Moch S. Hendrowijono
Pengamat Telekomunikasi

Mantan wartawan Kompas yang mengikuti perkembangan dunia transportasi dan telekomunikasi.

kolom

Masanya Operator Telko Bertransformasi

Kompas.com - 05/11/2021, 09:02 WIB
Ilustrasi inovasi teknologi THINKSTOCKSIlustrasi inovasi teknologi

Lapar data

Alamnya sudah beda, jasa telekomunikasi yang selama ini dikuasai operator telko, sudah berpindah dari layanan jaringan ke perangkat (device) dan aplikasi, yang berakibat pada 347 juta nomor aktif pelanggan enam operator Indonesia semuanya bergerak ke lapar data.

Pandemi memberi hikmah, virus itu langsung membuat pelanggan lapar data karena semua kegiatan bekerja, belajar, belanja, semua dari rumah, online, yang semua butuh data.

Hingga dua tahun lalu, operator masih bangga memperluas jaringan, membangun BTS, menambah jumlah pelanggan dan memberi layanan VAS (value added service – layanan nilai tambah).

Tetapi jika operator hanya menjajakan jaringan, menjual datanya, akan dikalahkan aplikasi yang lewat di atas jaringan (OTT – over the top) karena pendapatannya melebihi pendapatan “inang”-nya.

Yang terakhir ini yang akan merebut keuntungan operator, jika operator telko tidak mengubah pola bisnisnya, bertransformasi. Menurut Teguh Prasetyo, Founder Asosiasi IoT Indonesia, peran jaringan dalam bisnis telko dalam waktu dekat hanya akan menyumbang 9 persen pada pendapatannya, karena yang 13 persen diambil perangkat (device) dan yang 70 persen lebih direbut penyedia aplikasi.

Contohnya saja, pandemi membuat pengguna aplikasi smarthome (rumah pintar) pada yang tahun 2019 hanya 1,5 juta rumah, akhir tahun ini akan menjadi 12 juta dan akan terus berkembang dengan potensi lebih dari 60 juta rumah pada 2024.

Operator telko tetap dibutuhkan, sebab semua industri, semua kegiatan dan aplikasi, harus menggunakan jasanya sehingga industri telekomunikasi harus tetap dipertahankan dan sehat, hanya saja jaringan bukan lagi andalan.

Untuk keluar dari posisi bertahan hingga mencapai kondisi sehat dan bertumbuh, kata Ketua Masyarakat Telematika (Mastel), Sarwoto dalam kesempatan berbeda, operator dipaksa untuk mengubah diri menjadi perusahaan teknologi.

Bisa dengan mengakuisisi perusahaan-perusahaan teknologi rintisan (startup) yang meski penuh risiko namun “murah” dibanding mengakuisisi perusahaan teknologi yang sudah eksis, sembari tetap berinvestasi di infrastruktur.

Mengutip hasil survei Kearney, pertumbuhan perusahaan teknologi secara global berkembang pesat dengan kapitalisasi pasar tumbuh 29 persen (CAGR 2009—2020) yang diakselerasi oleh dampak Covid-19, sedangkan perusahaan telekomunikasi tumbuh stagnan hanya 3 persen.

Pada 2009, penghasilan operator telko 140 miliar dollar AS dan perusahaan teknologi baru 32 miliar dollar AS, tetapi pada 2020 pendapatan telko hanya 114 miliar dollar AS, perusahaan teknologi melambung menjadi 252 miliar dollar AS.

Arah Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) untuk berubah menjadi perusahaan teknologi dikuatkan dengan penggabungan semua sumber daya, dan Indosat Ooredoo sudah memulainya sejak awal. Pada laporan keuangan terakhir mereka, ada pendapatan dari solusi bisnis yang sudah mencapai angka pendapatan Rp 3 triliun. ***

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.