Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Moch S. Hendrowijono
Pengamat Telekomunikasi

Mantan wartawan Kompas yang mengikuti perkembangan dunia transportasi dan telekomunikasi.

kolom

Industri Telekomunikasi Stagnan: Kolaborasi atau Mati

Kompas.com - 15/06/2022, 12:31 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Tahun 1914, DuPont, perusahaan industri kimia yang usianya kala itu sudah lebih dari 17 tahun tiba-tiba menginvestasikan sebagian keuangannya kepada perusahaan industri otomotif, General Motors (GM). Padahal usia GM baru enam tahun.

Bukan tanpa alasan DuPont yang bermarkas di Dellaware Amerika membuat keputusan tersebut. Di satu sisi, pertumbuhan pasar otomotif sedang maju pesat. Di sisi lain, DuPont juga memasuki industri otomotif lewat produk-produknya seperti cat, kulit sintetis,sampai plastik.

DuPont maju pesat dan masih perkasa sampai sekarang, menyentuh beberapa material berbasis kimiawi seperti serat kevlar, styrofoam, nomex, tyvex yang kian tinggi pasarnya. Tahun 2020, pendapatan DuPont masih lebih dari 20 ribu miliar dolar.

Bagaimanapun, strategi investasi menjadi hal lumrah bagi perusahaan besar. Mereka dituntut bertahan secara finansial, tidak terjebak pada hanya mengembangkan pasar eksisnya.

Kerajaan produk kecantikan L’Oreal memiliki BOLD (Business Opportunity L’Oreal Development) yang adalah lembaga venture. BOLD menjaring start up yang terkait seluruh mata rantai dengan bisnis utamanya, Johnson&Johnson, Siemens AG, Intel, Tenzen, dan banyak lagi. Sampai 2017 saja sudah tercatat tak kurang dari 1.000 perusahaan besar membuka investasi untuk usaha rintisan.

Pada industri telekomunikasi, pasar eksis sudah nyaris tidak tumbuh. Jika sebuah perusahaan telekomunikasi masih menawarkan layanan jaringan dan solusinya, secara tidak langsung mereka sebenarnya tengah melakukan survival game.

Tidak diketahui, sampai kapan situasi ini akan berlangsung. Jika tidak secepatnya keluar dari pertarungan konvensional yang sudah terukur keuntungannya (atau bahkan kerugiannya), cepat atau lambat habis di tengah jalan.

Relevan dengan bisnis induk

Situasi seperti ini sudah diendus oleh NTT DoCoMo, operator telekomunikasi terbesar di Jepang. Mereka segera berekspansi dengan mengguyurkan investasi sejak 2008.
NTT DoCoMo Ventures kini memayungi ratusan usaha rintisan. Prinsip kerja bisnis modal ventura ini adalah investasi, kolaborasi dan inkubasi, dan investasi DoCoMo bernilai 3-4 juta dolar ke setiap mereka.

Hal sama juga dilakukan oleh China Mobile sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di China yang menggelontorkan miliaran dolar. Terakhir, Desember 2021, China Mobile Venture membidik perusahaan pemroduksi baterai untuk kendaraan di China dengan kucuran 890 juta dolar.

Perusahaan telekomunikasi melakukan penjajakan yang relevan dengan bisnis induknya. Sebuah studi yang dilaporkan Science Direct tentang fenomena korporasi besar menjadi venture mencatat ada empat tujuan.

Di antaranya peningkatan teknologi dan produktivitas, pertumbuhan ekonomi yang cepat ditunjukkan oleh perusahaan rintisan, dan intensitas pengembangan bisnis yang cepat. Faktor terakhir adalah kepentingan nasional khususnya bagi startup yang dianggap sebagai aset.

Mengacu pada tujuan itu, mustahil perusahaan telekomunikasi hanya mengutamakan faktor capital gain (keuntungan berupa uang) semata. Perusahaan modal ventura memiliki rencana lebih panjang dibanding sekadar mendapatkan dividen setiap tahun.

Upaya yang dilakukan oleh Telkomsel sebagai anak perusahaan PT Telkom menginvestasikan 450 juta dolar pada November 2020 merujuk pada minimal empat tujuan tersebut.

Telkomsel adalah perusahaan telekomunikasi yang harus melakukan pemutakhiran teknologi dan yang paling produktif adalah di sektor digital, tempat GoTo ada berada dengan segala layanannya. Produktivitas GoTo sangat mengandalkan akses internet agar seluruh produk teknologi digitalnya berjalan optimal.

Dua setengah juta mitra

Dalam strategi perusahaan, Telkomsel menggagas ekosistem digital sebagai semangat baru. Bahkan lalu berkembang hingga “melahirkan” anak perusahaan PT TED (Telkomsel Ekonomi Digital) yang akan banyak berperan dalam pengembangan bisnis masa depan berbasis digital.

