Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WhatsApp Terancam Keluar dari Inggris, Apa Sebabnya?

Kompas.com - 10/05/2023, 12:30 WIB

KOMPAS.com - WhatsApp terancam hengkang dari Inggris. Musababnya karena rancangan regulasi keamanan layanan digital di Inggris berlawanan dengan prinsip perusahaan.

Rancangan undang-undang (RUU) keamanan digital yang sudah disusun selama empat tahun lebih menyebutkan bahwa perusahaan media sosial harus memasang teknologi penangkal konten terorisme hingga pelecehan seksual anak.

Adapun mandat tersebut nantinya dikendalikan oleh lembaga regulasi penyiaran Inggris, Ofcom.

Apabila perusahaan terkait menolak mematuhi syarat itu, maka mereka bakal dikenakan denda hingga 10 persen dari pendapatan globalnya.

Syarat itu berlawanan dengan prinsip WhatsApp yang menjaga keamanan data pengguna dengan memasang enkripsi end-to-end (E2EE). Teknologi ini membuat pesan antar pengguna disusun dalam kode tertentu sehingga tidak dapat dibaca dengan mudah.

Baca juga: Apa Itu Enkripsi WhatsApp dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Apabila WhatsApp mematuhi regulasi keamanan digital Inggris tersebut, maka pihaknya setuju untuk membaca pesan atau konten yang dikirimkan antar-pengguna.

Pihak WhatsApp sendiri sejauh ini menolak syarat itu karena dinilai akan membahayakan privasi pengguna. Suara yang sama juga digemakan oleh platform digital lainnya termasuk Signal dan Youtube.

"RUU itu tidak memberikan perlindungan eksplisit untuk enkripsi," kata asosiasi penyedia layanan digital termasuk WhatsApp dan Signal, dikutip KompasTekno dari The Guardian, Rabu (10/5/2023).

"Jika tetap diterapkan, aturan itu bisa membuat Ofcom berupaya memaksa untuk membaca pesan pribadi pada layanan yang terenkripsi, sehingga menghilangkan tujuan enkripsi end-to-end dan membahayakan privasi pengguna," lanjut pernyataan itu.

Ilustrasi cara cek status BPJS Kesehatan aktif atau tidak.Freepik Ilustrasi cara cek status BPJS Kesehatan aktif atau tidak.

Tak hanya menolak, WhatsApp juga seolah tak keberatan hengkang dari Inggris, apalagi jumlah pengguna aplikasinya di negara itu hanya sekitar 2 persen dari total pengguna global.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com