Moch S. Hendrowijono
Pengamat Telekomunikasi

Mantan wartawan Kompas yang mengikuti perkembangan dunia transportasi dan telekomunikasi.

kolom

Kekebalan Telekomunikasi Hadapi Resesi

Kompas.com - 25/07/2022, 13:01 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva yakin perekonomian Indonesia dalam kondisi baik, tidak akan kena resesi. Pertumbuhan sebesar 5,01 persen pada triwulan 1 (T1) 2022, neraca perdagangan surplus selama 26 bulan, inflasi per Juni 2022 sebesar 4,35 persen secara tahunan (YoY – year on year), jadi alasan penilaiannya.

Kena resesi atau tidak, kondisi ekonomi dunia saat ini sangat mengkhawatirkan, dan salah langkah sedikit atau terimbas resesi China, atau Amerika Serikat yang risiko resesinya 40 persen, Indonesia bisa ikut kolaps. Tengok survei Bloomberg 6 Juli lalu, walau jauh panggang dari api terhadap kemungkinan resesi karena Indonesia masuk nomor 14 dan 15 negara.

Catatan Bloomberg, rata-rata potensi resesi negara Asia Tenggara adalah 10 persen, tetapi kawasan Asia Timur dua kali lebih tinggi termasuk China, Jepang, Hongkong, Korea Selatan. SrI Lanka tertinggi dengan 85 persen berpotensi terdampak resesi, Jepang dan Korea Selatan sama, 25 persen, lalu Hongkong, China, Australia, Taiwan dan Pakistan sama: 20 persen, Malaysia 13 persen, Filipina 8 persen dan Indonesia 3 persen, ditutup India dengan 0 persen.

Alasan Bloomberg sudah jadi rahasia umum, pandemi Covid-19 ditambah gejolak ekonomi global akibat serangan Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari 2022. Perang membuat rantai pasok pangan (gandum dan sebagainya) serta energi (BBM, gas) terputus yang berdampak naik tingginya harga BBM dan produk pertanian.

Resesi parah pernah terjadi di Indonesia pada 1997 – 1998, ketika pertumbuhan ekonomi minus 13 persen, inflasi 88 persen, cadangan devisa 17 miliar dollar AS. Bisnis para pengusaha besar, kata Menteri Investasi Bahlil Lahadala pekan lalu runtuh, yang hidup dan berkembang justru UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah).

Indonesia tiga tahun tidak impor beras tetapi seretnya pasokan hasil pertanian berdampak buruk, melambungnya harga BBM membuat sektor angkutan, terutama angkutan udara terpuruk lagi. Namun secara keseluruhan, ada denyut ekonomi yang menggeliat, tumbuh dari bawah didukung keberadaan UMKM.

Catatan Kementerian Koperasi dan UKM, pada 2021 jumlah UMKM 64,19 juta, partisipasinya terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 61,97 persen atau senilai Rp 8,6 triliun. UMKM ikut memperbaiki ekonomi Indonesia dengan menyerap 97 persen persen tenaga kerja dan mengintegrasikan investasi sebesar 60,4 persen.

Digitalisasi UMKM

Tetapi ekonomi tidak berdaya tanpa digitalisasi yang menjadi unsur utama industri 4.0, baik itu UMKM, perbankan, perdagangan, transportasi. Dan domain digitalisasi ada di industri telekomunikasi, bukan di perbankan walau uangnya punya bank, bukan di perdagangan walau logistiknya punya para saudagar.

Kerja sama dengan UMKM, telekomunikasi membuat ekonomi tumbuh baik, meski catatan menyebutkan baru 12 juta dari 64,19 juta UMKM yang menikmati digitalisasi.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.