Kompas.com - 26/04/2022, 13:40 WIB

KOMPAS.com - Elon Musk resmi membeli Twitter seharga 44 miliar dollar AS atau sekitar Rp 634 triliun. Angka ini sesuai dengan harga penawaran Musk yang diajukan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) pada Maret lalu.

Kala itu, orang terkaya dunia (versi Forbes) tersebut sesumbar akan "melawan" bot spam Twitter kalau penawarannya dikabulkan.

"Apabila penawaran kami ke Twitter berhasil, kami akan memerangi bot spam," tulis Musk melalui akun Twitternya dengan handle @elonmusk.

Baca juga: Resmi, Elon Musk Beli Twitter Rp 634 Triliun

Dalam utas postingan yang sama, Musk juga mengatakan bahwa nantinya, Twitter akan memastikan bahwa semua pengguna Twitter, benar-benar manusia, bukan bot yang "ngetwit" otomatis.

Bot sendiri adalah akun Twitter yang dikelola software dan diprogram dapat mereplikasi tugas pengguna Twitter, termasuk untuk menyukai postingan hingga berkomentar secara otomatis.

Biasanya, akun bot Twitter bertujuan untuk meningkatkan engagement suatu akun atau topik tertentu, hingga memperluas basis pengguna. Tidak jarang, akun bot juga sengaja "diternak" untuk menggiring suatu isu hingga menjadi trending teratas (trending topic).

Seperti kebanyakan pengguna Twitter, Musk, yang juga cukup aktif di platform mikroblogging itu, ikut geram dengan populasi akun bot di Twitter.

Baca juga: Twitter Pikir Lagi Tawaran Akuisisi dari Elon Musk

Dalam beberapa kesempatan, Musk mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap akun bot, salah satunya saat ia menyatakan keprihatinan tentang bot kripto yang memposting twit penipuan untuk menipu investor. Untuk itu ia bertekad memerangi akun bot di situs mikroblogging tersebut. 

"Prioritas utama saya adalah menghilangkan bot spam dan pasukan bot di Twitter," kata Elon Musk dalam sebuah talkshow Ted Talk dikutip KompasTekno dari Economic Times, Selasa (26/4/2022).

Meski berjanji memerangi akun bot di Twitter, belum diketahui bagaimana cara Musk menangkal akun spam tersebut.

Di sisi lain, Twitter sudah berupaya meminimalisasi akun bot melalui beberapa cara. Salah satunya dengan memberikan tanda khusus pada akun bot, sehingga semua pengguna akan menyadari jika suatu twit diposting oleh akun spam tersebut.

Baca juga: Akun Bot Resmi di Twitter Punya Label Khusus

Dengan demikian, orang-orang bisa mempertimbangkan apakah akan menaggapi postingan dari akun bot seperti menyukai, me-retweet, atau hanya membiarkannya berlalu dari linimasa.

Twitter jadi perusahaan privat

Setelah dibeli Elon Musk, Twitter akan menjadi perusahaan privat, bukan lagi perusahaan publik yang melantai di bursa saham AS. Para pemegang saham akan menerima 54,20 dollar AS (sekitar Rp 750.000) secara tunai untuk setiap lembar saham Twitter yang mereka miliki.

Angka tersebut sesuai dengan penawaran yang diajukan Musk dan merupakan 38 persen dari premi harga penutupan saham Twitter pada 1 April, hari perdagangan terakhir sebelum Musk mengungkap kepemilikan sahamnya di Twitter awal bulan lalu.

"Dewan Twitter melakukan proses yang bijaksana dan komprehensif untuk menilai pengajuan Elon yang berfokus pada nilai, kepastian, dan pembiayaan," kata Dewan Twitter, Bret Taylor, dirangkum dari NBC News.

Baca juga: Telat Lapor Saham, Elon Musk Digugat Investor Twitter

"Transaksi yang diajukan akan memberikan premi tunai yang substansial dan kami percaya bahwa ini adalah jalan terbaik ke depan bagi pemegang saham Twitter," imbuhnya.

Sementara itu, Musk mengatakan bahwa Twitter memiliki potensi yang luar biasa. Dirinya berharap bisa bekerja sama dengan perusahaan barunya dan para pengguna Twitter.

"Kebebasan berbicara adalah pondasi fungsi demokrasi, Twitter adalah pusat kota digital, di mana hal-hal penting bagi masa depan umat manusia, diperdebatkan di sini," kata pria yang merupakan eksekutif di Tesla dan SpaceX itu.

Baca juga: Elon Musk Tertarik Beli Twitter Rp 618 Triliun

Namun, kesepakatan ini menunggu persetujuan dari pemegang saham dan regulator dan ditargetkan rampung akhir tahun ini.

Untuk manajemen internal, saat ini Twitter masih akan dipimpin oleh Parag Agrawal yang baru menduduki posisi sebagai CEO per November 2021 lalu, menggantikan Jack Dorsey.

Dalam sebuah acara pertemuan virtual dengan para karyawan, Agrawal menegaskan dirinya masih akan menjabat sebagai CEO Twitter, sebagaimana dihimpun dari The Verge.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.