustrasi merger Indosat Ooredoo dengan Hutchison Tri Indonesia. KOMPAS.com/Reska K. NistantoIlustrasi merger Indosat Ooredoo dengan Hutchison Tri Indonesia.

Mergernya saja belum tuntas, kritikan atau kenyinyiran sudah mulai. Dan Presiden Jokowi ditagih janji kampanyenya yang akan membeli kembali (buyback) Indosat dari pemiliknya, Kelompok Ooredoo dari Qatar, yang tidak terpenuhi juga.

Sejak isu itu muncul, bahkan ketika juga mantan cawapres Sandiaga Salahuddin Uno menghitung mudah membeli kembali Indosat karena harga sahamnya ketika itu sekitar Rp 2.000, reaksinya sudah jelas. Mustahil Qatar mau menjual Indosat karena waktu mereka beli harga sahamnya Rp 7.000, dan Qatar bukanlah pedagang asongan, yang beli barang untuk dijual cepat.

Ketika nanti isu buyback mereda, dalam waktu dekat serangan terhadap pemerintah akan fokus pada berkurangnya saham pemerintah yang turun dari 14,29% jadi hanya 9,63 %. Pemerintah akan jadi sasaran tembak, dikatakan bodoh mau menerima saja berkurangnya saham yang berarti negara rugi.

Merger, akuisisi atau konsolidasi operator seluler bagaimanapun akan menguntungkan industri, yang pada akhirnya menguntungkan masyarakat. Akan terjadi efisiensi besar-besaran dengan dikuranginya penggunaan devisa negara, karena yang tadinya dua operator mesti beli dua BTS, sekarang cukup satu.

Pengadaan BTS, alat-alat teknik lainnya menggunakan uang asing, juga penyewaan tower, akan mengalami pengurangan dengan hasil jangkauan jaringan yang lebih luas. Namun efek negatifnya bisa merambah ke efisiensi di sumber daya manusia akibat terjadinya duplikasi SDM di semua bidang karena kedua perusahaan menjalankan bisnis yang serupa.

Indosat menjadi kebanggaan Qatar yang kaya raya karena dari jumlah pelanggannya di 12 negara di Timur Tengah, Afrika dan Asia Tenggara yang mencapai 133 juta, 60 juta lebih disumbang Indosat. Setelah bergabungnya Hutchison Tri dari Hongkong, jumlah pelanggan mereka akan menjadi 104 juta.

Dikelola PPA

Boleh dikata, Qtel, sebelum berubah jadi Ooredoo, dikibuli habis oleh kelompok Temasek Singapura yang membeli Indosat dengan Rp 5,62 triliun tahun 2002, di masa Presiden Megawati. Lalu dijual ke Qatar Telecom dengan harga Rp 1,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 16,4 triliun) pada 2008, dengan kurs dollar AS saat itu sekitar Rp 9.000.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Temasek untung sekitar Rp 11 triliun hanya dalam waktu enam tahun, dan Qatar mau beli karena potensi pasar Indonesia dikatakan sangat besar, pelanggan seluler belum sampai 100 juta untuk penduduk 250 juta. Tetapi Qatar mendapati ARPU (average revenue per user – pendapatan rata-rata dari tiap pelanggan) Indonesia hanyalah 3 dollar AS, sekitar Rp 27.000, padahal di negerinya ARPU sampai 80 dollar AS.

Ooredoo tidak pernah menyesal, tidak pula berniat menjual kembali Indosat, karena mereka tidak butuh uang. Mereka punya kebanggaan besar dengan 60,3 juta pelanggan, sebelum merger.

Perjalanan Indosat tiga-empat tahun terakhir memang tidak bagus, yang puncaknya pada 2018 mengalami kerugian hingga Rp 2,4 triliun. Terus menurun ruginya pada tahun 2020, dengan pendapatan Rp 28 triliun, masih menanggung rugi Rp 716,7 miliar.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.