Bukan Hanya Pengguna Biasa, CIA dan NSA Pun Pakai Ad-Blocker di Browser

Kompas.com - 30/09/2021, 12:29 WIB
Ilustrasi fitur ad blocker di smartphone. CnetIlustrasi fitur ad blocker di smartphone.

KOMPAS.com - Pengguna internet sekali waktu pasti pernah dibikin kesal dengan kemunculan iklan di situs web. Jasa ad-blocker pun sering digunakan di peramban untuk memblokir promosi yang meyebalkan.

Bukan hanya pengguna biasa saja, dua agensi intel Central Intelligence Agency (CIA) dan National Security Agency (NSA) yang tergabung dalam Intelligence Community Amerika Serikat ternyata juga menggunakan ad-blocker untuk tujuan serupa.

Namun, alasan mereka lebih mengarah ke sekuriti, yakni agar komputer tidak disusupi program berbahaya. Sebab, iklan online bisa saja disisipi malware yang kemudian dapat menginfeksi perangkat.

Baca juga: Pemakaian Ad Blocker di Smartphone Meningkat di 2019

Penggunaan ad-blocker oleh Intelligence Community AS terungkap lewat sebuah surat dari anggota senat AS asal negara bagian Oregon, Ron Wyden, sebagaimana dilaporkan outlet media Motherboard.

"Saya telah mendorong pemerintah untuk merespon lebih tepat terhadap ancaman pengawasan, termasuk dari pemerintah asing dan hacker yang mengeksploitasi iklan online untuk meretas sistem federal," tulis Wyden.

Menurut Wyden, dari penyelidikan senat, ditemukan bahwa beberapa perusahaan iklan meneruskan data warga AS ke negara-negara asing yang dipandang berisiko tinggi seperti China dan Rusia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Disebutkan bahwa NSA telah menerbitkan panduan soal ini pada Juni 2018. Isinya menganjurkan organisasi-organisasi agar memblokir iklan-iklan dari internet, berdasarkan kekhawatiran atas potensi malware di baliknya.

Kemudian, pada Januari 2021, Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) mempublikasikan panduan serupa untuk agensi-agensi federal dengan merekomendasikan ad-blocker.

Baca juga: Mengenal PlugX, Malware yang Menyusup ke Jaringan Kementerian di Indonesia

"Agensi federal belum diharuskan menerapkan panduan NSA dan CISA ini. Namun, Chief Information Officer dari Intelligence Community memberitahu saya bahwa mereka sudah melakukannya," imbuh Wyden.

Malware di iklan online, menurut Wyden, berbahaya karena bisa mencuri, memodifikasi, atau menghapus data pemerintah.

Selain itu, lanjut dia, jejaring iklan juga mengumpulkan sejumlah besar data sensitif dari pengguna internet, seperti soal mobilitas mereka, web browsing, maupun aktivitas lainnya di internet.  Data tersebut disebutnya bisa dibeli oleh "siapapun yang memiliki kartu kredit"

"Tak mengejutkan jika kemudian agen intelijen asing ingin memperoleh data itu untuk digunakan dalam peretasan, pemerasan, dan menyebarkan pengaruh," ujar Wyden.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.