Nasib 5G di Indonesia pada 2022, Komersialisasi dan Keterbatasan Frekuensi

Kompas.com - 25/01/2022, 09:02 WIB

KOMPAS.com - Indonesia mulai menggelar jaringan generasi kelima alias 5G pada 2021 lalu. Ada dua operator seluler yang sudah menghadirkan 5G di Tanah Air, yaitu Telkomsel dan Indosat.

Telkomsel pertama kali menggelar layanan 5G pada Mei 2021 lalu. Kemudian disusul oleh Indosat pada Juni 2021.

Usia 5G di Indonesia baru hitungan bulan. Lantas, bagaimana perkembangan layanan 5G di Indonesia pada 2022 ini?

Belum bisa komersialisasi secara optimal

Pada 2022 ini, komersialisasi layanan 5G diprediksi masih belum optimal. Begitu pula dengan perluasan cakupan wilayah dan peningkatan kecepatan 5G.

Pengamat telekomunikasi Moch S. Hendrowijono mengatakan bahwa operator seluler "belum mau" dan "belum bisa" mewujudkannya.

Baca juga: 5G Masih Terbatas di Indonesia, Belum Mau atau Belum Bisa?

"Soal Layanan 5G, apakah operator belum mau atau belum bisa? Jawabannya dua-duanya," kata pria yang akrab disapa Hendro itu melalui pesan singkat kepada KompasTekno, Rabu (19/1/2022).

Penyabab utamanya ialah infrastruktur yang belum memadai serta ketersediaan frekuensi untuk menggelar 5G yang masih kurang.

Hendro menilai, pada 2022 ini, operator seluler masih belum mau menggelar layanan 5G secara optimal, termasuk melakukan ekspansi besar-besaran karena infrastruktur yang belum memadai.

"Belum mau karena dukungan infrastruktur yang belum siap, seperti kerapatan BTS serta kabel serat optik yang belum memadai," lanjut Hendro.

Ilustrasi BTS 5G Telkomsel yang ditunjukkan oleh General Manager Network Engineering and Quality Jabotabek Jabar Telkomsel, Danny Agus (kiri) dan Vice President Network Service Management Area Jabotabek Jabar Telkomsel, Moelky Furqan (kanan) di kantor Telkomsel Smart Office (TSO), Rabu (15/12/2021).KOMPAS.com/BILL CLINTEN Ilustrasi BTS 5G Telkomsel yang ditunjukkan oleh General Manager Network Engineering and Quality Jabotabek Jabar Telkomsel, Danny Agus (kiri) dan Vice President Network Service Management Area Jabotabek Jabar Telkomsel, Moelky Furqan (kanan) di kantor Telkomsel Smart Office (TSO), Rabu (15/12/2021).
Selain infrastruktur, komersialisasi jaringan 5G di Indonesia juga masih terkendala oleh ketersediaan pita frekuensi untuk menggelar layanan.

"Lebar pita frekuensi yang dimiliki (operator seluler) yang bisa digunakan untuk menyediakan layanan secara minimal di 5G, tidak cukup. Bahkan bisa dikatakan kurang," kata Hendro.

Telkomsel sendiri memiliki lebar pita 50 MHz di frekuensi 2.300 MHz untuk menggelar 5G. Sementara Indosat punya total lebar pita 2x22,5 MHz di frekuensi 1.800 MHz, di mana 20 MHz-nya dimanfaatkan untuk 5G.

Angka tersebut masih jauh dari lebar pita minimal yang dibutuhkan untuk menggelar layanan 5G secara optimal atau melakukan ekspansi jaringan 5G.

"Sebab untuk menggelar layanan 5G yang optimal, satu operator telekomunikasi harus menguasai spektrum frekuensi selebar 100 MHz," lanjut Hendro.

Ia menjelaskan, lebar pita 100 MHz itu harus berada di satu spektrum frekuensi yang sama. Bukan gabungan dari frekuensi yang berbeda, misalnya 50 MHz di 2.300 MHz dan 50 MHz sisanya di 1.800 MHz.

Merugikan 4G jika dipaksakan

Ilustrasi pelanggan Telkomsel.Dok Telkomsel Ilustrasi pelanggan Telkomsel.
Hendro mengatakan, jika operator seluler memaksakan melakukan komersialisasi secara besar-besaran pada 2022 dengan pita frekuensi yang dimiliki tadi, layanan 5G di Tanah Air tidak mungkin optimal.

Bahkan, kata Hendro, bisa berpotensi merugikan pelanggan yang menggunakan jaringan 4G LTE .

Hal ini mengingat, untuk menggelar layanan 5G, Telkomsel dan Indosat sama-sama mengadopsi non-standalone (NSA). Artinya, 5G digelar di atas infrastruktur jaringan 4G yang sudah ada. Hal inilah yang bisa membuat pengguna 4G tersisihkan.

Baca juga: Kenapa Kecepatan 5G di Indonesia Belum Maksimal?

Jaringan 5G sedianya menjanjikan kecepatan unduh (download) dan unggah (upload) yang sangat cepat, disebut setidaknya 10 kali lipat lebih cepat dari 4G.

Namun, karena masih menggunakan infrastruktur 4G LTE, operator seluler belum bisa menghadirkan layanan 5G yang optimal.

Optimal setelah TV analog dimatikan

Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Muhammad Ridwan Effendi meramalkan bahwa, layanan 5G akan semakin merata di Indonesia setelah pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melelang spektrum frekuensi direntang 700 MHz.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.