Induk Google "Cuan" berkat Moncernya Bisnis Iklan

Kompas.com - 03/02/2022, 07:01 WIB

Dalam perincian pendapatan kuartal IV-2021, bisnis Google Advestising tercatat membukukan pendapatan sebesar 61,2 miliar dollar AS atau hampir Rp 872,4 triliun.

Angka tersebut naik dari pendapatan bisnis Google Advertising periode yang sama tahun 2020 yang hanya sebesar 46,1 miliar dollar AS (kira-kira Rp 657,2 triliun).

Bisnis Google Advertising sendiri berasal dari tiga jenis produk, yaitu Google Search, YouTube ads, dan Google Network.

Baca juga: Alphabet Kini Bernilai Rp 13.650 Triliun

Dari ketiganya, iklan di Google Search masih memberikan kontribusi paling besar terhadap pendapatan perusahaan, yaitu pendapatannya mencapai 43,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 617,3 triliun).

Sementara iklan yang berasal dari YouTube ads dan Google Network masing-masing secara berturut-turut mengumpulkan pendapatan sebesar 8,6 miliar dollar AS (sekitar 11,4 triliun) dan 9,3 miliar dollar AS (kira-kira Rp 132,5 triliun).

Selain Google Advertising, pendapatan Alphabet juga termasuk dari lini bisnis Google Cloud dan layanan Google lainnya. Pada periode ini, keduanya mencetak pendapatan senilai 13,6 miliar dollar AS atau setara Rp 193,8 triliun.

Perincian pendapatan induk Google untuk kuartal IV-2021 bisa disimak selengkapnya melalui tautan berikut ini.

Untung di tengah gugatan hukum

Rapor hijau Alphabet kali ini dicapai justru di tengah berbagai gugatan hukum yang tengah dihadapi perusahaan.

Menurut laporan outlet media Cnet, Alphabet sendiri setidaknya sedang menghadapi pengawasan peraturan dan sejumlah tuntutan hukum yang diajukan, baik dari jaksa agung federal maupun negara bagian AS.

Musababnya ialah perusahaan raksasa teknologi yang berbasis di Mountain View, California, AS, ini dianggap menggunakan kekuatannya untuk memonopoli dan mematikan persaingan di pasar.

Baca juga: Mengenal Alphabet, Induk Google yang Dipimpin Sundar Pichai

Saat ini, regulator dan jaksa dilaporkan sedang menyelidiki praktik bisnis dari segala produk bikinan Google, mulai dari toko aplikasi Google Play Store hingga sistem operasi (OS) Android yang disebut-sebut merupakan OS ponsel paling dominan di dunia.

Departemen Kehakiman AS juga menuduh Google memblokir mesin pencarian pesaing untuk menjadi opsi pencarian default di ponsel yang menjalankan OS Android.

Alphabet juga dilaporkan menghadapi dua tuntutan hukum lain yang diajukan oleh kelompok jaksa agung negara bagian AS. Google telah membantah tuduhan dalam gugatan tersebut, sebagaimana dihimpun dari Cnet.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber The Verge
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.