Kompas.com - 20/05/2022, 06:48 WIB

KOMPAS.com - Akuisisi Twitter oleh CEO Tesla, Elon Musk saat ini ditangguhkan karena akurasi data terkait jumlah akun spam Twitter yang masih diragukan.

Belum lama ini Musk bahkan mengeklaim kalau jumlah akun spam Twitter sekitar 20 persen, empat kali lipat dibanding jumlah yang diklaim Twitter, yaitu sekitar 5 persen.

Terlepas dari ditundanya proses tersebut, Musk menyatakan berkomitmen untuk tetap membeli Twitter dan akan melanjutkan prosesnya setelah jumlah akun spam lebih jelas.

Atas tindakan Musk tersebut, dewan Twitter merilis pernyataan yang meminta Musk menghormati perjanjian merger.

"Dewan dan Musk menyetujui transaksi dengan harga 54,20 per lembar saham. Kami percaya perjanjian ini untuk kepentingan terbaik bagi semua pemegang saham. Kami bermaksud untuk menutup transaksi dan menegakkan perjanjian merger," demikian pernyataan dewan Twitter dikutip KompasTekno dari Gizmodo, Jumat (20/5/2022).

Baca juga: Apa itu Akun Bot atau Spam yang Bikin Elon Musk Tunda Beli Twitter?

Menurut CNN Business, kata "menegakkan perjanjian" dalam pernyataan itu menyiratkan bahwa Twitter siap menuntut Musk dan mendesaknya menindaklanjuti akuisisi. Sebab, jika Musk tidak melanjutkan perjanjian, dia harus membayar biaya penalti senilai 1 miliar dolar AS atau setara Rp 14,6 triliun.

Agar Musk melanjutkan akuisisi, dewan Twitter juga merekomendasikan para pemegang saham memberikan suara yang menunjukkan dukungan merger.

Dalam dokumen proxy kepada Komisi Sekuritas dan Bursa (Securities and Exchange Commission/SEC) AS, dewan Twitter pun mengatakan pihaknya bertekad untuk menyelesaikan kesepakatan "secepat mungkin".

Akun spam tak bisa jadi alasan

Menurut Ann Lipton, pengacara sekuritas dan dekan di Tulane University Law School, Musk tidak bisa menggunakan kekhawatirannya akan jumlah akun spam sebagai bahan negosiasi dengan Twitter. Alasan tersebut juga tidak bisa dimanfaatkan untuk membatalkan akuisisi Twitter.

Baca juga: Elon Musk Ancam Tak Lanjutkan Akuisisi Twitter Gara-gara Akun Bot dan Spam

"Secara kontrak, jumlah pengguna tidak akan menjadi dasar untuk mundur, bahkan jika Musk membayar biaya jeda (akuisisi). Kecuali, jika mungkin perhitungan tersebut berdampak parah pada keuangan Twitter, meskipun tampaknya tidak terjadi," kata Lipton.

Adapun jika Musk memilih untuk tidak melanjutkan dan akhirnya membatalkan akuisisi, profesor hukum Cornell, Charles Whitehead berkata adanya kekhawatiran terkait reputasi Musk di masa depan.

Utamanya ketika Musk melakukan kesepakatan untuk Tesla dan perusahaan lainnya di bawah kepemimpinannya.

"Jika dia meninggalkan kesepakatan ini, mungkin akan lebih sulit baginya di masa depan untuk mencapai kesepakatan untuk Tesla atau atas namanya sendiri,: ujar Whitehead dikutip dari Financial Times.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.