Cerita Menko Luhut Pantau Mobilitas Warga Indonesia lewat Google dan Facebook

Kompas.com - 17/11/2021, 08:02 WIB

KOMPAS.com - Setelah sempat mengalami lonjakan yang signifikan pada bulan Juli, kasus baru Covid-19 terbilang melandai pada November 2021 ini.

Terkait hal ini, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) sekaligus Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, Luhut Binsar Pandjaitan mengimbau agar masyarakat Indonesia tetap waspada.

Luhut juga meminta masyarakat untuk tidak menggampangkan kebijakan PPKM yang diterapkan oleh pemerintah. Sebab, peraturan ini dibuat dengan pendekatan ilmiah dengan parameter data dari Facebook hingga Google.

Baca juga: PPKM Level 4, Tingkat Kerumunan di Pemukiman Meningkat

"Jadi, jangan bapak/ibu pikir, kami memberlakukan (PPKM Darurat) kemarin pakai 'agak-agak', tidak. Semua scientific approach," kata Luhut saat berbicara di acara UMKM Toba Vaganza yang disiarkan secara daring di YouTube Otoritas Jasa Keuangan (OJK), baru-baru ini.

Luhut menceritakan, pemerintah menggunakan beberapa alat (tools) yang digunakan untuk memantau mobilitas masyarakat, baik ditingkat kecamatan hingga provinsi.

Adapun tools itu adalah Facebook Mobility, Google Traffic, dan Night Light dari NASA.

"Dari itu semua, kami punya data dan bisa membuat judgement (pertimbangan kebijakan)," kata Luhut.

Tangkapan layar Laporan Mobilitas Masyarakat yang dihimpun Google, merinci pergerakan masyarakat di beberapa daerah di Indonesia.Google Traffic Tangkapan layar Laporan Mobilitas Masyarakat yang dihimpun Google, merinci pergerakan masyarakat di beberapa daerah di Indonesia.
Selanjutnya, data mobilitas masyarakat Indonesia itu dianalisis dan dibuat modelling untuk menekan pergerakan masyarakat, demi mencegah penularan Covid-19.

"Dari situ kami tahu, titik mana yang harus kami intervensi. Sehingga saya dengan cepat bisa membuat proses pengambilan keputusan (misalnya memberlakukan PPKM Darurat Level 1-4)," kata Luhut.

Baca juga: Ini Bukti Orang Indonesia Jarang Keluar Rumah Selama PPKM

Ia mengimbau agar masyarakat Indonesia tetap disiplin protokol kesehatan dan waspada, agar lonjakan kasus Covid-19 seperti bulan Juli lalu tidak terulangi lagi.

"Sebab, kami terus terang, saya bersama tim menangani Covid-19 ini dengan sangat tidak mudah," pungkas Luhut.

Apa itu Google Traffic hingga Facebook Mobility

Tangkapan layar laman Data for Good dari Facebook yang menampilkan laporan terkait Covid-19 di beberapa negara, termasuk laporan mobilitas masyarakat.Facebook Data for Good Tangkapan layar laman Data for Good dari Facebook yang menampilkan laporan terkait Covid-19 di beberapa negara, termasuk laporan mobilitas masyarakat.
Sejak pandemi, Google rajin memperbarui data mobilitas masyarakat di Indonesia melalui Google Traffic. Hasil data mobilitas masyarakat ini didapatkan dari data anonim dari pengguna yang menyalakan fitur "Location History" di perangkat Android miliknya.

Pengguna bisa mengakses grafik mobilitas ini dengan mengunjungi laman Google News Covid-19 melalui tautan berikut, lalu gulirkan layar ke paling bawah hingga ke bagian "mobility changes".

Dengan data ini, pengguna bisa melihat perbandingan pergerakan masyarakat di tempat-tempat umum, tempat kerja, pertokoan, hingga pemukiman saat sebelum adanya pandemi dan setelah adanya pandemi.

Ilustrasi peta citra satelit atau cahaya malam dari NASA.Earth Observatory NASA Ilustrasi peta citra satelit atau cahaya malam dari NASA.
Sementara Facebook Mobility juga tak jauh berbeda dengan Google Traffic. Facebook meluncurkan situs ini untuk membantu pemerintah atau lembaga non-profit mencari data mobilitas masyarakat yang terdampak kebijakan Covid-19.

Baca juga: Mengenal Facebook Mobility, Google Traffic, dan Night Light NASA yang Dipakai Memantau Mobilitas Warga Selama PPKM Darurat

Data tersebut ditampilkan di laman Data for Good. Mobilisasi masyarakat bisa dilihat pada menu "Perubahan dalam Pergerakan" dan "Persentase Orang Tetap di Tempat".

Terakhir, Night Light dari NASA sendiri merupakan peta citra satelit Bumi atau yang lebih dikenal sebagai "cahaya malam".

Dengan peta ini, publik bisa melihat wilayah-wilayah yang rapat dengan gemerlap lampu, mengindikasikan kepadatan penduduk dan aktivitas masyarakat.

Wilayah lain yang masih belum padat penduduk hingga belum berpenghuni juga bisa dipantau dengan peta ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.