Salah Kaprah, Internet Indonesia Lamban - Kompas.com

Salah Kaprah, Internet Indonesia Lamban

Kompas.com - 15/02/2012, 18:33 WIB

Induo/sxc.huilustrasi

JAKARTA,KOMPAS.com — Indonesia dianggap salah kaprah dalam menerapkan broadband internet. Akibatnya, koneksi internet terasa lambat.

Hal itu mencuat dalam diskusi yang digelar Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) di Hotel InterContinental, Jakarta, Rabu (15/2/2012).

"Sekitar 95 persen koneksi internet di Tanah Air masih memakai koneksi wireless, sisanya memakai kabel. Indonesia itu salah kaprah," kata Chairman Mastel Setyanto P Santosa.

Menurutnya, teknologi wireless itu didesain untuk low traffic. Namun, di Indonesia, koneksi itu malah digunakan untuk traffic tinggi. Akibatnya, koneksi internet di Indonesia terkesan lambat.

Padahal, kata Setyanto, sebagai negara berkembang, justru koneksi fixed broadband yang harus diperbesar, bukan malah koneksi wireless.

Mastel mendesak pemerintah untuk segera membangun jaringan fixed broadband, baik yang berbasis kabel maupun serat optik, untuk koneksi internet di Tanah Air.

Setyanto menjelaskan, selama ini pemerintah terkesan lepas tangan dalam membangun infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Semua kesannya diserahkan kepada operator dan swasta.

Dengan fixed broadband, koneksi internet akan jauh lebih cepat dan lebih stabil dibandingkan dengan wireless broadband.

Jumlah pengguna internet bergerak (mobile) di Indonesia pada 2010 sekitar 39,6 juta pengguna. Diperkirakan pada 2015, jumlah pengguna internet bergerak di Tanah Air akan mencapai 145,2 juta pengguna.

Sementara pengguna satuan sambungan telepon (SST) atau fixed line pada saat ini hanya tidak lebih dari 15 juta pengguna.

Skema yang bisa diterapkan

Seharusnya, Indonesia juga mencontoh Australia yang telah membangun jaringan fixed broadband untuk warganya.

Konsep yang ditawarkan Negeri Kanguru itu menyerahkan segala pembangunan fixed broadband kepada semacam badan usaha milik daerah (BUMD).

Cara yang sama juga telah diterapkan di Perancis. Negara tersebut memakai pola pendanaan dari public private partnership (PPP).

Di Indonesia, PPP tidak diterapkan di industri telekomunikasi. Adanya justru di industri listrik.

"Padahal, kalau mau gampang, seharusnya tinggal copy paste saja dari PPP listrik itu. Saya sudah koar-koar 4-5 tahun lalu, tetapi tidak ada yang menggubris," katanya.

Untuk bisa membangun fixed broadband tersebut, pemerintah bisa mendapatkan dana dari ICT Fund. Walau dana ICT Fund tersebut berasal dari uang operator yang dititipkan kepada pemerintah.

Setyanto mengaku, perpaduan dana dari pihak pemerintah dan swasta ini bisa digunakan untuk membangun fixed broadband agar koneksi internet di masyarakat bisa terjaga.

"Komposisi pendanaannya tidak harus berbagi rata dengan pemerintah dan operator. Namun, kalau operator itu kuat, dia bisa membangunnya sendiri," tuturnya.

Kenapa harus "fixed broadband"?

Jaringan fixed broadband diyakini akan memberikan kecepatan dan kestabilan koneksi internet lebih baik dibandingkan dengan jaringan wireless.

Oleh karena itu, pembangunan fixed broadband dinilai lebih penting. Terutama mengingat kondisi geografis Indonesia dengan ribuan pulau.

"Tapi yang lebih penting adalah industri konten akan tumbuh, seperti game dan musik yang menggunakan koneksi internet," kata Setyanto.

Saat ini, koneksi internet cenderung menjadi kebutuhan masyarakat. Masyarakat juga mengakses konten hiburan yang memerlukan kecepatan dan kestabilan koneksi internet.

Senior Consultant ICT Practice Frost & Sullivan, Iwan Rachmat, menambahkan, perkembangan fixed broadband akan menambah lalu lintas e-commerce di Tanah Air.

"Ke depan industri e-commerce akan tumbuh signifikan, tetapi syaratnya harus didukung oleh koneksi internet yang cepat dan stabil," ungkap Iwan.

Para operator pun akan menggenjot pembangunan infrastrukturnya, terutama fixed broadband, karena tertarik oleh pengguna pasar data yang semakin besar.

 

EditorWicaksono Surya Hidayat

Terkini Lainnya

Telkomsel Ditetapkan Sebagai Pemenang Lelang Frekuensi 2,3 GHz

Telkomsel Ditetapkan Sebagai Pemenang Lelang Frekuensi 2,3 GHz

e-Business
Yuk, Jelajahi Planet Mars dari PC atau Gadget

Yuk, Jelajahi Planet Mars dari PC atau Gadget

Internet
Xiaomi Redmi Note 5 Ikut Tren Layar 18:9?

Xiaomi Redmi Note 5 Ikut Tren Layar 18:9?

Gadget
iPhone X Dorong Pertumbuhan Industri Smartphone

iPhone X Dorong Pertumbuhan Industri Smartphone

e-Business
XL Luncurkan Kartu Prabayar Xtra Fun

XL Luncurkan Kartu Prabayar Xtra Fun

e-Business
Fitur Baru ShareIt Permudah Transfer File dari dan ke Smartphone

Fitur Baru ShareIt Permudah Transfer File dari dan ke Smartphone

Software
Facebook Uji Fitur Langganan Berita

Facebook Uji Fitur Langganan Berita

Internet
Pesawat 'Widebody' Generasi Baru A330neo Terbang Perdana

Pesawat "Widebody" Generasi Baru A330neo Terbang Perdana

Hardware
Pokemon Go Kedatangan Monster Hantu di Perayaan Halloween

Pokemon Go Kedatangan Monster Hantu di Perayaan Halloween

Software
Begini Cara Diet Petinggi Facebook

Begini Cara Diet Petinggi Facebook

e-Business
Perkembangan Robot Manusia dari Masa ke Masa

Perkembangan Robot Manusia dari Masa ke Masa

Hardware
Adobe Perkenalkan Aplikasi Edit Foto Lightroom CC Berbasis Cloud

Adobe Perkenalkan Aplikasi Edit Foto Lightroom CC Berbasis Cloud

Software
Samsung Galaxy Note 8 Bakal Dibekali Teknologi AR Google

Samsung Galaxy Note 8 Bakal Dibekali Teknologi AR Google

Software
Penjualan iPhone 8 Lesu, Saham Apple Turun

Penjualan iPhone 8 Lesu, Saham Apple Turun

Gadget
Uber Bangun Kota untuk Uji Mobil Tanpa Sopir

Uber Bangun Kota untuk Uji Mobil Tanpa Sopir

e-Business
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM