Kompas.com - 21/04/2022, 16:44 WIB

KOMPAS.com - AppCensus, organisasi yang sering mengaudit aplikasi seluler untuk privasi dan keamanan pengguna, merilis daftar 11 aplikasi mobile mengandung malware yang bisa mencuri data pengguna.

Adapun data pengguna yang dicuri meliputi nomor ponsel, alamat e-mail, nomor IMEI, data GPS, dan lainnya.

Dari daftar 11 aplikasi tersebut, empat di antaranya merupakan aplikasi yang dibuat untuk pengguna umat Islam sebagai penunjang ibadah, seperti aplikasi penunjuk arah kiblat, penanda waktu shalat/azan, dan aplikasi Al Quran.

Baca juga: Indonesia Hadapi 1,6 Miliar Serangan Siber dalam Setahun, Ini Malware Terbanyak

Berikut daftar lengkap 11 aplikasi yang diduga mencuri data penggunanya, sebagaimana dihimpun dari Instagram @siberpoldametrojaya.

  1. Speed Camera Radar telah diunggah 10 juta pengguna.
  2. Al-Moazin Lite (Prayer Times) telah diunggah 10 juta pengguna.
  3. WiFi Mouse (remote control PC) telah diunggah 10 juta pengguna.
  4. QR & Barcode Scanner telah diunggah 5 juta pengguna.
  5. Qibla Compass – Ramadan 2022 telah diunggah 5 juta pengguna.
  6. Simple Weather & Clock Widget telah diunggah 1 juta pengguna.
  7. Handcent Next SMS-Text w/MMS telah diunggah 1 juta pengguna.
  8. Smart Kit 360 telah diunggah 1 juta pengguna.
  9. Al Quran MP3 – 50 Reciters & Translation Audio telah diunggah 1 juta pengguna.
  10. Full Quran MP3 – 50+ Language & Translation Audio telah diunggah 1 juta pengguna.
  11. Audiosdroid Audio Studio DAW telah diunggah 11 juta pengguna.

Tanggapan Kominfo

Juru bicara kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Dedy Permadi mengonfirmasi kepada KompasTekno bahwa, benar kesebelas daftar aplikasi di atas diduga memproses data pribadi pengguna tanpa izin.

Menurut Dedy, saat ini, Kominfo masih mempelajari dugaan pemrosesan data pribadi secara tanpa hak yang dilakukan oleh beberapa aplikasi di Google Play Store.

Baca juga: Hati-hati, Malware Rusia Ini Bisa Rekam Percakapan Pengguna Android

"Koordinasi lebih lanjut dengan pihak Polda Metro Jaya akan dilakukan terkait upaya dan langkah-langkah berikutnya yang akan diambil sesuai ketentuan yang berlaku," kata Dedy.

Di samping itu, Dedy mengatakan bahwa Google, selaku pemilik toko aplikasi Play Store, telah mengambil tindakan terhadap 11 aplikasi yang diduga melakukan pemrosesan data penggunanya secara tanpa hak.

"Aplikasi tersebut diwajibkan untuk menghapus fitur pengambilan data pengguna, jika ingin dapat kembali diakses oleh penggunanya di Google Play Store," kata Dedy.

Pantauan KompasTekno, Kamis (21/4/2022) sore, mayoritas aplikasi terduga pencurian data pengguna di atas masih bisa ditemukan dan diunduh di Play Store.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.