Kementerian Keuangan RI melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi digital Indonesia pada 2021 adalah tertinggi di Asia Tenggara. Nilai ekonominya mencapai 70 miliar dolar, seribu triliun rupiah lebih dan menurut Lembaga Demografi FEB UI, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia mencapai 60 persen.

GoTo berjalan di sektor ekonomi digital. GoTo memberikan kontribusi cukup besar terutama dalam hal layanan transportasi, konsumsi maupun perdagangan.

Sementara pertumbuhan ekonomi digital dipilih pemerintah sebagai salah satu tulang punggung ekonomi nasional. GoJek dan Tokopedia sudah jadi perusahaan pemimpin yang mengakomodir pelaku industri, UMKM hingga perusahaan besar, dipertemukan dengan para pemangku kepentingannya.

Pengembangan bisnis yang dilakukan oleh Telkomsel terutama yang berkaitan dengan bisnis utamanya ada di alamiahnya GoTo. GoJek punya 2,5 juta mitra pengemudi yang potensial sebagai pengguna, baru maupun lama, bagi Telkomsel, yang menghabiskan paket data Rp 75.000-an setiap bulan. Artinya pengeluaran ARPU setiap pengemudi jauh lebih besar di atas rata-rata ARPU pengguna umum.

Belum termasuk mitra GoFood yang konon punya lebih dari sejuta pengusaha kuliner yang terus bergerak naik seiring ekspansi yang dilakukan di berbagai kota di Indonesia. Semua ekosistem GoTo tersambung akses internet yang disediakan oleh perusahaan telekomunikasi, dan pastinya Telkomsel memperoleh manfaat yang sangat besar dari hal mendekati stake holder GoTo.

Dari sisi pengguna, layanan transportasi atau kuliner, sudah pasti terhubung ke nomor-nomor yang disediakan Telkomsel dan tingginya trafik buka peluang integrasi berbagai aplikasi kelolaan PT TED ke ekosistem yang dibangun GoTo. Sejumlah aplikasi seperti MyAds misalnya memiliki proses bisnis yang melibatkan pihak ketiga.

Investasi yang dilakukan perusahaan besar bisa menjadi permainan strategis menuju kesepakatan yang lebih besar, yang merupakan cara mengurangi risiko akuisisi. Pada konsep akuisisi, tanggung jawab perusahaan pengambil cukup besar dan memiliki risiko lebih banyak.

DNA yang sama

Cara berpikir seperti ini membuat perusahaan asing kepincut mengguyurkan modal kepada GoTo (bahkan sebelum merger) dan lebih dari 15 perusahaan asing sudah menanamkan modal. Sementara baru Astra Internasional dan Global Digital Niaga (GDN) dari Kelompok Djarum yang berasal dari Indonesia, tak sebanding untuk mereka yang sudah ekspansi ke Asteng.

Kehadiran Telkomsel dalam konteks kepentingan nasional seperti yang diungkapkan Science Direct adalah langkah paling tepat. Terlebih bila dikaitkan dengan DNA keduanya yang sama-sama memiliki ratusan juta pengguna dan sama-sama pula menjalankan bisnisnya melalui digital.

Perusahaan rintisan menghadirkan jalan baru dari yang selama ini tidak tersentuh perusahaan besar. Di samping peluang pertumbuhan, investasi mereka juga memberi bisnis akses ke talenta baru.

Richard Branson, pemilik Virgin mengatakan, “Bisnis-bisnis ini tidak hanya berpotensi menjadi sumber lapangan kerja, inovasi, dan produktivitas yang vital bagi perekonomian. Juga jadi contoh cemerlang bagi generasi muda bahwa kreativitas, semangat, dan kerja keras dapat mengubah dunia menjadi lebih baik.”

Tidak ada yang menyangsikan sepak terjang GoTo. Valuasinya pada 2021 mencapai 32 miliar dolar.

Telkom melalui Telkomsel, anak perusahaannya yang paling sehat, harus melakukan upaya strategi investasi untuk meneruskan keberlangsungan bisnisnya. Dan, tak kalah pentingnya investasi tersebut mengucur ke mantan perusahaan rintisan yang jadi kebanggaan untuk kebangkitan ekonomi Indonesia.

Jangan sampai ceritanya menjadi seperti Eastman Kodak, raksasa industri fotografi yang tewas mengenaskan. Menolak teknologi digital masa depan fotografi, bahkan banyak “drama” di dalamnya, hingga akhirnya tahun 2012 dinyatakan bangkrut.

Sementara kala itu Instagram, startup dengan aplikasi sharing konten foto sedang naik daun. Di tahun yang sama ketika Kodak bangkrut, Facebook membeli Instagram dengan nilai 1 miliar dolar, Rp 14,5 triliun. ***

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com