Kompas.com - 25/01/2022, 12:37 WIB

KOMPAS.com - Konsep dunia virtual yang dijanjikan Metaverse tidak hanya menuai dukungan. Metaverse juga mendapat kritikan, salah satunya dari pencipta konsol Play Station, Ken Kutaragi.

Kutaragi menolak keras ide yang dicetuskan oleh perusahaan induk Facebook ini. Secara terang-terangan, Kutaragi menyebut bahwa Metaverse sedang mencoba untuk mereplikasi pengalaman dunia nyata ke jagat virtual.

Meski terdengar revolusioner, pria berusia 71 tahun ini berpendapat bahwa upaya yang akan dilakukan Meta tidak berguna.

Kutaragi mengaku tidak melihat adanya perbedaan antara Metaverse dengan seperti ketika berbincang-bincang di forum diskusi online.

Baca juga: Intel soal Metaverse: Teknologi Saat Ini Belum Mampu Mewujudkannya

Ken Kutaragi, tokoh berpengaruh di balik terciptanya konsol PlayStation.Gamespot Ken Kutaragi, tokoh berpengaruh di balik terciptanya konsol PlayStation.
"Anda lebih suka menjadi avatar yang dipercantik daripada diri sendiri? Itu pada dasarnya tidak ada bedanya seperti di situs forum online," kata Kutaragi.

Selain Meta, Kutaragi juga tidak menyukai teknologi berbasis Virtual Reality (VR). Ia menilai bahwa perangkat VR dapat membatasi pergerakan pemain di dunia nyata.

"Headset hanya akan mengisolasi Anda dari dunia nyata, dan saya tidak setuju dengan konsep tersebut. Headset hanya mengganggu," jelas Kutaragi.

Kutaragi mengatakan ia meyakini konsep yang berbeda dengan Metaverse. Dia meyakini bahwa di masa depan akan ada saat di mana data-data dapat dimunculkan di dunia nyata melalui gambar seperti hologram.

Hal ini berbeda dengan Metaverse yang membawa manusia ke dunia virtual. Konsep hologram tersebut adalah kebalikan dari Metaverse yakni dengan membawa obyek virtual ke dunia nyata.

Baca juga: Konektivitas 5G, Modal Adopsi Teknologi Metaverse yang Bakal Jadi Tren Global pada 2022

Protes keras terhadap Metaverse rupanya tidak hanya disuarakan oleh Kutaragi. CEO Niantic John Hanke menyebut bahwa Metaverse justru dapat menciptakan sebuah mimpi buruk bagi pemain game.

"Sebagai bagian dari masyarakat, kita dapat berharap bahwa dunia tidak berubah menjadi tempat yang mendorong pahlawan fiksi ilmiah untuk melarikan diri ke dunia virtual," ucap Hanke, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Gizmodo, Selasa (25/1/2022).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Gizmodo


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.