Kompas.com - Diperbarui 19/04/2022, 09:40 WIB

KOMPAS.com - Surat elektronik (e-mail) merupakan salah satu sarana yang bisa digunakan untuk mengirimkan surat melalui jaringan internet.

Dengan menggunakan e-mail, pengguna tidak lagi memerlukan media kertas dan pergi ke kantor pos untuk mengirim surat.

Dengan mengurangi penggunaan kertas surat, tentu menjadi kabar baik bagi lingkungan. Sebab, meminimalisir penggunaan kertas artinya ikut serta menyelamatkan hutan.

Akan tetapi, langkah mengganti kegiatan surat-menyurat dengan media elektronik, rupanya tidak 100 persen menyelamatkan lingkungan. Pasalnya, secara tidak langsung, e-mail ikut menyumbang emisi karbon yang menjadi kontributor perubahan iklim.

Seperti diketahui, emisi gas berlebih ikut menyebabkan pemanasan global. Lantas, bagaimana bisa e-mail ikut menyumbang emisi karbon dan berdampak pada perubahan iklim?

Baca juga: Cara Hapus E-mail di Gmail Secara Otomatis

Dalam rangka menyajikan layanan e-mail, penyedia layanan surat elektronik membutuhkan server untuk menampung banyaknya e-mail yang dibuat dan dikirim oleh pengguna.

Server ini terdiri dari mesin pusat data (data center) yang menggunakan listrik dalam jumlah yang cukup besar. Di dunia saat ini, penggunaan listrik masih banyak yang mengandalkan sumber energi tak terbarukan, seperti batu bara.

Semakin besar energi listrik yang digunakan, emisi karbon yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil pada pembangkit listrik tentu akan semakin banyak.

Penggunaan listrik di data center yang cukup besar inilah yang rupanya menyumbangkan limbah carbon footprint atau jejak karbon.

Di sisi lain, pusat data memiliki kapasitas maksimal. Apabila kapasitas mencapai batasnya, perusahaan akan menambah server dan tentunya, konsumsi listrik akan bertambah.

Di Amerika Serikat, data center bertanggung jawab atas 2 persen penggunaan listrik negara atau sekitar 200 terawatt Hours (TWh) pada konsumsi listrik secara global, dihimpun dari BBC.

Baca juga: Cara Hapus Seluruh E-mail di Gmail Secara Permanen

Emisi karbon dari e-mail tidak cuma dihasilkan saat disimpan di pusat data. Peneliti dari Universitas Lancaster, Mike Berners-Lee menjelaskan, emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas berkirim e-mail, terhitung sejak pengguna mengirim surat elektronik ke pengguna lain.

"Saat Anda mengetik, komputer Anda akan menggunakan listrik. Ketika Anda menekan tombol kirim, maka (e-mail) itu akan melewati jaringan internet, dan dibutuhkan listrik untuk menjalankan internet," jelas Berners-Lee.

"Dan (e-mail) tersebut pada akhirnya akan disimpan di jaringan cloud di suatu tempat dan pusat data tersebut menggunakan banyak listrik. Kita tidak memikirkannya karena tidak dapat melihat asap yang keluar dari komputer, tetapi jejak karbon industri teknologi dan informatika sangat besar dan terus bertambah,” lanjut Berners-Lee.

Menurut Berners-Lee, mengirim satu e-mail diperkirakan dapat menyumbangkan sekitar 4 gram emisi karbon. Itu baru e-mail biasa yang berisi teks tanpa lampiran apapun.

Sementara e-mail yang disertai dengan lampiran seperti foto, bisa menghasilkan 50 gram emisi karbon. Hal serupa juga berlaku pada e-mail spam. Meski jumlahnya sedikit, e-mail spam juga turut berpartisipasi menghasilkan emisi karbon sebesar 0,3 gram.

Angka itu didapatkan Lee sekitar 10 tahun lalu. Ia memperkirakan, angka ini bisa lebih besar saat ini. Lee juga memperkirakan bahwa seseorang dapat menyumbang 1,6 kg emisi karbon dalam satu hari dari kegiatan berkirim e-mail.

Baca juga: Cara Membuat Balasan E-mail secara Otomatis di Gmail Saat Cuti

Sementara pengguna yang berkecimpung di dunia bisnis, diperkirakan bisa menghasilkan 135 kg emisi karbon dari banyaknya e-mail yang dikirim selama satu tahun.

Jumlah tersebut, menurut Berners-Lee, setara dengan besarnya emisi karbon yang dihasilkan oleh mobil yang menempuh jarak sejauh 321 km.

Ilustrasi data centerShutterstock Ilustrasi data center

Berkirim e-mail lebih efisien

Berners-Lee menyebut mengurangi aktivitas berkirim e-mail bisa menurunkan angka emisi karbon. Orang-orang bisa memulainya dengan berhenti mengirimkan e-mail yang tidak diperlukan.

Sebagai ilustrasi, apabila setiap orang dewasa di Inggris berhenti mengirimkan satu e-mail tidak perlu, seperti e-mail ucapan "terima kasih", maka upaya tersebut diklaim bisa mencegah kontribusi 16.433 ton emisi karbon setiap tahunnya.

Selain itu, mengganti file yang dilampirkan dalam e-mail dengan sebuah link, berhenti berlangganan e-mail, dan tidak mengirimkan e-mail pada banyak penerima juga diklaim mampu mengurangi jejak karbon.

