Moch S. Hendrowijono
Pengamat Telekomunikasi

Mantan wartawan Kompas yang mengikuti perkembangan dunia transportasi dan telekomunikasi.

kolom

Tidak Mudah Membangun BTS di Papua

Kompas.com - 18/04/2022, 20:01 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Jangankan kampung-kampung yang terpisah-pisah, penduduk yang beruntung diliput satu BTS pun, masih belum tentu mendapat kenikmatan berselancar di layanan digital. Kapasitas yang tersedia untuk tiap BTS, yang rata-rata baru 1,5 Giga per hari ketika satelit Satria 1 nanti sudah beroperasi, karena kendala cakupan, baru bisa dinikmati mereka yang berada di sekitar BTS.

Umumnya cakupan satu BTS 4G yang ditaruh di menara setinggi 32 meter hanyalah radius 3 kilometer dengan syarat tidak ada yang menghalagi, datarannya rata, tidak berbukit atau hutan. Padahal jarak antar-kampung di Papua, misalnya, walau kurang dari 3 kilometer tetapi terhadang bukit dan hutan, sementara 1,5 GB itu akan habis oleh beberapa puluh orang yang beruntung berada di sekitar BTS. Penduduk lainnya tidak kebagian.

Kerbau dan helikopter

Di kawasan 3T di Papua, sebagian Kalimantan, NTT dan Maluku, kendala geografi membuat pembangunan BTS sangat sulit sehingga biayanya mahal. Material BTS, baik berupa menara tiga kaki atau tiang guey mast dibawa dengan dipikul manusia, menggunakan tenaga kerbau, atau dengan helikopter.

Terutama di Papua, kendala tidak akan selesai begitu BTS terbangun. Tingkat keamanan yang rawan dan oknum-oknum kriminal acap membakar BTS, pekerjanya dibunuh.

Namun demikian, semangat lembaga yang ditugasi membangun daerah 3T, Bakti (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tidak pernah luntur. Puluhan ribu BTS dibangun, ribuan kilometer serat optik digelar dan akses satelit pun, lewat satelit HTS Satria 1, dibangun. Satelit HTS (high throughput satellite) Satria 1 akan mengudara pada semester kedua 2023 dengan kapasitas 150 GB, melayani sekitar 150.000 titik di kawasan 3T.

Kendala merebaknya Covid-19 menghambat proses pembangunan karena banyak petugas yang terpapar, perusakan oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab juga menjadi penyebab kelambatan. Kendala tadi menyebabkan pembangunan BTS menjadi terhambat, namun Kementerian Keuangan berkenan memberi toleransi kelambatan sampai 90 hari.

Semula Bakti mentapkan target pembangunan sebanyak 7.904 BTS selama 10 tahun, dan target bisa dipercepat menjadi dua tahun saja, tahun 2021 dan 2022. Dari target tahun 2021 sebanyak 4.200 lokasi, sudah selesai 1.900 site dan tahun 2022 akan dilanjutkan tahap kedua dengan membangun BTS 4G di 3.704 lokasi.

Bakti juga bekerja sama dengan dua operator seluler, Telkomsel dan XL Axiata untuk membangun BTS di kawasan 3T dan non-3T, sebanyak 9.113 BTS. Telkomsel memenangkan tender untuk 7.772 BTS, yang hingga Maret lalu sudah merampungkan 2.750 BTS.

Dalam program ini, Bakti membangun prasarana dasar berupa site, menara dan catu daya, sementara operator memasang BTS-nya. Semua dibangun dengan koneksi VSAT (very small aperture terminal) dan teresterial (jaringan serat optik atau gelombang mikro. ***

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.