Persaingan Ponsel China Makin Ketat, Bisnis Xiaomi Terganggu Oppo, Vivo, dan Honor

Kompas.com - 25/11/2021, 08:15 WIB
Ilustrasi logo Xiaomi di antara dua ponsel Redmi GizmochinaIlustrasi logo Xiaomi di antara dua ponsel Redmi

KOMPAS.com - Xiaomi merilis laporan keuangan untuk kuartal III-2021 yang berakhir pada 30 September. Dalam laporannya, revenue (pendapatan) kuartal III-2021 naik 8,2 persen ke angka 78,06 miliar yuan atau sekitar Rp 174,2 triliun (nilai tukar Rp 2.200).

Perolehan tersebut sedikit meleset dari target para analis pasar yang memprediksi angka 79,20 miliar yuan (sekitar Rp 176 triliun), berdasarkan data Refinitiv.

Melesetnya target tersebut ditengarai karena persaingan yang ketat dari produsen ponsel lain asal China, seperti Oppo dan Vivo.

Secara spesifik, pendapatan dari penjualan smartphone naik 0,4 persen ke angka 47,8 miliar yuan di periode yang sama. Akan tetapi, dilihat dari pengiriman (shipment) unit smartphone, Xiaomi mengalami penurunan sebanyak 5,8 persen.

Baca juga: Memotret dengan Kamera Xiaomi 11T Pro, Sebagus Apa Jepretannya?

Selama kuartal III-2021, Xiaomi hanya mengirimkan 43,9 juta unit. Xiaomi beralasan krisis kelangkaan chip menjadi penyebab penurunan tersebut.

Dirangkum KompasTekno dari Reuters, Kamis (25/11/2021), Presiden Xiaomi, Xiang Wang mengatakan perusahaannya berupaya keras mendapatkan pasokan komponen perangkat 4G untuk pasar global.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Wang memprediksi kurangnya pasokan chip masih akan berlanjut hingga paruh pertama tahun depan. Kendati demikian, Wang tetap percaya diri jika Xiaomi tetap akan mengalami pertumbuhan di tahun 2022.

Persaingan vendor China makin ketat

Xiaomi menjadi salah satu vendor yang berambisi meningkatkan pangsa pasarnya secara global, terutama setelah bisnis ponsel Huawei makin terpuruk setelah mendapat sanksi dari pemerintah Amerika Serikat.

Masalahnya, Xiaomi bukan satu-satunya yang punya ambisi. Produsen lain dari China, seperti Oppo dan Vivo, juga ingin merebut porsi "kue" yang sama.

Tidak hanya dua merk itu, Honor, yang dulu adalah sub-brand Huawei juga ikut merebut pasar yang ditinggal mantan induknya. Sejak akhir tahun 2020, Huawei resmi melepas Honor dan menjualnya ke konsorium Shenzen Zhixin New Information.|

Baca juga: Huawei Pastikan Jual Bisnis Ponsel Honor, Ini Alasannya

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.