"Saya berhenti berlangganan buletin yang dikirimkan secara otomatis, karena ketika saya mengetahui tentang jejak karbon dari e-mail, saya merasa ngeri," ucap Philipp Gaut, seorang guru yang berasal dari Surrey, Inggris.

Baca juga: Cara Bikin Instagram Best Nine 2020 dari Laptop, Jangan Lupa Hapus E-mail Setelahnya

Hapus e-mail bisa kurangi emisi karbon?

Menghapus e-mail juga diklaim menjadi salah satu upaya sederhana untuk mengurangi emisi karbon yang dihasilkan.

Melansir The Good Planet, pada tahun 2019, tercatat ada lebih dari 2,3 miliar pengguna global yang terdaftar menggunakan layanan e-mail. Diperkirakan ada sekitar 293,6 miliar e-mail yang dikirimkan setiap harinya.

Untuk setiap 1 GB data yang disimpan di data center, penyedia layanan e-mail diperkirakan membutuhkan pasokan listrik sebesar 32 kWh.

Apabila seluruh pengguna rutin menghapus 10 e-mail aja per hari, maka langkah tersebut diklaim dapat menghemat penyimpanan sebesar 1,7 juta GB atau setara dengan 55,2 juta kWh listrik yang digunakan data center.

Alhasil, penyedia data center diperkirakan dapat mengurangi penggunaan 19.356 ton batu bara yang sebanding dengan 39.035 metrik ton emisi karbon.

Angka yang terlihat cukup besar, bukan? Namun, apakah menghapus e-mail benar-benar efektif mengurangi emisi karbon dan menyelamatkan lingkungan? Seberapa besar dampak positif yang bisa dihasilkan dengan membuang e-mail?

ilustrasi Google.Bloomberg/ Michael Nagle ilustrasi Google.

Country Director Google Cloud Indonesia, Megawaty Khie menjelaskan bahwa dampak menghapus e-mail untuk mengurangi emisi karbon tergolong minim.

"Konsumsi energi untuk menghapus e-mail akan sangat kecil, sehingga mengurangi atau bahkan menghilangkan e-mail spam kemungkinan besar memiliki dampak pengurangan karbon yang dapat diabaikan," ungkap Megawaty kepada KompasTekno.

Hingga saat ini, Megawaty mengaku bahwa Google, sebagai pemilik layanan e-mail Gmail, terus menambah jumlah komputasi yang dilakukan pada data center perusahaan.

Baca juga: Hari Bumi, Google Doodle Bagi-bagi Tips Merawat Lingkungan

Menurut Megawaty, upaya penambahan jumlah komputasi ini tidak terelakkan, mengingat tingginya peningkatan aktivitas online, terlebih dalam dua tahun terakhir saat pandemi.

"Karena Google Meet dan Duo telah menyelenggarakan lebih dari satu triliun menit panggilan video pada tahun 2020, misalnya, kami harus memastikan bahwa pengadaan energi terbarukan kami terus berjalan," imbuh Megawaty.

Meski demikian, Megawaty menyebut bahwa Google senantiasa mengurangi jumlah energi yang digunakan, yakni dengan menghadirkan daya komputasi sekitar tujuh kali lebih banyak dengan jumlah daya listrik yang tetap sama alias tidak meningkat.

Megawaty memaparkan bahwa sejak tahun 2007, Google telah mengoperasikan layanan berbasis cloud yang bebas karbon.

"Pada tahun 2007, kami menjadi perusahaan besar pertama yang mencapai netralitas karbon. Ini berarti bahwa layanan yang kami sediakan, termasuk penggunaan Gmail oleh konsumen dan perusahaan, memiliki jejak karbon bersih nol," kata Megawaty.

Baca juga: Google Earth Buktikan Perubahan Iklim Itu Nyata

Mengacu pada laporan bertajuk "Google Environmental Report 2020", Google mengeklaim bahwa layanan Gmail dapat mengurangi dampak emisi gas rumah kaca yang dihasilkan hingga 98 persen, dibandingkan dengan layanan e-mail yang dijalankan melalui server lokal.

Hingga pada tahun 2017, Google mengeklaim bahwa pihaknya telah menjadi salah satu perusahaan yang menggunakan sumber energi yang dapat diperbaharui.

Alih-alih menggunakan bahan bakar berupa batu bara, Google telah mengimplementasikan teknologi pembangkit listrik tenaga angin dan surya.

"Pada tahun 2017, kami melangkah lebih jauh dan menjadi perusahaan pertama seukuran kami yang mencocokkan 100 persen konsumsi listriknya dengan energi terbarukan. Kami terus melakukan ini setiap tahun sejak itu," lanjut Megawaty.

Sebagai salah satu upaya dalam melestarikan lingkungan, Google turut menyumbangkan dana sebesar 5,75 miliar dolar AS di tahun 2020.

Adapun dana tersebut digunakan untuk membuat obligasi sumber dana proyek-proyek baru yang bertanggung jawab terhadap lingkungan atau sosial.

Komitmen terhadap pelestarian lingkungan ini nampaknya akan terus berlanjut. Pada tahun 2030, Google bertujuan untuk menjalankan bisnis dengan energi bebas karbon.

"Ini adalah tujuan keberlanjutan terbesar kami, dengan kompleksitas praktis dan teknis yang sangat besar. Kami adalah perusahaan besar pertama yang melakukan ini, dan kami bertujuan untuk menjadi yang pertama mencapainya," jelas Megawaty.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.