Kompas.com - 16/03/2022, 15:01 WIB

KOMPAS.com - Nilesen mengumumkan laporan tahunan terkait belanja iklan di media untuk tahun 2021.

Dalam laporan tersebut terungkap, belanja iklan di semua media yang dimonitori Nielsen (televisi, channel digital, media cetak, radio) tercatat tembus Rp 259 triliun sepanjang 2021 berdasarkan perhitungan gross rate card.

Angka itu mewakili pertumbuhan 13 persen dari tahun sebelumnya.

Untuk tahun 2021, televisi tercatat masih menjadi saluran iklan nomor satu favorit brand. Hal ini terbukti dengan jumlah belanja iklan televisi yang empat lima kali lipat lebih besar dibanding jumlah belanja iklan di channel digital.

Baca juga: Induk Google Cuan berkat Moncernya Bisnis Iklan

Data Nielsen mengungkapkan, jumlah belanja iklan televisi mencapai 78,2 persen dari total belanja iklan di 2021, atau setara Rp 202,5 triliun.

"Televisi masih menjadi saluran iklan utama karena sifatnya yang dapat menjangkau audiens lebih banyak dalam waktu bersamaan," kata Direktur Eksekutif Nielsen Indonesia Hellen Katherina.

Belanja digital naik 67 persen

Adapun saluran digital masih menjadi saluran iklan favorit nomor dua dengan jumlah belanja iklan mencapai 15,9 persen dari total belanja iklan di 2021. Jika dihitung angka tersebut setara Rp 41,18 triliun.

Tanpa mengungkap angka untuk perbandingan, Hellen mengungkapkan bahwa belanja iklan digital mengalami peningkatan, dibanding tahun 2020.

"Kemudahan customisasi channel digital membuat belanja iklannya juga turut beranjak naik. Peningkatan ini menandakan bahwa kepercayaan untuk beriklan di tengah pandemi masih tinggi,” kata Hellen dalam keterangan tertulis yang diterima KompasTekno, Rabu (16/3/2022).

Untuk kategori iklan, Nielsen melihat pertumbuhan positif pada 9 dari 10 kategori, yaitu:
online services, facial care, hair care, coffee and tea, snacks, clove cigarettes, seasonal condiments, liquid milk, dan instant food and noodles.

Di mana pertumbuhan tertinggi dicatat oleh kategori online services (layanan online) dengan belanja iklan mencapai Rp 42,8 triliun, meningkat 67 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, belanja iklan di media cetak hanya sebesar 5,5 persen (sekitar Rp 1,42 triliun) dan radio hanya 0,4 persen (sekitar Rp 1,03 triliun).

Baca juga: Tidak Ada Iklan, WhatsApp Dapat Uang dari Mana?

Nielsen mulai pantau iklan di medsos

Mulai 2022 ini, Nielsen juga memantau belanja iklan di media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.

Menurut Nielsen, ada temuan menarik antara belanja iklan di channel media sosial dan bukan media sosial. Hal ini karena beberapa kategori memiliki strategi belanja iklan yang berbeda.

Misalnya pada channel media sosial, kategori financial institution, banking, e-channel, retailers, dan software companies tercatat memiliki angka belanja iklan yang lebih besar.

Sedangkan kategori facial care, beverages (carbonated, liquid milk, dan health drink) dan rokok mencatatakan belanja iklan yang lebih besar di saluran media non-medsos.

Sementara online service dan telco adalah kategori yang memiliki belanja iklan paling besar di keduanya, baik saluran media sosial maupun non-media sosial.

Namun, Nielsen tidak mengungkap angka belanja iklan untuk masing-masing kategori itu di saluran media sosial. Hellen mengatakan bahwa ada lebih dari 300.000 iklan kreatif yang tayang dalam tiga media sosial tersebut, selama bulan Desember 2021 saja.

"Ini menggambarkan seberapa cair dan pentingnya kreatif iklan di digital,” kata Hellen.

Baca juga: Pendapatan YouTube Lampaui Netflix berkat Iklan

Nielsen sendiri baru pada 2022 ini ikut memantau belanja iklan di media sosial melalui layanan Nielsen Digital Ad Interl.

Sebelumnya, Digital Ad Intel yang merupakan layanan pengukuran belanja iklan Nielsen, hanya memantau belanja iklan di Top 200 situs di Indonesia, termasuk 27 channel Youtube dengan trafik yang tinggi.

Baru, sejak Januari 2022, Nielsen menambah tipe media digital yang dimonitor dengan mulai memantau biaya iklan di media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.

Ke depannya, Nielsen juga akan memonitor belanja iklan di saluran Google Engine Ads, Snapchat, bahkan TikTok.

"Dengan memperluas cakupan, kami yakin Nielsen bisa memberikan sejauh apa tolak ukur efektivitas iklan digital yang lebih komprehensif dan sesuai dengan kondisi pasar sebenarnya,” kata Hellen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.