Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Qualcomm dan Intel Tak Bisa Lagi Jual Chip ke Huawei

Kompas.com - Diperbarui 12/05/2024, 06:36 WIB
Galuh Putri Riyanto,
Wahyunanda Kusuma Pertiwi

Tim Redaksi

Sumber GSM Arena

KOMPAS.com - Dua perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat (AS), Qualcomm dan Intel tidak bisa lagi jual chip ke Huawei, raksasa teknologi asal China, mulai pekan ini.

Musababnya, Departemen Perdagangan AS telah mencabut izin tertentu untuk ekspor chip ke Huawei dengan alasan keamanan nasional.

“Kami terus menilai bagaimana pengendalian kami dapat melindungi keamanan nasional dan kepentingan kebijakan luar negeri kami dengan sebaik-baiknya, dengan mempertimbangkan lingkungan ancaman dan lanskap teknologi yang terus berubah,” kata juru bicara Departemen Perdagangan AS dalam sebuah pernyataan.

Ketua Komite Urusan Luar Negeri DPR AS Michael McCaul membenarkan keputusan pemerintah tersebut dalam sebuah wawancara pada hari Selasa. McCaul mengatakan langkah ini adalah kunci untuk mencegah China mengembangkan kecerdasan buatan yang canggih.

Baca juga: Terungkap, Teknologi Rahasia Chip Huawei Mate 60 Pro yang Bikin Amerika Meradang

Di-blacklist sejak 2019

ilustrasi Huawei userbusinessinsider.com ilustrasi Huawei user
Huawei dimasukkan ke dalam "entity list" alias daftar hitam perdagangan AS pada tahun 2019. Hal ini menyebabkan perusahaan-perusahaan AS dilarang menjual teknologi, termasuk chip 5G, kepada Huawei.

Alasannya karena masalah keamanan nasional. Pemerintah AS khawatir bahwa Huawei dapat memata-matai orang Amerika lewat deretan produk bikinannya.

Pada tahun 2020, AS memperketat pembatasan chip terhadap Huawei, dengan mengharuskan produsen asing yang menggunakan peralatan pembuat chip dari Amerika untuk mendapatkan lisensi terlebih dahulu, sebelum dapat menjual chip semikonduktor ke Huawei.

Qualcomm dan Intel mendapatkan lisensi untuk memasok chip ke Huawei sejak 2020. Dalam kasus Qualcomm, produsen chip Snapdragon ini hanya diperbolehkan menjual chip 4G lama ke Huawei. 

Baca juga: Ini Performa Kirin 9000S, Chip di HP Huawei Mate 60 Pro yang Bikin AS Ketar Ketir

Jadi, ponsel dan tablet Huawei tidak bisa ditenagai chipset 4G terbaru dan chipset 5G mumpuni dari Qualcomm.

Nah, lisensi ekspor chip terbatas inilah yang kini dicabut oleh Departemen Perdagangan AS. Dengan kata lain, kini, Qualcomm dan Intel tampaknya sama sekali tidak bisa memberikan pasokan chip ke Huawei.

Qualcomm, Intel, dan Huawei belum memberikan tanggapan resminya. Keadaan masih terus berkembang, sehingga mungkin berubah dalam beberapa waktu ke depan.

Kementerian luar negeri China buka suara soal pencabutan lisensi ekspor dengan mengatakan bahwa "China dengan tegas menentang Amerika Serikat yang terlalu memaksakan konsep keamanan nasional dan menyalahgunakan kontrol ekspor untuk menekan perusahaan China tanpa pembenaran".

Chip Kirin 9000 dipermasalahkan

Huawei Mate 60 Pro Plus nyaman digenggam meski dimensinya cukup besar dengan luas layar 6,8 inci. Keempat sisi Mate 60 Pro Plus memiliki bentuk membulat. HP ini yang membuat pemerintah AS marah karena chipsetnya, Kirin 9000S, dianggap menggunakan teknologi terlarang.
KOMPAS.com/Yudha Pratomo Huawei Mate 60 Pro Plus nyaman digenggam meski dimensinya cukup besar dengan luas layar 6,8 inci. Keempat sisi Mate 60 Pro Plus memiliki bentuk membulat. HP ini yang membuat pemerintah AS marah karena chipsetnya, Kirin 9000S, dianggap menggunakan teknologi terlarang.
Menurut laporan GSMArena, Huawei masih membayar Qualcomm untuk melisensikan portofolio teknologi 5G miliknya. Ini merupakan bagian dari kesepakatan paten yang akan berakhir pada tahun fiskal Qualcomm di 2025.

Tidak jelas apakah kesepakatan tersebut, sebagian digunakan untuk mengembangkan chip Kirin terbaru Huawei untuk smartphone atau tidak.

Huawei mendirikan HiSilicon pada 2004, yang fokus dalam pembuatan chipset Kirin. Chip tersebut sebagian besar digunakan oleh Huawei pada perangkat kelas menengah dan atas Huawei dan sub-mereknya, Honor, semenjak masuk daftar entity list AS.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com