Moch S. Hendrowijono
Pengamat Telekomunikasi

Mantan wartawan Kompas yang mengikuti perkembangan dunia transportasi dan telekomunikasi.

kolom

Masanya Operator Telko Bertransformasi

Kompas.com - 05/11/2021, 09:02 WIB
Ilustrasi inovasi teknologi THINKSTOCKSIlustrasi inovasi teknologi

Industri telekomunikasi global kini menghadapi dilema yang tidak terbayangkan hingga dekade lalu.

Operator seluler bukan lagi perusahaan yang penuh gebyar, labanya tinggi – bayangkan Telkomsel dengan pendapatan di bawah Rp 100 triliun labanya sekitaran Rp 25 triliun – mengalahkan induknya, PT Telkom.

Industri telko yang selama ini merajai yang bahkan berkembang ketika pandemi menebang semua jenis bisnis dan industri, harus mulai bebenah kalau tidak mau mati dalam dua-tiga tahun ke depan.

Telko harus segera bertransformasi, merambah bisnis baru yang selama ini dipandang sebelah mata oleh operator telko, karena potensi pertumbuhannya sangat tinggi.

Tarif layanan data di Indonesia terendah kedua setelah India dan operator tidak bisa leha-leha dengan mengandalkan infrastruktur jaringan dan teknologi yang sudah mereka kuasai, sebab teknologi bergerak maju dengan cepat, durasinya makin lama makin pendek.

Hingga sekarang, investasi operator untuk jaringan dan layanan generasi ketiga (3G) belum impas, ketika 4G sudah muncul, yang terus bergerak menjadi 4G LTE (long term evolution).

Kini 5G sudah masuk, dan itu bukan berarti kelanjutan dari 4G seperti halnya 2G ke 3G terus ke 4G. Teknologinya beda, bentuk layanannya beda, kebutuhan akan spektrum frekuensi juga beda sehingga 5G lebih cocok untuk bisnis, baik industri, manufaktur, pertanian, kota pintar, rumah pintar, kesehatan, dan transportasi pintar berupa kendaraan tanpa sopir.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di sinilah pentingnya M&A (merger dan akuisisi) karena kalau dibiarkan operator-operator kecil yang EBITDA-nya (earn before interest, tax, depreciation and amortization) di bawah 8 persen tidak akan bisa bertahan dalam 3 tahun ke depan. Beberapa operator telko di India yang kolaps bisa menjadi pelajaran.

Dengan M&A, kekuatan dihimpun untuk memperkuat daya beli teknologi yang pertumbuhannya dinikmati vendor teknologi yang selalu memasang harga tinggi untuk teknologi baru.

Apakah operator tidak bertahan saja dengan teknologi yang sudah dikuasai sehingga minim capex (capital expenditure – belanja modal) dan hanya fokus menambah pelanggan?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.