Moch S. Hendrowijono
Pengamat Telekomunikasi

Mantan wartawan Kompas yang mengikuti perkembangan dunia transportasi dan telekomunikasi.

kolom

Tidak Mudah Membangun BTS di Papua

Kompas.com - 18/04/2022, 20:01 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Orang negeri jiran pernah menyombong bahwa tidak ada sejengkal tanah pun di negeri mereka yang tidak ada layanan telekomunikasi, bahkan kini sudah merambah ke 5G, generasi terbaru GSM seluler. Mereka tidak pernah punya kendala dalam membangun jaringan seluler sampai ke pelosok, sampai ke desa paling luar.

Sementara Indonesia, hingga saat ini masih banyak kawasan penduduk yang tidak pernah terjangkau telekomunikasi, jangankan 5G atau 4G, generasi kedua (2G) saja belum pernah mereka rasakan. Sangat beda kondisi geografis Indonesia dengan hampir semua negara di dunia, karena Indonesia punya 17.000 pulau, dan dari 272 juta penduduk, masih ada sekitar 26,5 juta yang belum pernah tersambung ke jaringan telekomunikasi.

Tidak mudah dan tidak murah untuk menyambungkan kawasan-kawasan yang disebut sebagai kawasan 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) karena kendala geografi tadi, bukan hanya karena pulaunya yang banyak. Papua yang daratannya seluas lebih dari Pulau Jawa ditambah Sulawesi dan Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Teggara Timur pun, buminya tidak mudah ditapaki.

Sangat banyak kendala di Pulau Papua, selain juga sebagian Maluku dan NTT, yang penuh dengan hutan, bukit dan ngarai, tidak ada jalan bahkan jalan setapak, yang menghubungkan antardesa. Ini menjadi tantangan karena hampir 10 persen penduduk Indonesia tadi berhak akan layanan telekomunikasi sebagaimana saudara mereka di luar kawasan 3T.

Operator seluler boleh bangga bahwa mereka sudah merambah ke semua desa yang jumlahnya 78.000-an, tetapi dari jumlah itu hanya sedikit desa di 3T yang mereka layani. Apalagi operator yang hingga kini masih belum melirik kebutuhan 26,5 juta penduduk tadi, karena alasan pertimbangan bisnis.

Tetap tidak kebagian

Di luar kawasan 3T, operator mampu membangun infrastruktur seluler yang namanya radio BTS (base transceiver station), yang umumnya ditaruh di puncak menara, tidak sampai 3 hari. Bahan bangunan berupa material baja untuk menara sangat mudah didapat, membawanya ke site pun tinggal menyewa truk.

BTS dan sarana pendukung berupa catu listrik, tinggal menyambung ke jaringan PLN, atau menggunakan solar sel (tenaga surya), terpenuhi nyaris tanpa masalah. Semua tersedia dan terpasang dengan cepat.

Membangun BTS di Pulau Jawa, misalnya, tiap desa bisa hanya satu atau dua BTS, dan ekonomis karena kepadatan penduduk yang dlayani BTS cukup tinggi. Di Papua membangun satu BTS untuk satu desa tidak pernah cukup, sebab kawasan desa bisa terdiri dari beberapa titik permukiman yang dibatasi hutan lebat, jurang, ngarai dan laut.

Selalu jadi pengambilan keputusan yang rumit menentukan satu titik pembangunan BTS, karena titik-titik permukiman di desa itu semua berharap BTS dibangun di kawasan permukiman mereka. Karenanya di kebanyakan kawasan 3T hadirnya BTS tidak pernah memenuhi kebutuhan, selalu saja ada titik permukiman yang masih jadi blank spot, titik yang belum terlayani.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.