Kompas.com - 02/11/2021, 18:20 WIB
|
Editor Oik Yusuf

KOMPAS.com - Aplikasi navigasi biasanya akan mengarahkan pengguna melewati rute dengan waktu tempuh tercepat untuk menuju satu tujuan. Namun, para pengguna Waze di Israel belakangan malah diarahkan ke jalanan macet yang memakan waktu.

Sebanyak 1 juta pengguna Waze di negara itu dilaporkan terkena dampak anjuran rute yang ngawur. Kenapa bisa begitu? CEO Waze, Guy Berkowitz menerangkan bahwa pangkal masalahnya adalah algoritma Waze yang berubah selama pandemi.

"Kami memiliki masalah dengan algoritma. Semakin banyak orang yang menggunakan layanan kami, maka semakin besar juga pengaruhnya. Virus corona menempatkan kami di situasi di mana kami harus mengulang kembali algoritmanya," ujar Berkowitz.

Rupanya, algoritma Waze sudah kadung "terbiasa" dengan situasi sejumlah jalanan yang kosong selama pandemi. Padahal, di kondisi normal, jalanan-jalanan tersebut padat merayap.

Baca juga: Dirombak, Tampilan Waze Kini Lebih Warna-warni

Akibatnya, begitu warga Israel mengalami perubahan mobilitas dan mulai kembali bepergian, Waze pun keliru mengarahkan pengguna ke jalanan yang rawan macet.

"History dari jalanan - yang merupakan bagian algorima kami- tak lagi merefleksikan kondisi sebenarnya," tutur Berkowitz, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Phone Arena, Selasa (2/11/2021).

"Jadi, virus corona telah membuyarkan history kami. Algoritmanya perlu diubah agar lebih mempertimbangkan apa yang terjadi secara real-time," imbuhnya.

Lalu lintas jalanan di Israel pada dua pekan pertama Oktober 2021 dilaporkan meningkat 23 persen dibandingkan Februari 2020. Banyak warga memilih menggunakan kendaraan pribadi karena masih takut naik transportasi umum.

Kekacauan algoritma turut berujung pada masalah lain. Sejumlah pengguna Waze di Israel mengeluhkan bahwa aplikasi itu malah mengarahkan mereka ke luar kota, jauh melenceng dari tempat yang dituju.

Baca juga: Waze Tampilkan RS Rujukan Covid-19 Terdekat

Waze sendiri merupakan perusahaan asal Israel yang diakuisi Google pada 2013 senilai lebih dari 1 miliar dollar AS. Setelah itu, Google banyak mencomot fitur Waze untuk ditambahkan ke aplikasi navigasinya sendiri Google Maps, misalnya fitur pelaporan hambatan di jalan.

Namun, Google memilih untuk tidak menutup Waze sehingga ikut bersaing dengan Google Maps, mungkin karena jumlah penggunanya cukup banyak. Pertengahan tahun ini, Waze dilaporkan memiliki pengguna aktif bulana sebanyak 134 juta secara global.

Di samping itu, Waze juga menghasilkan uang untuk Google dengan menjual iklan hyper local yang harganya dibedakan berdasarkan reach. Semakin tinggi harganya, maka semakin banyak juga pengguna Waze yang bisa dijangkau pengiklan.

Selain mengambil fiturnya, Google juga masih terus menambah fitur baru ke Waze. Akhir bulan lalu, misalnya, aplikasi ini disebut bakal mendapat fitur Dark Mode yang telah hadir lebih dulu di Google Maps.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.